Tips Belajar yang Menyenangkan untuk Anak

Belajar dengan cara dipaksa?
Alias diminta duduk tenang di depan meja belajar. Duh, pada zaman dahulu, model belajar seperti itu bukan model belajarnya saya.
Meski setiap anak diberikan Bapak meja belajar, dan memiliki meja belajar seperti memiliki sebuah harta berharga, karena di situ saya memiliki privasi. Tapi meja belajar bukan tempat menyenangkan untuk saya belajar.
Saya bahkan ingat di sekolah, saya lebih suka meminjam buku di perpustakaan, atau memelototi gambar di bioskop depan sekolah, yang bisa terlihat dari ruang kelas. Ketika Pak Guru menjelaskan, saya juga lebih sibuk dengan majalah pinjaman dari teman, sampai teman mengadu pada Pak Guru dan Pak Guru mengancam akan mengambil majalah itu, jika saya tidak menutup majalah dan memperhatikan beliau mengajar.

Belajar untuk saya sejak dulu prosesnya adalah harus bahagia. Tidak text book, tidak banyak teori. Karena itu saya juga lebih suka mengajarkan anak di rumah dengan metode belajar ala saya, bukan seperti yang orang lain ajarkan. Dan ketika membuka rumah untuk anak-anak di lingkungan, saya juga lebih suka menggunakan metode ala saya.
Di Sanggar Mama Bilqis, saya ajarkan sesuatu yang berbeda.
Mereka datang hanya untuk curhat, boleh. Atau datang hanya untuk meminjam majalah dan diskusi tentang negara-negara di belahan dunia lain, juga silakan.
Atau belajar sambil melihat ikan di kolam kecil depan rumah, boleh boleh saja.

Saya tidak berharap banyak dengan proses yang saya ajarkan.
Suatu saat kelak, ketika anak-anak yang belajar di rumah sudah jadi orang dewasa, mereka akan meneruskan jejak saya dalam mengajar orang lain. Mengikuti pola saya dengan membebaskan kreativitas murid-muridnya.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.