South Lake, Tempat Pikniknya Penduduk Babelan

Saya harus sampai rumah secepatnya.
Itu yang ada di benak saya sepanjang perjalanan di kereta. Kereta dari Solo berangkat jam enam sore pas. Sampai Bekasi diprediksi jam tiga pagi. Alarm sudah saya pasang, takut kalau-kalau saya tidak terbangun ketika kereta sampai stasiun Bekasi.
Alhamdulillah jam dua lebih, di kursi belakang saya ada alarm suara ayam jago yang berbunyi. Sipemilik tidak terbangun. Padahal suara alarm itu keras sekali, sehingga beberapa kursi terganggu. Termasuk saya. Tapi saya terganggu dengan rasa syukur. Dibangunkan oleh alarm orang. Mata tiba-tiba terasa segar, dan saya matikan alarm saya, agar nanti jika berbunyi tidak mengganggu seperti alarm orang di bangku belakang saya.

Saya harus cepat sampai rumah.
Mata masih mengantuk. Bayangan bahwa jam delapan nanti ada kegiatan ibu-ibu di sekitar rumah. Mobil di rumah dipakai untuk tempat makanan dan untuk mengangkut yang lain, yang tidak membawa kendaraan. Ada tiga mobil yang disediakan. Di samping itu, saya belum beli air minum untuk keperluan piknik, plus untuk lomba anak-anak yang diserahkan ke saya, saya belum siap apa-apa, selain kertas yang saya printer dengan gambar.

Jam tiga sampai Bekasi.
Niatnya selonjoran di kursi panjang. Tapi kereta malam datang silih berganti. Dan semua kursi terpakai orang yang tiduran di sana. Mau ke musholla untuk tidur. Duh, musholla stasiun Bekasi juga sudah dipenuhi orang. Lagipula masa saya tidur di musholla?

Saya putuskan ke luar sambil menghitung waktu.
Perjalanan ke rumah dari stasiun setengah jam. Kalau saya menunggu suami jemput, suami akan menjemput setelah pulang dari masjid untuk shalat subuh. Itu artinya sampai rumah saya jam enam. Itu artinyaaaa….
Saya membayangkan tubuh yang lunglai sepanjang acara nanti. Saya membayangkan dada yang sesak karena kurang tidur. Saya membayangkan banyak hal.
Hingga saya putuskan ke luar dari stasiun. Menunggu setengah jam.
Jam empat kurang biasanya suami sudah bangun untuk mandi dan tahajud. Itu artinya jika saya mengetuk pintu, dan menelepon, akan cepat dibuka pintunya. Itu artinya saya punya banyak waktu untuk istirahat.
Jreng jreng, keluarlah nekad saya. Panggil tukang ojek, minta antar sampai rumah.
Sambil berdoa, maaf ya Allah, saya boncengan sama yang bukan mahram. Tapi ini darurat agar acara rihlah alias piknik ibu-ibu berjalan lancar dan semua senang.
Sehabis subuh saya tidur sampai jam setengah tujuh. Alhamdulillah badan segar. Langsung keluarkan motor cari air mineral dua box untuk keperluan.

Here I am

Piknik diundur jam setengah sembilan. Satu mobil sudah berangkat jam delapan pas. Tukang masak bilang, masakan baru siap jam setengah sembilan.
Oke tiga mobil menunggu. Satu mobil lainnya sudah bergerak.
Masakan dimasukkan ke dalam bagasi. Ada tiga mobil, jadi dibagi ketiga bagasi.
Saya bawa suami dan anak bungsu. Mereka berdua juga belum pernah piknik ke sana. Pernah lewat tapi tidak begitu sadar, di situ ada tempat piknik.
Murah meriah, masuknya 40 ribu. Tapi dengan kartu yang dijual bebas, harga tiket masuk bisa didiskon menjadi 20 ribu saja.

Ada apa di South Lake?
Ada banyak macam sarana. Tempatnya kecil tapi buat saya tidak masalah. Pertama-tama, banyak tempat selfong alias selfie di sana.
Begitu masuk buat beli tiket, bisa selfie di caravan yang dijadikan tempat menaruh banyak foto. Ada jalan yang dilapisi kaca juga di caravan itu. Dan saya yang awalnya pingin berfoto di sana, jadi takut melihat lapisan kaca. Takut kalau saya berdiri di situ, malah ambles.

.
Ini caravannya.

Kami masuk.
Gelar tikar.
Acara pun dimulai. Pembukaan sudah, hafalan sudah, baca doa sudah. Gelar daun untuk makan. Para suami, bapak-bapak yang mau repot mendampingi anak dan istrinya digelari tikar juga dan dapat nasi box. Thanks to my husband yang siap sedia ngikutin maunya istri.

Lomba pun dimulai.
Lomba mewarnai gambaaar.

Karena waktu terbatas. Anak-anak sudah ribut mau main ini main itu. Mana tempat kami menggelar tikar tidak jauh dari perosotan, ayunan dan lain sebagainya. Plus bebek-bebekan. Maka jadilah lomba dipercepat.
Hasil lomba mewarnai gambar saya serahkan pada tetangga, sedang saya memandu lomba lari dan lomba mendongeng. Awalnya mau lomba sambung ayat juz 30. Eh pada ribut karena mereka masing-masing beda pencapaian hafalannya. Okelah gurunya ngalah saja demi anak-anak.

Ini loh pemenang lomba dan bebekan yang membuat anak-anak gak konsen lagi buat makan juga ikutan lomba.

Ayo Kita Melayaaaaang

Flying fox. “Ayo Mama Bilqis. Ikutan. Ituuu, ibu-ibu aja banyak.”
Duh anak-anak bikin panas. Mereka antri.
Tiket diskon dari 40 ribu jadi 20 ribu itu bisa untuk naik bermacam permainan yang ada di sana. Termasuk flying fox.
Anak gadis saya duluan mencoba. Saya melihat dari kejauhan bagaimana ia menarik napas panjang lalu mengembuskan, seperti ingin menghimpun kekuatan. Saya kok jadi ngeri, ya. Membayangkan usia yang sudah menua, dan kalau tiba-tiba jantung saya tidak kuat.

Okelah akhirnya saya keliling. Termasuk melihat poster tentara Inggris.

Ada banyak yang bisa dilihat di sana. Termasuk kandang berisi kelinci juga rusa. Ada danau yang besar. Ada boat yang bikin ibu-ibu yang naik teriak karena si pengemudi sengaja beratraksi.

.

Okelah.
Saya sudah panas.
Anak-anak setiap datang cuma tanya. “Mama Bilqis enggak mau ikutan ngerasain flying fox? Enak loh, kayak terbang rasanya.”
Saya panas.
Makan rujak dulu dan titip tas ke suami.

Lalu memberanikan diri. Fokus tidak melihat ke bawah. Masa saya yang dulu ikut PMR pernah bergelantungan di tingkat empat sekolahan, sampai manjat pohon mangga hingga ke ujung tertinggi, jadi takut ketinggian?
Eng ing eeeeengggg.

Para pekerjanya sopan-sopan. Ketika menghadapi ibu-ibu mereka cuma bilang, “Bu, bagian depan coba dikancingin.” Jadi bukan mereka yang melakukan.
Ketika sampai di atas, kaget saya. Diminta berdiri di kursi. Juga pegangan tali. Lalu tiba-tibaaaa, syuuur. Sudah meluncur saya ke bawah. Ya ampun rasanya enaaaaak sekali. Betul kata anak-anak seperti terbang.

Well, pengalaman seru.
Saya kepingin mengajak ponakan, dan anak sulung juga ke sana.
Kami harus pulang karena sudah sore. Letihnya hilaaaang berganti bahagia dan legaaa.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.