Ancol, Setelah Sepuluh Tahun

Pantai, ombak, pasir adalah satu kesenangan untuk saya. Tidak bisa terganti dengan yang lain. Tapi, pantai, ombak dan pasir menjadi jauh ketika harus pindah ke Bekasi. Ada pantai di Bekasi dan Karawang, tapi kami belum familiar dan akses jalan ke sana juga belum terlalu bagus. Ketika masih di Jakarta hampir setiap bulan singgah ke pantai. Sejak masa SMA hingga kerja. Suami senang berkeliling ke Pasar Seni. Ada teman-temannya sesama seniman yang menyewa kios di sana.

Liburan mau ke mana?
Anak-anak bertanya.
Maklum liburan di benak anak-anak adalah libur bersama. Jadi mereka libur, ayah ibunya juga libur. Haduuuh. Harus disampaikan berulang bahwa ayah ibunya sebagai freelancer tetap harus bekerja. Ada kerjaan dari klien yang harus selesai. Jadi liburan itu hanya pada weekend saja.
Bersyukurlah mereka paham.

Tapi masalah ada lagi. Sulung membawa teman dari pondok asal Maluku yang belum pernah lihat Jakarta.
Sebagai tuan rumah selama dua minggu, tentunya ingin anak muda si tamu mendapat banyak kenangan indah. Maka akhirnya rencana jalan-jalan kami rancang.
“Ke mana?” anak-anak penasaran.
“Ke Ancol saja,” jawab saya. Murah meriah. Keluarga suami juga baru datang dari kampung, jadi pas situasinya.
Ke Ancol saja, bawa makanan dari rumah, gelar tikar di pinggir pantai.
“Diiih, kok cuma ke Ancol?” Bungsu mengeluh.
“Bersyukur saja,” seperti biasa saya katakan berulang-ulang.

Ke Ancol, pada hari Selasa tanggal 26 Desember 2017. Kami berpikir pada saat itu sepi pengunjung, karena bukan tanggal merah. Maklum freelancer seperti kami, patokannya hanya tanggal merah, dan tidak kenal cuti bersama. Tapi begitu datang. O la la. Kendaraan padat merayap. Kendaraan kami harus masuk dari pintu lain yang juga macet. Setelah masuk pun ternyata masih harus mencari tempat parkir karena penuhnya parkiran di sepanjang pantai.

Tidak ada yang perlu dikeluhkan untuk sebuah keputusan yang diambil. Harus tetap bersenang-senang.
Anak-anak merasakan pantai.
Saya dan Bungsu penasaran mencoba perahu. Dulu, saya pusing ketika naik perahu.
Saya mau mencoba lagi. Tidak mau fokus kepada kenangan masa lalu. Perasaan takut harus dilawan. Sulung tidak mau? Mungkin tidak mau basah-basahan. Temannya juga tidak mau mencoba, bisa jadi tidak enak hati. Sedang Suami? Uuh, dia punya pengalaman buruk di masa lalu. Ketika senang memancing di tengah laut, dan terhempas ombak setinggi beberapa meter, dan pengalaman traumatis itu tidak pernah mau diulanginya lagi.

Seperti apa sensasinya naik perahu?
Waah, ombak yang datang memerciki baju dan wajah, jadi sesuatu yang menyenangkan. Bungsu yang nyaman menikmati air. Saya yang seperti ditarik ke masa lalu dan melihat hamparan air di lautan. Seperti banyak ide mengucur deras di kepala.

Setelah sedikit bersenang-senang, ada yang tidak boleh kami lupa. It’s time for praying. Iya shalat. Larilah ke mushola yang ada di dekat pantai. Antri toiletnya. Alhmadulillah. Antri tempat wudhunya, Alhamdulillah. Antri tempat shalatnya juga Alhamdulillah.
Senang lihat musholla kecil penuh dengan para muslim dan muslimah yang shalat.

Pengunjung semakin banyak berdatangan.
Kami harus pulang.
Ada tugas lain menanti.
“Buu, ke toko buku, dong. Aku mau beli buku,” Sulung meminta.
Kami tinggalkan Ancol pulang menuju Bekasi dan meluncur ke toko buku seperti permintaan Sulung.

Ini cara kami mengikat kenangan.
Liburan bukan hanya berempat. Tapi dengan saudara dan teman yang lain tujuannya satu. Empati anak-anak untuk berbagi terasah lebih tajam lagi.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.