Menghidupkan Literasi di Sekolah Alam Bekasi

Sekolah Alam. Mendengar nama itu saya selalu jatuh cinta. Yang terbayang-bayang adalah masa kecil saya, yang bisa bermain di bawah kincir air, empang yang luas, jalanan sunyi lewat taman bunga. Segala hal bernama kebebasan dan keriangan masa kecil. Itu yang tertanam di benak tentang sekolah alam.

Saya selalu antusias begitu mendengar tentang sekolah alam. Maka setiap tawaran untuk berbagi ilmu di sekolah alam, akan selalu saya sambut dengan riang gembira. Jauh tidak masalah. Yang penting saya bisa merasakan keceriaan masa kecil saya kembali.

Dua minggu sebelumnya ada telepon masuk. Karena nomornya tidak saya kenal, maka tidak saya jawab. Sampai akhirnya nomor ada WA masuk memberitahu siapa yang menelepon. Dari pihak penerbit menawarkan untuk launching buku di sekolah alam.
Langsung saya sambut ajakan tersebut.

Kami bersiap. Iya kami. Sebab pihak sekolah yang tahu kalau anak-anak saya juga penulis, ingin salah satu anak saya ikut tampil. Maka saya mengajak anak saya yang ada di rumah. Yang Sulung ada di pondok.
Saya juga mengajak suami ikut serta, karena saya ingin mengenalkan sekolah alam pada suami, yang memang sebelumnya hanya tahu cerita tentang sekolah alam dari saya.
Saya sudah persiapkan semuanya dari malam. Barang-barang yagn akan saya bawa sudah saya masukkan ke dalam mobil. Malam sebelum tidur saya minta si anak gadis untuk cepat dibangunkan, karena kami akan berangkat pagi.
Berangkat pagi?
Iya berangkat pagi. Karena masalahnya kami belum tahu rutenya. Dan saya memang selalu mengkondisikan untuk hadir di sebuah acara setengah jam sebelum waktu yang ditentukan. Tujuannya agar saya bisa merasa nyaman dan mengenal situasi.

Kami berangkat jam enam pagi. Lewat tol. Dan gak nyasar hanya tanya orang satu kali. Jam tujuh lebih sedikit sudah sampai. Horee, acara berlangsung jam 8. Saya bisa ajak anak gadis saya berkeliling. Sambil menunggu pembicara lainnya datang.
Seorang panitia menghampiri mengajak untuk masuk ke perpustakaan dan ngobrol banyak hal di perpustakaan yang nyaman juga dingin. Muti namanya. Guru Bahasa Inggris. Anak muda yang saya suka, karena jalan pikirannya sama seperti saya. Melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Lalu saatnya tiba.
Saya, anak gadis dan mbak Sofie mewakili Kemdikbud naik ke atas panggung, berbagi tips untuk membudayakan membaca di kalangan anak. Sedikit sharing saya tentang anak-anak saya yang bisa menulis. Si anak gadis masih pemalu dan hanya menunduk saja.
Acara tidak berlangsung lama, karena jadwal acara padat merayap dan pembukaannya bergeser waktunya.
Hanya 30 menit, lalu saya istirahat dan harus naik panggung lagi untuk memandu anak-anak belajar menulis.

Ini saat yang saya tunggu. Biasanya waktu yang saya gunakan untuk itu minimal satu jam. Saya bisa eksplore kemampuan anak untuk mengolah cerita dan mereka paham banyak hal. Tapi sayang waktu untuk saya hanya 30 menit. Satu buku hanya sedikit saya bacakan, lalu saya ajarkan cara membuat tulisan dengan gambar, setelah itu saya mencari siapa yang bisa menulis dan menangkap gambar yang saya berikan jadi ide yang unik. Untuk para pemenang ada hadiahnya.

Seperti biasa, mereka takjub dengan gambar-gambar yang saya bawa. Mereka langsung merespon gambar yang saya berikan. Dan ujugnya mereka berlomba-lomba mengangkat tangan, minta agar kertas yang ada di tangan mereka, bisa saya baca.
Iya mereka memang semuanya menulis ide cerita dari gambar-gambar yang saya tunjukkan. Aduuuh, terharu saya dibuatnya.
“Bu guru, bagaimana menulis monyet?” tanya seorang anak spesial (berkebutuhan khusus).
“Bu guru, ini saya tulis…,” seorang anak lain, kelas satu SD menunjukkan gambar titik-titik pada saya.
“Bu guruuu, saya ini sudah nulis. Bagus gak, ya?” tanya anak lain, sambil maju meminjam mik di tangan saya.
Semuanya antusias. Saya semangat, tapi waktu membatasi.
“Sepuluh menit lagi, Bu,” ujar panitia.
Maka saya pun harus cepat-cepat menuntaskan pelajaran saya.

Oh ya karena ke sekolah alam dalam rangka promo dan launcing buku, maka sekalian saya promosikan buku saya yang ada di stand di sis panggung. Bahwa saya baru menerbitkan buku. Kalian bisa beli, ya, untuk belajar akhlak Rasulullah.
Well,
acara berjalan lancar.
Kami pulang. Sudah disambut dengan jalanan tol yang macet. Tapi saya bahagia. Hari ini sungguh luar biasa.
Si Bungsu dapat pelajaran berharga. Meski hari ini ia grogi setengah mati, tapi saya yakin pelajaran ini akan menjadi sesuatu yang tersimpan di benak dan hatinya.