Pengalaman Seru di SDIT Nur Hidayah Surakarta

“Bu, kalau akhir bulan ini, Ibu diundang di sekolah untuk acara kepenulisan, gimana?”
Itu pesan yang saya terima persis ketika saya siap berangkat ke Bandung untuk acara dissabilitas.
Sebagai ibu rumah tangga, tentu izin dari suami harus saya kantongi. Apalagi jadwal yang disodorkan satu minggu setelah kepergian saya ke Bandung. Dan dua hari setelah itu saya masih harus memenuhi jadwal perpisahan pengajian dengan ibu-ibu tetangga.
Saya bilang, saya izin dulu pada suami. Jawaban baru bisa saya berikan beberapa hari setelahnya.

Sepulangnya dari Bandung saya tanyakan hal itu pada suami. Suami mengizinkan.
Kalau sudah mengizinkan itu artinya amanah harus dijaga. Meski pulang ke Solo adalah artinya ke rumah Ibu saya, taoi sebagai istri saya harus tahu aturannya. Acara akan diadakan pada hari Ahad. Saya pergi hari Jumat siang. Sabtu istirahat untuk menemani Ibu. Ahad saya bisa mengajar. Dan Seninnya saya pulang. Itu rencana yang saya sodorkan pada suami. Plus memenuhi isi kulkas dengan bahan makanan yang bisa diolah suami dan Bungsu. Alhamdulillah Bungsu sedang libur sekolahnya.

Sebelumnya saya hanya memberi tahu pada penyelenggara untuk tidak perlu meminta anak-anak membawa laptop. Mereka cukup bawa alat tulis saja. Kalau perlu membawa pensil warna.
Ketika ditanya soal file yang mungkin bisa diprint panitia, saya bilang tidak perlu. Karena seperti biasa ketika mengajar, saya akan mengajak anak-anak untuk meluaskan imajinasi mereka. Dengan cara apa? Dengan cara praktik langsung.

SDIT Nur Hidayah

Apa itu SDIT Nur Hidayah?
Saya kenal nama itu ketika saya memang lomba yang diadakan majalah terbitan sekolah tersebut, sebagai pemenang pertama lomba cerita pendek untuk anak.
Namanya semakin familiar ketika saya menjadi juri Konperensi Penulis Cilik Anak, dan murid-murid dari SDIT ini masuk sebagai finalis dan juga pemenang.
Karena itu ketika undangan datang, saya penasaran dan ingin menerimanya. Alhamdulillah suami mengizinkan.

Kereta dari Jakarta menuju Solo terlambat dua jam. Saya tiba di rumah pukul 12 malam lebih. Bersyukur keponakan mau menunggu dua jam di stasiun. Sampai rumah sudah mengantuk berat. Ibu terbangun dan kita ngobrol sedikit.
Paginya sehabis Subuh masih mengantuk dan lanjut tidur.
Kurang tidur bisa membuat saya tidak enak badan sepanjang hari. Karena itu cukup tidur menjadi penting untuk saya, agar aktivitas bisa lancar.
Masih bisa bolak-balik cari bahan untuk bikin kue. Saya janji bikinin ibu kue kering sagu keju dan roti untuk Ibu.

Alhamdulillah kue buatan sendiri, membuat Ibu dan para ponakan suka.

Pas Hari H

Hari H nya datang juga. Panitia menjemput saya. Dan saya sudah siap.
Datang ke sana jam sembilan lebih. Langsung mengajar. Anak-anak lesehan dan saya pun lesehan juga.
Langsung bergerak.

Iya, mengajar anak-anak selalu saya suka. Karena apa? Karena ketika mereka dilemparkan imajinasi, mereka tidak akan bertanya. Kok bisa? Bagaimana caranya? Dan lain sebagainya.
Mereka langsung menyambut dengan antusias.

Yeeeah saatnya beraksi.
Mulai berjalan dari ujung ke ujung. Mulai mengecek satu persatu naskah. Melihat mana yang sudah bisa menulis dan mana yang belum bisa menulis. Kedua kelompok itu dipisah agar saya lebih mudah membimbing mereka.
Seperti biasa mereka belajar mencari ide yang unik, ide yang bisa didapat dari mana saja. Plus saya beri tahu bahwa menulis itu bekalnya jangan hanya sekedar berkahayal. Harus mau berani riset.

Ada kisah lucu juga. Beberapa anak kelas satu ikut. Jadi saya mengajari mereka membaca juga. Mereka memanggil karena belum bisa menulis. Dan minta saya mengejakan apa yang ada di benak mereka untuk ditulis. Sesi seperti ini selalu ada setiap saya mengisi talk show untuk SD.

Setiap sesi ada bagi-bagi hadiah.
Sampai akhirnya dua jam selesai.
Panitia sudah mengingatkan untuk selesai. Saya suka lupa diri untuk terus bicara dan bicara. Karena energi anak-anak membuat energi saya seperti bertambah.
Acara bagi-bagi hadiah pun dimulai.
Plus sesi foto terakhir bersama murid dan guru.

Alhamdulillah semua lancar.