Ibu Sungguh Menyebalkan

Ibu sungguh menyebalkan buat Attar. Ibu ingin tahu semuanya. Ibu cerewet. Ibu maunya rapi. Ibu tidak mau ada barang berantakan di rumah. Ibu tidak mau ada gelas yang tidak ditaruh di tempatnya.
“Hape…”
Attar cemberut.

Setiap malam Senin Ibu akan menyita telepon genggam milik Attar. Ibu akan menyimpannya sampai hari Jumat. Setelah itu baru diberikan pada Attar. Tapi tidak bisa sepuasnya. Ibu sebentar-sebentar akan masuk kamar lalu mengingatkan. Aapakah Attar sudah mandi. Atau Attar sudah makan? Atau Ibu akan melotot, lalu bilang akan menyita telepon genggam Attar lagi, jika melihat Attar tidak bergerak dari atas tempat tidurnya.
“Jangan buang-buang waktu…,” itu yang Ibu bilang.

Huh. Padahal di telepon genggam, Attar bisa ngobrol sepuasnya dengan teman-temannya. Bisa janjian untuk pergi berenang. Bisa juga melihat banyak film kartun yang dilarang terlalu lama menontonnnya di televisi oleh Ibu. Ibu bilang film yang banyak adegan berkelahinya akan membuat Attar jadi kasar.
Sekarang Attar memandangi mi goreng di mejanya. Mulutnya cemberut. Kenapa, sih, Ibu tidak seperti Ibu temannya yang lain? Kenapa, sih, Attar tidak bisa bebas main ha pe seperti yang lain?
“Ibu punya buku baru…”
Attar tambah cemberut. Buku baru itu artinya nanti Attar diminta membaca sama Ibu. Terus nanti masih ditanya isi buku itu.
Attar menggeleng cepat. “Aku mau main game,” kali ini tangannya cepat memasukkan mi ke dalam mulutnya.

**

Ibu memang menyebalkan. Ibu membuat Attar tidak bisa sama seperti teman yang lain. Ibu memberi Attar uang saku bulanan, dan Attar harus belajar mengaturnya. Ibu tidak mau memberi tambahan lain lagi. Padahal gara-gara uang saku tanpa tambahan itu, Attar pernah tidak bawa uang sama sekali ke sekolah. Gara-gara uang sakut Attar sudah habis semua untuk beli kaos klub bola yang Attar inginkan.
“Yah begitulah Ibu,” ujar Ayah sambil makan nasi goreng buatan Ibu. Ada irisan mentimun di nasi goreng itu. Biar Ayah tambah sehat, begitu yang selalu Ibu bilang.
“Buuu, nanti aku pulang sekolah dijemput siapa?” Bilqis bertanya sambil minum segelas susu coklat. Ada roti di dekat gelas itu.
Attar cemberut. Pagi ini Ibu melarang Attar beli nasi uduk. Ibu bilang Ibu sudah masak nasi goreng dan ada roti juga susu. Jadi Attar tidak boleh jajan.
“Jangan lupa, nanti langsung pulang, ya,” ujar Ibu.
Attar semakin cemberut.

**

Ibu sungguh menyebalkan. Kemarin, kemarin dulu, kemarinnya lagi juga begitu.
Sekarang Attar menatap ke luar jendela kamarnya. Matahari sudah bersinar terang. Attar bangun terlambat. Tirai jendela masih tertutup padahal matahari sudah tinggi.
Tidak ada kotak bekal makanan. Ayah juga bangun kesiangan. Ayah bilang nanti akan ditelepon catering dari sekolah, agar Attar dapat jatah makanan catering.
“Baju olah ragaku mana?” tanya Attar yang sekarang berdiri di depan lemari pakaian.
Baju olah raga di hari Sabtu kemarin sudah ia masukkan ke dalam mesin cuci. Biasanya di hari Minggu semua baju seragam akan selesai Ibu cuci dan setrika dan sudah berderet di dalam lemari.
“Ya ampuuun, Ayah lupa,” ujar Ayah menepuk keningnya.
Attar lihat Ayah lalu berlari ke atas. Mengaduk-aduk mesin cuci. Lalu membawanya. “Pakai lagi, ya. Sekalian kotor.”

Attar mengerutkan hidungnya. Bau keringat di baju itu belum hilang. Attar lihat Ayah menyemprotkan pewangi pakaian di baju olah raga itu. Hari ini terpaksa Attar memakainya.
Sampai di sekolah Attar lupa membawa PR Bahasa Inggris.
Tadi di sekolah Attar dihukum menulis di papan tulis. Attar juga hampir berkelahi dengan temannya yang mengatakan bajunya bau.
Sekarang Attar sudah sampai di rumah. Tadi ia mengayuh sepedanya dengan cepat. Hari ini Ibu akan pulang. Pekerjaan Ibu ke luar kota selama empat hari sudah selesai. Ibu akan bekerja dari rumah lagi, menemani Attar belajar, memasak untuk semua yang di rumah.
Dari depan pagar, Attar melihat sepatu biru milik Ibu.
“Buuu..,” kali ini Attar berteriak.
Attar sudah kangen Ibu. Meskipun Ibu terkadang menyebalkan.
**