Seri Akhlak for Kids, Semua Berawal dari Mimpi

Mimpi?
Lebih tepatnya harapan. Harapan-harapan yang sering diam-diam saya lontarkan ke langit untuk dijadikan doa.
Ingin punya buku anak? Saya bermimpi dan jungkir balik berlatih. Masih juga berjuang mengirim tulisan ke sana dan ke mari. Ditolak? Kalau dulu sakit hati rasanya bisa sampai sejam. Sekarang hanya sedetik saja. Sekarang bahkan hanya sepersekian detik saja, setelah memahami bahwa itu adalah bagian dari takdir saya.

Impian memiliki buku adalah impian saya. Sejak dulu.
Setelah menulis sekian lama, dan bermimpi sekian lama maka setelah saya menikah baru saya memiliki buku.
Dari tahun 1982 menulis. Ketika SD itu saya sudah terbayang memiliki buku. Tapi baru tahun 2002 saya bisa memiliki buku. Itu artinya 20 tahun saya bermimpi.

Kadang saya berharap setelah kemenangan lomba di sana sini, naskah-naskah itu menjadi sebuah buku. Tapi rupanya itu hanya impian saya saja.
20 tahun terus bermimpi, berjuang, berusaha, lalu segalanya cring. Kerja keras saya terbayar. Telur saya pecah. Dan biasanya kalau sudah pecah satu akan mudah memecahkan yang lain.
Cring cring cring, maka bermuncullah buku-buku saya. Buku-buku solo. Jumlahnya lebih banyak dari angka pernikahan saya yang belum sampai 20 tahun. Jumlahnya hampir menyamai usia saya. Bahkan jauh melampaui usia saya, jika antologi juga saya hitung sebagai buku.

Satu buku diikuti buku yang lain.
Satu pesanan penerbit diikuti pesanan penerbit yang lain. Rahasianya apa?
Saya tidak punya rahasia.
Semua harapan saya jadikan doa. Saya lemparkan di sepertiga malam. Saya bisikkan di waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti di antara azan dan shalat. Ketika tahiyat terakhir sebelum salam.
Kadang ketika melihat postingan seorang teman, saya pejamkan mata dan berdoa. Saya ingin seperti itu.

Sepuluh buku Akhlak prosesnya cepat sekali.
Menerima job sebelum Ramadhan. Saya kerjakan sepanjang Ramadhan bersamaan dengan buku lain pesanan penerbit lain.
Saya model serius dalam mengerjakan sesuatu.
Tidak boleh terganggu.
Bantuan agar waktu bisa dilipat mudah. Awali hari dengan tahajud dan membaca Al Qur’an satu juz. Maka semuanya jadi mudah. Bahkan apa yang saya yakin tidak bisa kita kerjakan, ternyata sanggup saya kerjakan.
Misalnya?
Misalnya sambil mengajar kelas menulis di komputer di ruang kerja saya di bawah, saya bisa mencuci pakaian di lantai atas rumah saya.
Sambil mengaji bersama teman, saya bisa mengajari anak tetangga belajar membuat cerita.

Tidak ada mimpi yang tidak bisa diraih.
Untuk saya yang paling penting, fokus mendekat pada Allah. Biarkan nama kita terkenal di langit. Jangan fokus terkenal di bumi, dan menghabiskan waktu di sosial media, sedang menyentuh kalam Allah juga tidak sempat. Fokus lakukan apa yang dianggap baik oleh Allah.
Maka segalanya akan dimudahkan untuk kita.
Sama seperti buku ini.

Buku ini berisi cerita yang diangkat dari hadist Bukhari Muslim tentang akhlak Rasulullah. Saya racik sedemikian rupa, agar pesannya tidak membebani anak. Seperti biasa, saya selalu membungkus pesan dengan sederhana. Karena saya memang tidak bisa berpikir rumit.
Ada cerita, ada hadist dan ada rujukan kisah. Komplit semuanya ada di dalam buku ini.

Masih hangat.
Buku ini, yuk, dicari di toko buku.