Kado Terindah untuk Sasi

Sasi menghitung.
Satu, dua, tiga, empat. Pada bilangan keempat puluh, Sasi menarik napas panjang. Tangannya mendadak menyentuh wajahnya. Mencubitnya. Tidak kenyal lagi seperti dulu. Tidak selicin kulit anak-anak bayi yang suka ia pinjam dari ibu-ibu tetangga, lalu ia nikmati aroma wangi mereka yang berbeda. Keringat, bedak, minyak kayu putih bercampur menjadi satu.

Sasi menghitung.
Meskipun ia biasanya mencoba untuk melupakan. Tanggal tahun berganti. Usianya bertambah. Lalu masa lalu hanya kenangan. Kenangan semu.

“Berapa umur Ibu?”
Sasi tersenyum. Memandang anak gadisnya. “Pantasnya berapa?”
“Ibu jujur, dooong.”

Sasi tertawa.
Sudah banyak bahagia ia dapat. Bahagia yang menurut orang lain susah menjalaninya. Ia harus menapaki banyak anak tangga demi meraih bahagianya. Ia harus bersusah payah mengayuh sepeda lalu berhenti di sebuah tempat, mengeluarkan kertas pulpen, juga bukum lalu bertanya,” Bisakah saya membacakan buku cerita untuk tempat ini? Atau mungkin mengajarkan menulis?”
Dan jawabannya tetap sama, dari satu gelengan ke gelengan lain, dengan tatapan memandanginya dari atas ke bawah, berujung pada sepeda yang teronggok begitu saja.
Sasi memahami.
Semua diukur dengan apa yang memang biasa diukur oleh manusia. Sepedanya, lalu motor bututnya selalu menjadi penilaian pertama dari orang-orang yang didatangi. Terkadang Sasi berpikir, apakah mereka menanam prasangka buruk di benak mereka dan merasa bahwa Sasi hanya seorang yang butuh pekerjaan?

“Jangan lupa tanggal 6 Mareeet.”
Suara riuh itu membuat ingatan Sasi kembali. Membuat Sasi tersenyum. Anak-anak yang belajar di rumahnya yang ia sulap sebagai sanggar, dan dibuka setiap Sabtu dan Minggu.
Anak yang datang silih berganti. Ada yang sekali datang lalu pergi. Ada yang bertahun-tahun tetap rajin datang, untu belajar apa saja yang Sasi ajarkan. Bahkan satu dua membawa teman.
“Kita patungan…”
“Sssst…., Ibu Sasi tidak ulang tahun. Ibu kan sudah tua.”
Tapi anak-anak berbisik lagi. Riuh lagi. “Pokoknya 6 Maret, yaaa.”

Sasi menarik napas panjang.
Panjang sekali. Sepanjang perjalanannya untuk berada pada satu titik bahagia seperti sekarang ini.
Sebuah sanggar yang ia putuskan untuk ia buka sendiri di rumah. Setelah menawarkan buku-buku koleksinya untuk ditaruh di tempat di mana anak-anak berkumpul, hanya mendapat jawaban nanti akan dipikirkan lagi pengurus. Berganti pengurus tetap jawaban yang sama.

“Ibu Sasi punya buku cerita. Ayoooo, siapa yang mau pinjam?”
Sasi ingat itu akhirnya yang ia lakukan. Menawarkan buku-bukunya pada anak-anak. Meminta mereka belajar di rumah. Tidak usah bayar. Gratis. Yang penting buku-buku koleksinya tidak hanya dinikmati anak-anaknya saja.
Hingga akhirnya anak-anak datang, untuk belajar apa saja. Memenuhi ruang tamu Sasi dengan cat, kuas, kertas origami, bahkan adonan kue.
Semua membuat Sasi sungguh bahagia.
Sasi tidak pernah bilang cinta pada anak-anak. Tapi Sasi yakin, anak-anak yang datang paham bahasa cintanya.

“Eh…, itu Ibu Sasi. Ayoooo.”
Sasi terkejut. Anak-anak juga terkejut ketika ia ke luar rumah, lalu cepat-cepat menyembunyikan kadonya di belakang punggung mereka.
“Ayooo, itu Ibu Sasi.”
Sasi pura-pura tidak melihat dan terus berjalan. Lalu anak-anak berlarian menyusulnya dan memberikan sebuah kado.
“Selamat ulang tahuuuun.”
Sebuah kado untuknya. Yang dibungkus kertas kado. Entah apa dalamnya.
“Jangan lupa dipakai besok, yaaaa.”
Sasi tersenyum. Bungkus kertas kado itu dibuka, di dalamnya ada bungkusan koran, di dalamnya lagi dibungkus kertas kado, di dalamnya lagi dibungkus koran, berujung pada sebuah kardus susu yang di dalamnya diisi koran dan sebuah kerudung manis berwarna kuning dan beberapa buah surat untuknya.

Apakah yang lebih manis dari ketulusan yang dibayar dengan cinta?
“Ibu Sasiiii, kerudungnya bikin Ibu Sasi tambah cantik.”
Sasi tertawa.
Seperti biasa mereka berkumpul. Sasi sudah siapkan semuanya untuk mereka. Brownies dengan coklat di tengahnya, plus vla coklat di atasnya juga parutan keju. Anak-anak minta keju lebih banyak lagi. Dan ia biarkan mereka mengambil juga memarutnya.

Sebuah pesta kecil akhirnya terjadi.
Dikelilingi anak-anak yang menerima kesungguhannya sepenuh hati. Sasi tahu, ia memang tidak perlu menghitung usia.