Suatu Sore Bersama Bapak

bapak dan orang tuanya

Ini Bapakku

keluargaku lagi

q dan bapak

Suatu sore, ketika hanya saya sekeluarga yang masih tertinggal di Solo karena keluarga lain sudah kembali ke daerah masing-masing, Bapak bercerita. Bapak saya, seorang yang saya kagumi karena kegigihannya dan saya ikuti apa yang Bapak lakukan sebagai teladan untuk saya.
Bergantung total pada Allah. Itu prinsip Bapak. Karena itu 8 anak berhasil menuruti arah yang Bapak contohkan. Kami akhirnya tertular menjadikan tahajud dan dhuha menjadi pegangan.

Sore itu, sambil menunggu suster yang akan memeriksa luka di kaki Bapak datang, Bapak bercerita dalam resah. Bapak sama seperti saya. Akan resah menunggu jika memiliki janji. Itu yang membuat Bapak dan saya seringnya tidak tolelir dengan jam karet.

“Nung…” Bapak mulai bercerita.
Bapak memulai cerita pada suami yang ikut mendengarkan. Bagaimana ketika saya lahir, Bapak dan Ibu mulai bisa makan nasi. Sebelumnya di rumah hanya makan ketela. Bagaimana ketika Ibu mengandung saya, Ibu harus kehilangan ibu kandungnya. Lalu ketika saya akan dilahirkan, Bapak dan Ibu tidak memiliki biaya sehingga harus menggadaikan radio satu-satunya, untuk membayar dukun beranak.
Setelah saya lahir, segalanya menjadi lebih baik. Cahaya Kehidupan, itu nama yang Bapak berikan yang membuat kelopak mata saya selalu berkedip untuk menghalau haru juga bangga.

“Nung…. dulu Bapak takut kalau mengaku-ngaku…”
Yah, dulu Bapak takut kalau mengakui bahwa Bapak masih keturunan dari penyair Surakarta Ronggowarsito. Beliau anak dari Yosodipura penyair juga. Padahal Mbah Putri memiliki nama pemberian Mitrotiyoso. Dan Bapak sendiri menyandang nama Yosowarsena.
Bapak tidak pernah mengaku-ngaku keturunan dari biru. Meski di rumah kami, tersisa keris peninggalan leluhur dengan tulisan tahun 1800 an. Bahkan ketika ada kerabat yang datang dulu, untuk menyusun silsilah keluarga, Bapak menolak. Pesan Bapak yang saya ingat, kita miskin. Gelar tidak berguna di mata Allah. Allah cuma melihat taqwa kita.

Ada ketegasan untuk sebuah prinsip yang saya dapat dari Bapak. Jadi Mbah Putri, seperti kebanyakan orang Jawa terdahulu, selalu memandikan keris di malam Jumat dengan air kembang. Suatu kali, Bapak pulang bersama kakak. Mbah lupa memandikan keris itu. Jadilah keris itu menjelma menjadi jin yang masuk ke dalam mimpi kakak hingga kakak ketakutan. Keris itu juga suka berbunyi sendiri di dalam lemari.
Ketika saya datang bersama Bapak juga, Mbah diingatkan oleh Bapak. Bapak tidak ingin Mbah yang sudah belajar salat menjadi syirik dengan keris itu.

Akhirnya, keris itu diambil oleh Bapak ketika kami pindah ke Solo, tidak begitu jauh dari rumah Mbah. Keris itu tidak dimandikan air kembang oleh Bapak. Keris cukup dibersihkan dengan minyak dan ditaruh di dalam koper. Koper itu pernah diletakkan di dalam kamar.

Tapi suatu hari, keponakan yang masih bayi menangis tidak berhenti di tengah malam, menjerit-jerit. Kami baru sadar ketika semua sudah dikerjakan tapi tangisan keponakan tidak berhenti. Keris! Serentak kami saling berpandangan. Koper berisi keris itu akhirnya kami pindahkan ke gudang. Setelah itu tangis keponakan langsung berhenti. Sampai sekarang keris itu duduk manis di dalam koper di gudang. Tidak menganggu. Tidak diberi air kembang. Bahkan tidak tersentuh tangan Bapak lagi.

“Budayawan zaman dulu itu, Nung, istrinya banyak. Bapak sendiri tidak tahu, keturunan dari istri yang mana? Jangan-jangan istri yang tidak diaku.”
Saya paham.
Bapak mendidik kami dengan didikan agama yang kuat. Bapak menjadi imam di masjid. Sering kali saya kena tegur guru mengaji dengan memberi tahu akan melaporkan pada Bapak, kalau saya terlalu berisik di masjid. Sedikit nakal juga saya akan dibandingkan dengan kakak-kakak yang lain, yang berprestasi di sekolahnya. Maka pilihan menjadi anak Bapak adalah, berprestasi dan beriman. Keluar dari dua kategori itu, kami pasti kena bully lingkungan.

“Tapi melihat kamu sekarang dengan tulisan juga buku kamu, Bapak tahu kalau Bapak tidak mengaku-ngaku.”
Saya mengangguk.
Bapak tidak mengaku-ngaku. Saya belajar menulis sendiri, merangkak sendiri. Sering kena omel dulu karena suka melamun dimanapun berada. Hanya saya dari 8 anak Bapak yang bisa menulis. Hanya saya dari 5 anak perempuan Bapak yang memilih profesi sebagai ibu rumah tangga dan menulis, sebab yang lain memilih untuk berkarir.
Lagipula saya tidak butuh berasal dari keturunan siapa. Saya sudah terlalu cinta dengan menulis dan itu sudah menjadi urat nadi dan bagian dari napas saya.

Bapak tahu perjuangan saya menulis. Sendiri. Jatuh bangun dan tersungkur. Bapak memberikan pita mesin tik. Memodifikasi pita mesin tik itu dengan minyak, agar bisa terpakai lama. Bapak juga membawakan mesin tik listrik yang tidak bisa saya pakai karena harga pitanya mahal.
Bapak memberikan meja untuk saya yang dipesan khusus, agar saya mudah mengetik. Bapak juga membelikan lemari buku yang menurut saya super mewah, karena kami pesan di sebuah toko yang raknya didesign oleh seorang arsitek. Sampai sekarang lemari buku itu masih awet di Solo.

Bapak mengajarkan penderitaan untuk tangguh menghadapi hidup. Bukan karena Bapak miskin yang sebenarnya. Bapak anti meminta. Keluarga besar Bapak banyak tersebar di wilayah Laweyan, tempat juragan batik di Solo. Kami tinggal mengontrak di rumah kecil di Jakarta. Tapi Mbah Putri yang selalu datang ke Jakarta untuk mengunjungi, selalu diantar oleh kerabatnya dengan mobil. Seorang yang mengantar kerabat Mbah, anak pendiri sebuah partai islam.
Bapak mengayuh sepeda ke kantor sampai pensiun. Motor inventaris dari kantor tidak Bapak terima, dan memberikan kesempatan itu pada teman lain yang membutuhkan.

Bapak yang mengajarkan kami, 8 orang anak membaca dan menulis. Bapak yang mengambil rapor dan menghadap guru. Ibu bilang, 8 anak selama 40 hari setelah Ibu melahirkan, Bapak yang mengurusi pakaian kotor dan bekas pup juga pipis anak. Bahkan sampai sekarang dari awal menikah, Ibu tidak pernah menyetrika pakaian. Setrikaan Bapak rapih dan halus. Saya belum bisa menirunya.

Ketika sakit, Bapak yang akan duduk di samping kami yang sakit. Bahkan ketika mata kami terpejam lalu terbuka kembali, masih Bapak yang ada di samping kami yang sakit.
Bapak tidak mau mengeluh ketika sakit. Tapi mulutnya tak berhenti berzikir. Sepuluh tahun di kursi roda, Bapak masih masih mandiri. Bapak tidak merepotkan. Hanya Bapak tidak bisa lagi membantu di dapur seperti dulu. Itu yang paling terasa oleh Ibu.

“Nung…, hidup itu jangan minta yang aneh-aneh. Apapun yang terjadi cukup minta pada Allah. Bapak 8 anak bisa cukup. Tidak pernah punya uang milyaran, tapi cukup.”
Pernah suatu hari, ketika saya sedang dirundung sedih karena usaha suami bangkrut dan debt collector baru saja datang ke rumah, Bapak menelepon. Bicara hanya untuk mengatakan agar tetap tahajud.
Bapak mengajarkan pada saya arti berbagi yang sesungguhnya. Saya melihat sendiri bagaimana Bapak sering tergopoh-gopoh memberi barang miliknya yang terbaik, untuk diberi pada orang lain padahal orang itu baru dikenalnya. Saya juga paham ketegasan sikap Bapak.

Saya bahkan pernah merasa tidak disayang oleh Bapak, karena terlalu dilindungi. Tidak boleh kemping Pramuka di waktu SD, padahal adik saya boleh. Tidak boleh menginap di rumah teman, padahal adik saya boleh. Kemana-mana Bapak selalu minta saya dikawal adik-adik saya yang galak. Ketika kuliah saya diantar jemput oleh kakak saya. Saya baru lepas ketika ada sahabat baik yang rajin mengantar dan menjemput kuliah.

Pernah saya begitu merasa mandirinya merasakan akibatnya. Ketika KKN saya jatuh pingsan, ketika itu saya justru menjadi petugas upacara untuk mengibarkan bendera. Ketika menjadi reporter pun saya terkena penyakit tipus. Bahkan pernah dirawat di rumah sakit hanya karena maag saya kambuh.
Ternyata sekarang saya paham, Bapak melakukannya karena memang saya mudah sakit bila terlalu lelah. Dan Bapak takut saya mudah dimanfaatkan orang karena Bapak tahu karakter saya.
Saya juga paham kenapa Bapak menyarankan saya untuk membawa peniti tajam dan pensil yang sudah diserut tajam ketika naik kendaraan umum.

Satu-satunya yang masih selalu saya ingat adalah ketika pada hari pernikahan saya, pada malam sebelum akad nikah, Bapak nembang (menyanyikan lagu Jawa), sebagai upacara pelepasan anak gadisnya. Ini tidak pernah terjadi pada malam pernikahan kakak-kakak dan adik-adik saya.

“Nung…, pergi sana. Lihat-lihat. Biar apa yang kamu lihat bisa kamu tulis.” Belakangan ini kalimat itu yang sering Bapak ucapkan ketika saya sampai di Solo dan hanya menghabiskan waktu di rumah. “Lihat sekaten sana… Ke Prambanan sana…”

Ah suatu sore bersama Bapak, semoga masih berlanjut pada sore-sore yang lain, dimana saya masih bisa duduk dan mendengarkan semua cerita Bapak tentang masa lalu dan makna kehidupan yang sebaiknya saya jalankan.