Mengenang Khoir Murid Pemulung Pertama

Ramadhan writing programme 1439 H
Bengkel Cinta Literasi

Hari : ke 8

Tulisan ini saya tulis dalam proyek Ramadhan di group Bengkel Cinta Literasi

Namanya Khoir. Saya lupa nama lengkapnya.Khoir teman anak sulung saya ketika SD, di sebuah SD kampung di kabupaten Bekasi.
“Khoir belum bisa baca, Bu,” lapor anak saya ketika itu. “Buku tulisnya kosong terus.”
Kedua orangtua Khoir seorang pemulung. Ada beberapa anak pemulung lainnya, tapi Khoir untuk saya istimewa. Karena orangtunya tidak tahu cara mendidik Khoir yang anak tunggal.
“Khoir mau main ke rumah setiap sore?” Suatu hari saya dekati Khoir. “Khoir nanti belajar baca. Di rumah banyak buku cerita.”
Kedua bola mata Khoir bersinar. “Khoir bilang Emak dulu,” katanya. Pipinya bulat semakin bulat karena senyumnya yang lebar.

Sampai seminggu Khoir tidak juga datang. Saya kembali ke sekolah.
“Emak enggak mau anter,” katanya.
“Enggak apa-apa, nanti kasih tahu Emak, lesnya enggak bayar. Kasih tahu Emak, ya.”
Khoir mengangguk.
Esoknya saya ditunggu emaknya Khoir. Seorang perempuan sederhana. “Anaknya bilang mau les. Saya enggak percaya, Bu. Lagian siapa yang nganter?”
“Dianter terus tinggal, ya.” Saya menjelaskan segala macam bayangan masa depan pada emaknya Khoir. Emaknya hanya mengangguk saja. Dan tidak mengantar juga.

Setiap kali bertemu dengan saya seolah menghindar. Pernah saya bertemu di jalan, lalu saya panggil dengan berteriak karena ibunya Khoir ada di pinggir jalan yang lain. “Anter Khoir,” ujar saya.
Saya seperti orang ngotot dan memaksa. Tapi ini demi memutus mata rantai. Orangtua Khoir tidak tahu caranya mendidik anak mereka. Jangan sampai Khoir menjadi pemulung juga, karena tidak melihat masa depan yang lain.

Sampai akhirnya saya Khoir diantar ke sekolah oleh neneknya yang biasa dipanggil Nyai. Pada Nyai saya meminta Khoir untuk diantar ke rumah untuk belajar baca tulis.
“Khoir mah enggak pintar,” kata emaknya yang akhirnya mengantar Khoir ke rumah.
Ternyata Khoir mampu belajar. Pelan tapi pasti.
Setiap kali datang, dia selalu berpakaian rapi. “Khoir keren,” kata saya. Dan Khoir akan tersipu mendengarnya.
Sampai akhirnya Khoir tidak pernah datang lagi.
“Mama Attaaaar, aku habis sakit panas terus step,” katanya. “Emak enggak bisa anter. Emak kan mulung.” Dia bicara waktu saya mengantar anak ke sekolah.
“Enggak apa-apa, Khoir datang terus, ya. Minta antar Nyai.”

Sekali dua kali Khoir muncul. Lalu menghilang. Sudah hampir bisa membaca dan menulis. Sudah ingin sekali membawa pulang buku-buku yang saya tunjukkan padanya.
Tapi Khoir tidak pernah muncul lagi. Sampai sulung saya naik kelas, naik kelas hingga sebuah cerita meluncur dari mulut sulung saya.
“Khoir udah berhenti sekolah, Bu.”
Perih hati saya mendengar kalimat itu. Lebih perih lagi ketika anak saya menlanjutkan.
“Ibu tahu, enggak. Khoir sekarang jadi tukang ngamen. Aku tahu ngamennya di mana.”
Saya mencari. Menunggunya. Bertemu dengan Khoir. Tubuhnya sudah tinggi. Rambut kemerahan.
“Khoiiiir. Kenapa?” tanya saya.
Khoir menunduk malu lalu berlari cepat.

Besoknya saya bertemu lagi. Tapi Khoir lalu bicara kepada teman yang lain,” kabuuuur.”
Setiap kali bertemu dia akan langsung berlari. Tidak sempat saya duduk bersamanya untuk bicara masa depan agar dia tidak menjadi pemulung seperti kedua orangtuanya.
Sekarang anak sulung saya sudah SMA. Khoir entah kemana. Taman bacaan yang saya kelola di rumah juga sudah tumbuh dan banyak peminatnya. Sudah menjadi sanggar Sabtu dan Minggu, yang anak-anak bisa belajar apa saja. Termasuk belajar menulis, mendongeng juga membuat kerajinan.
Ramadhan ini saya kembali ingat Khoir. Ingin melihat sosok remaja Khoir. Ingin ia lewat di depan rumah dan saya katakana,” ayo, Khoir. Belajar baca lagi.”
Ada banyak Khoir lain. Makna Iqra (bacalah) sebagai ayat pertama yang diajarkan Jibril pada Rasulullah sering dilupakan para muslim.