Rinjani dan Brownies untuk Ayah

Gagal lagi.
Rinjani memandangi tumpukan bahan pembuat kue. Terigu, gula, telur. Hasilnya adalah bolu tanpa rasa. Bantet tak mengembang.
“Kapan Ayah datang, Bu?” tanyanya penuh harap.
“Dua hari lagi.”
Rinjani menahan air matanya. Ayah akan datang. Ia sudah berjanji jika Ayah datang setelah bertugas setahun di tempat lain, ia akan belajar menjadi gadis yang bisa melakukan banyak hal. Iya banyak hal. Agar Ayah tidak pergi lagi.

“Kamu mau buat apa?”
Rinjani menunjuk gambar yang terbuka dari telepon genggamnya.
“Semuanya sudah jelas di sini,” ujar Ibu.
“Iya, tapi aku enggak ngerti. Ibu tahu hasilnya, kan?”
Ibu mengangguk. “Mau Ibu bantu?”
Rinjani melotot. “Ibu mau?” tanyanya tidak percaya. Sejak Ayah tugas setahun, Ibu bahkan sudah tidak sempat masuk dapur, karena kesibukannya. Makanan yang tersedia untuk Rinjani di rumah dari katering yang Ibu pesan. Kadang Rinjani tidak suka rasanya.

“Ayo kita buat sama-sama.”
Rinjani mengikuti perintah Ibu.
Lima butir telur ayam. Bukan telur yang ada di dalam kulkas. Karena telur yang dingin akan membuat adonan susah mengembang. Rinjani ke warung untuk membeli yang baru.
Gula pasir seukuran gelas belimbing lebihkan sedikit. Ibu memberi tahu gelas belimbing yang dimaksud. Gelas yang bagian bawahnya berlekuk seperti buah belimbing. Ibu juga menunjukkan gelas lain. Ibu bilang boleh memakai gelas lain juga. Ukuran sedang.
Rinjani juga diminta mengambil tbm. Ibu bilang ada ovalet, tbm juga sp. Fungsinya hampir sama, warnanya kuning muda.

Rinjani diminta menyiapkan mikser. Lima butir telur Rinjani pecahkan. Satu gelas gula Rinjani masukkan. Tambahkan tbm seujung gagang sendok.
Ketiga bahan itu dicampur dan dimikser.
“Biarkan sampai mengembang dan berwarna putih kental.”
Rinjani memandangi. Mikser yang berputar. Seperti ketika ia diajak Ayah memutar tubuhnya. Sampai ia berteriak “Pusing, Ayaaaah.” Lalu Ayah tertawa.
“Sudah kental,” ujar Ibu.
Rinjani melihat Ibu mengambil sendok. “Tandanya ketika adonan ini diambil sedikit, lalu dituang kembali, adonan akan membentuk seperti jambul. Ini disebut jambul petruk atau kental berjejak.”
“Ibu kok tahu?”
Ibu tertawa. “Ibu mantan pernah punya toko kue,”ujar Ibu.

“Masukkan apa lagi?” tanya Rinjani.
Ibu menunjuk ke sebuah mangkuk.
Tadi Rinjani diminta Ibu untuk mengambil satu gelas lebih sedikit tepung terigu. Dua sendok tepung jagung maizena. Satu sachet susu bubuk putih dan vanila.
“”Kamu masukkan dan campur pakai spatula. Aduk terbalik.”
Rinjani sungguh tidak mengerti. Ibu memberi contoh. Campuran bahan di mangkuk Ibu masukkan ke adonan yang tadi dimikser.Masukkan sedikit ke dalam adonan, lalu aduk dengna tekhnik seperti membalik. Bukan diaduk acak. Lakukan itu sampai semua bahan habis.
Coklat bubuk Rinjani tuangkan. Dua sendok makan. Ditambah pasta coklat, setengah sendok teh saja.

“Belum selesai. Kamu lupa?” Ibu melihat ke arah kompor.”
Ya ampun, Rinjani lupa. Tadi coklat blok sudah Rinjani potong kecil-kecil. Kemudian dicampur dengan mentega dan minyak goreng.
Rinjani ingat ukuran coklat bloknya kira-kira saja. Ibu hanya membagi tiga coklat blok ukuran balok, lalu digunakan satu bagian saja. Mentega Ibu pakai seperapat dari ukuran 200 gram, ditambah minyak goreng enam sendok makan.
Semua bahan itu tadi Rinjani tim.
Rinjani harus memasak air lebih dahulu. Lalu coklat, mentega dan minyak Rinjani taruh di wadah kecil, dan letakkan di atas air yang dimasak sampai mendidih, hingga semuanya mencair.
Ketiga bahan itu yang Rinjani masukkan, sampur dengan adonan.

“Sudah selesai?”
Ibu menggeleng. Sebuah loyang Ibu ambil. Rinjani harus mengolesinya dengan mentega sampai rata.Rinajni menggunakan kuas untuk itu. Setelah itu masih harus ditaburi tepung terigu merata. Ibu bilang itu agar adonan kue tidak menempel nantinya.

Ibu lalu mengambil kukusan.
Adonan yang sudah tercampur Ibu tuang ke dalam loyang, yang sudah dioles mentega dan tepung terigu.
“Kok tidak semua?” tanya Rinjani ketika melihat Ibu hanya menuang separuh adonan saja.
Ibu hanya diam.
Kukusan sudah mendidih. Loyang itu ditaruh. Ditutup dengan panci yang sudah dibungkus kain.
“Bungkus kain ini fungsinya agar uap air tidak jauh ke dalam kue, dan membuat kue jadi tidak rata.”
Rinjani mengerti.
“Lima belas menit, ya.”
Rinjani mengangguk.
Setelah lima belas menit, Ibu membuka panci. Mengambil loyang. Kuenya sudah jadi.
“Ambil coklat mesis. Taburi di atasnya.”
Rinjani mengikuti. Mengambil coklat, menaburi di atas adonan kue yang terlihat sudah matang.
Setelah itu Ibu memasukkan sisa adonan ke atas taburan mesis.
“Tunggu sampai matang,”ujar Ibu.

Rinjani menunggu. Rinjani membyangkan. Ayah yang akan datang lalu berkata,” kamu anak hebat.”
Aroma kue sudah tercium.
Wangi menusuk hidung Rinjani.
Di kompor yang lain Ibu mengajari Rinjani cara membuat lapisan coklat. Tepung maizena dua sendok makan, dicampur dengan potongan coklat blok dan susu bubuk yang sudah dicairkan. Ibu bilang itu untuk olesan di atas kue.
Rinjani juga diajari memarut keju. Satu arah saja ketika memarut. Kejunya jadi cantik hasilnya.

Semua sudah selesai.
Kue sudah matang. Ibu tadi mengeceknya dengan menusuknya dengan garpu.
Ibu mengambil piring besar untuk membalik adonan itu. Benar, adonan tidak menempel. Lalu Ibu membalik lagi.
“Kamu bisa menghiasnya.”
Rinjani suka.
Ia menghiasnya.

Sekarang semuanya sudah siap. Ayah akan pulang. Lalu akan memeluk Rinjani dan berkata, Ayah tidak akan pergi lagi.
Tapi sampai tengah malam, Ayah belum datang juga.
“Nak…,” Ibu mendekat ke luar dari dalam kamarnya. Tubuhnya terbungkus jaket. Mata Ibu sembab. “Ayahmu sudah tidak akan datang lagi.”
“Kenapa?” tanya Rinjani.
“Sebab sudah ada perempuan lain yang lebih pintar mengambil hatinya.”
Rinjani tidak mengerti. Bahkan ketika Ibu memeluknya erat-erat.
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak pernah memberi tahu kalau kami sudah lama berpisah. Maafkan.”
Rinjani diam.
Rinjani termangu.