Lomba Surat untuk Dissabilitas

Awal Februari saya dapat pesan dari mbak Liza Permasih yang bertanya. Apakah saya mau menjadi juri menulis surat untuk dissabilitas? Lalu sebuah nama disebutkan. Teh Tini Djayadi, seorang difabel yang memang mumpuni di bidangnya.
Sebuat surat untuk dissabilitas. Untuk perempuan>
Saya tidak berpikir panjang dan akhirnya mengiyakan permintaan itu.

Dissabilitas itu sebuah dunia yang tidak saya kenal, tidak tersentuh oleh saya. Interaksi saya paling hanya sekedar nya saja. Pernah bertetangga dengan suami istri tuna netra. Pernah mengajar di sebuah kelas yang berisi beberapa anak ABK, tapi hanya mengajar sehari saja. Karena itu ketika mengiyakan saya hanya berpikir bahwa saya akan dapat ilmu banyak di sana.
Alhamdulillah sebulan kemudian teh Tini menghubungi saya. Sebulan itu kerjaan menulis buku sedang banyak-banyaknya. Dan pada saat itu juga saya harus membuat konsep, untuk mengajar eskul kelas menulis di sebuah sekolah di kota Bogor.

Surat-surat yang masuk dimulai di awal bulan Maret. Satu, dua surat paling banyak sepuluh surat, bisa saya sambi menulis. Saya buat catatan di buku tulis saya.
Awal-awal surat belum ada yang membuat hati saya tergetar.
Lalu semakin lama surat yang datang mencapai 300 surat dalam satu hari. Sehingga total ada 891 surat yang datang.
Dan surat-surat itu membuat saya harus kerja ekstra keras untuk teliti membacanya. Surat-surat itu yang membuat saya merasa terbuka luas semua cakrawala berpikir saya.
Ada sebuah dunia yang tidak saya kenal. Saya jadi berpikir tentang sebuah dunia dalam novel Haruki Murakami yang pernah saya baca IQ84. Sudut pandang saya berubah. Dissabilitas ada tidak untuk dikasihani. Mereka punya kelebihan dan support non dissabilitas untuk mereka sungguh diperlukan.

Surat-surat yang sangat menyentuh mulai bermunculan, hingga akhirnya saya dan dua teman yang lain, teh Tina Sulyati dan mbak Liza Permasih berhasil mrngambil 3 pemenang utama dan 18 pemenang pilihan dengan kriteria surat yang beragam, membangun, memberi pencerahan dan membuat orang yang membacanya mendapat manfaat.
Dan uniknya saat-saat terakhir itu cobaan justru datang. Anak Sulung saya menelepon dari pondok pesantren. Minta jemput karena sakit matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Seminggu sebelumnya saya sambangi hanya satu matanya yang terkena.
Sungguh membaca pengalaman para difabel dalam surat mereka, saya menjadi baper. Takut terjadi apa-apa dengan mata Sulung saya, hingga akhirnya suami di tengah deadline menjemputnya dan membawanya ke dokter. Dan anak Sulung pun harus dirawat di rumah.
Pada saat itu juga ada dua penerbit yang masing-masing memesan dua naskah buku. Dan saya harus membaca banyak rujukan untuk menuntaskannya.

Saya pikir selesai.
Tugas saya sebagai juri selesai. Sudah. Saya tidak punya tanggung jawab lagi. Saya kembali fokus dengan naskah buku. Anak Sulung sudah sembuh dan dikembalikan ke pondok.
Tapi ternyata kami para juri dapat kejutan dari penyelenggara lomba. Kami diajak datang untuk penyerahan hadiah, dan menginap di Cinnamon Boutique Syariah Hotel di kota Bandung, yang letaknya persis di sebelah terminal Ledeng.
Qadarallah, saat itu suami baru saja selesai deadline majalah dan anak Bungsu saya sedang libur sekolah. Sengaja saya minta antar suami dan anak, agar mereka punya pengalaman baru, seperti saya mengalaminya setelah membaca ratusan surat.

Cinnamon Hotel Syariah

Begitu masuk kamar rasanya sudah ingin tidur.
Pemilik hotel Cinnamon diperkenalkan pada saya oleh teh Tini. Masih muda dan bersahaja. Pak Iman namanya.
Pinginnya sih, saya tiduran langsung seperti anak dan suami. Maklum perjalanan Bekasi Bandung yang biasanya memakan waktu tempuh hanya dua jam. Kemarin itu memakan waktu 5 jam. Tol macet, Bandung macet bahkan banyak jalan yang satu arah. Hingga mobil kami diarahkan ke gang sempit yang naik turun dan menikuk tajam oleh panduan aplikasi google map.
Tapi saya sudah janji pada teh Tini untuk turun setelah zuhur ke lantai satu dari kamar di lantai tiga. Ingin meliput lomba yang ada di sana.

Ada lomba apa saja?
Pas saya datang ada lomba menyanyi. Solo dan group. Personalnya banyak yang tuna netra.Tapi luar biasaaa, suara mereka keren, penampilan keren. Bahkan sebagian besar adalah para mahasiswa dan mahasiswi. Ada juga personel yang memang non dissabilitas. Justru lomba dengan memadukan dua komponen itu membuat persaingan sehat terjadi. Yang dipilih adalah yang terbaik apakah dia dissabilitas atau non dissabilitas. Yang penting kualitas.

Apa yang saya rasakan ketika berada di tengah mereka para difabel? Ya Allah saya seperti bisa melihat dunia lain. Terbukalah semua pikiran sempit saya. Mereka para difabel memiliki dunia mereka. Bagaimana mereka yang tuna netra saling bercengkrama dan seperti seorang peserta lomba bilang, bahwa untuk mereka jatuh cinta bukan dari mata turun ke hati. Tapi dari telinga turun ke hati.
Lalu ketika mereka lewat, mereka saling memegang punggung teman-temannya untuk saling membantu.
Masya Allah.

Saya sempat ngobrol dengan Urba dan Risman. Keduanya adalah pemenang lomba nyanyi juara satu dan dua. Saya sempat menyaksikan penampilan Urba. Suaranya bukan saja keren tapi dia layaknya penyanyi panggung. Mereka ternyata dua orang sahabat yang memang selalu berkompetisi di lomba nyanyi. Biasanya Risman yang jadi pemenang pertama, begitu kata Urba.
Mereka mahasiswa, Urba bahkan mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Risman jurusan berbeda. Mereka keduanya tuna netra. Ketika saya tawarkan alternatif agar mereka bisa mencerahkan orang lain dan bermanfaat untuk orang lain, dengan memiliki channel di youtube, mereka bilang belum terpikir untuk itu. Tapi terima kasih sudah diberi pencerahan.

Lomba Menulis itu
Yang ditunggu akhirnya datang juga.Apa itu?
Pengumuman lomba menulis. Setelah pengumuman semua lomba termasuk lomba fotographi dengan juri Darwis Triadi, akhirnya lomba menulis diumumkan pemenangnya. Waktu mendekati mahgrib. Duuuh, saya pikir tidak diminta untuk maju ke depan. Tapi ternyata saya diminta teh Tini, untuk maju ke depan dan menjelaskan kenapa surat-surat itu terpilih menjadi pemenang. Karena saya tertulis sebagai ketua dewan juri, maka sayalah yang diminta untuk maju.

Okelah, tarik napas panjang.
Pemanasan dengan mewancarai Urba dan Risman membuat grogi saya hilang. Penjelasan tentang surat-surat yang datang dan kriteria pemenang yang terpilih akhirnya bisa juga saya berikan.

.

Pemenang kedua lomba menulis ternyata adalah seorang tuna netra.
Ceritanya membuat saya terharu. Dia menderita demam tinggi di usia 17 tahun dan akhirnya kehilangan penglihatannya.
Dia seorang mahasiswa yang suka menulis. Datang dari Semarang seorang diri dan menginap di hotel juga sendiri.
Saya ngobrol dengan dia plus jalan ke kamar bersamanya. Kamar kami berdekatan. Pas waktu itu juga, suami dan anak sudah ada di kamar, sedang saya tidak memegang kunci kamar. Jadi saya butuh orang yang sama satu lantai, untuk naik ke kamar. Karena lift hanya bisa berjalan dengan menempelkan kunci yang berbentuk kartu.
Agus Sri sama tawarkan untuk saya ajarkan membuat blog. Dia menyimpan nomor telepon saya dan email saya.

Dan akhirnyaaaa,
kami semua para juri senang. Tugas sudah selesai.
Maka kumpulan kami di sudut lobby. Berempat.

.
Ini pertemuan pertama saya dengan teh Tini dan teh Tina. Mbak Liza sudah pernah bertemu dua kali sebelumnya.
Mereka bertiga adalah bagian dari komunitas Penulis Tangguh, yang saya dirikan di tahun 2012. Senang akhirnya Allah berikan waktu untuk kami bertemu dan saling berkenalan plus bekerja sama.

Alhamdulillah, sudah selesai semuanya.
Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari lomba ini.
Saya bersyukur Allah lebarkan pikiran sempit saya, sehingga bisa memandang dunia lebih luaaaaas lagi.