Mendidik Anak Menjadi Penulis

“Bu, aku mau menjadi penulis seperti Ibu,” kata anak gadis yang sudah bisa menulis dan membaca ketika usia tiga tahun. Saya sendiri yang mengajarkan. Karena dua anak terbiasa saya bacakan buku sejak dalam kandungan maka proses belajar membaca menjadi mudah sekali.

“Bu aku juga mau punya buku.”
Saya mengangguk. Prosesnya untuk orang lain mungkin mudah. Ah, ibunya penulis. Maka bisa poles sana poles sini. Tapi sayangnya saya model Ibu yang tega. Saya tidak ingin anak instant untuk menulis lalu bangga menepuk dada, ini karyaku. Padahal karyanya masih mentah dan ibunya yang memoles di sana sini. Saya tidak mau seperti itu.
Saya ingin dia berproses panjaaang sekali.

Dari satu media cetak ke media cetak lain saya kirimkan tulisannya.
Dari satu lomba lain juga sama. Dan ini anak kerjanya super keras. Ketika karya kakaknya yang dibuat semenit dua menit langsung tembus media. Dia harus berjuang sekuat tenaga karena menerima penolakan.
Hingga akhirnya saat itu tiba.
Saat dimana kemenangan lomba untuknya tiba.
Saya ingat ia mengikuti lomba di sebuah penerbit anak dan kalah berkali-kali Sampai akhirnya saya pompa semangatnya lagi untuk ikut lomba lagi. Naskah terkirim.
Lalu suatu hari dia mengambil piala milik saya dan bilang. “Ibu foto aku pakai piala ini. Aku juga mau dapat piala.”

Alhamdulillah beberapa hari kemudian dia menang lomba menulis. Girangnya setengah mati. Apalagi naskahnya itu akan dibukukan.
Lalu lomba ini dan itu saya ikutkan.
Sampai akhirnya dari sekolah mendapatk kepercayaan untuk terus mewakili sekolah dalam lomba menulis cerpen. Dan dua tahun berturut-turut membawa pulang piala untuk sekolah.
“Ibu sayangnya piala aku ditaruh di sekolah. Coba dibawa pulang. Bisa saingan sama piala Ibu.”

Hidupnya terus berproses.
Saya bahagia. Dia semangat mengikuti lomba menulis. Bahkan lomba film pendek dari sekolah. Menjadi sutradara. Film pendeknya meraih juara pada kompetisi sekolah.

Minggu kemarin saya tawarkan lomba lagi untuknya.
Tidak menjadi pemenang pertama. Tapi menjadi pemenang favorit pilihan juri, karena karyanya kontensnya mengisnpirasi.

Jalannya masih sungguh panjang. Saya akan terus mendukungnya dan menjadi penguatnya.