Sa’d ibn Malik Abi Waqqash Az Zuhri

Salah satu sahabat Rasulullah dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, yang kisahnya selalu saya ceritakan berulang kali pada anak-anak adalah kisah Sa’d bin Abi Waqqash (begitu beliau biasa disebut). Sa’d ini masih kerabat Rasulullah dari pihak ibu.

Sa’d ini mendapat keistimewaan dari Rasulullah dengan didoakan “Ya Allah tepatkanlah bidikannya dan kabulkan doa-doanya.”

Sa’d ini juga adalah sahabat yang ketika mendengar Rasulullah bergumam ,”semoga malam ini ada lelaki shalih yang bersedia menjaga kami.” Maka Sa’d langsung bersiaga dan berkata,” tenanglah, ya, Rasulullah. Sa’d bersiaga di sini.”
Sa’d meronda dan selalu menyiapkan air dalam bejana untuk wudlu Rasulullah. Sa’d juga selalu bergegas ketka Rasulullah membuka pintu tenda di pertengahan malam.
Sa’d ini mendapat julukan sebagai Singa yang menyembunyikan kukunya.. Julukan itu didapat dari Abdurrahman ibn ‘Auf ketika ditanya oleh khalifah Umar, siapa orang yang tepat untuk memimpin pasukan ke Persia. Umar sendiri memuji Sa’d dengan orang yang amanah.

Yang paling terkenal dari Sa’d adalah doanya yang selalu dikabulkan Allah.

Pernah seorang wanita bersengketa dalam masalah tanah dengan Sa’d ibn Abi Waqqash. Wanita itu memang curang dan berkhianat. Sa’d berdoa pada saat itu. “Ya Rabbi, jika dia benar maka ridhailah dia, berkahilan hartanya dan ampunilah aku. Tapi jika dia curang dan khianat, maka binasakanlah dia dan musnahkanlah milik-miliknya.”
Beberapa hari kemudian ternyata wanita itu terperosok ke dalam sebuah lubang di tanah dan seekor ular mematuknya.
Dalam keadaan sekarat, wanita itu berteriak,” Celakah aku, aku terkena bala’ karena doa Sa’d bin Abi Waqqash!”

Ada peristiwa lainnya lagi.

Suatu hari Umar mengunjungi Sa’d untuk memeriksa pekerjaannya sebagai seorang gubernur. Umar bertanya apakah ada dari rakatnya yang mengeluhkan Sa’d? Seorang lelaki lalu berdiri dan bicara dengan lantang. Katanya Sa’d menutup pintu rumahnya dari mendengar keluhan rakyatnya. Sa’d juga tidak adil dalam memutuskan perkara dan tidak adil dalam membagi. Sa’d tidak mau berjalan dengan tentara dan Sa’d mengimami shalat dengan bacaan yang panjang, sehingga rakyatnya kepayahan.

Sa’d yang mendengar langsung menjadi sedih. Lalu dia berdoa ,” Jika dia ini menasehatiku sebagai saudaranya dengan ketulusan dan maksud baik untuk meluruskanku, maka muliakanlah dia dalam kehidupan dan setelah kematiannya. Tapi jika dia berdusta, dengki, riya’ dan hanya ingin dikenal orang, maka sempitkanlah hidupnya, panjangkan umurnya dan masyurkan kehinaannya .”

Suatu hari yang merawikan kisah itu bertemu dengan lelaki tua peminta-minta di Kufah yang ke sana ke mari menggoda gadis-gadis muda. Lalu perawi kisah itu bertanya, siapakah lelaki tua itu? Si lelaki menjawab bahwa “Aku adalah orang yang terkena bala’ dari doa Sa’d ibn Abi Waqqash.”

Sa’d memang terkenal doanya mustajab. Karena memang beliau meminta pada Rasulullah agar doanya selalu dikabulkan oleh Allah. Dan Rasulullah meminta agar Sa’d jika ingin doanya dikabulkan, harus memperbaiki apa yang dimakannya. Alias tidak mengandung barang halal dan tidak jelas kehalalannya.
Tapi sebagai pemimpin kelebihan Sa’d ini bisa jadi kelemahannya. Sa’d menjadi mudah tersinggung ketika berhubungan dengan rakyatnya dan tidak mudah berlapang dada ketika ada yang pendapatnya berbeda darinya. Rakyatnya jadi takut untuk menyampaikan keluhan mereka, karena takut akan doa Sa’d yang akan langsung dikabulkan Allah.
Padahal pada saat itu Sa’d memerintah sebagai gubernuh Kufah yang rakyatnya terkenal paling relwel dan paling menjengkelkan di seluruh wilayah kaum Muslimin.

Umar lalu mengambil keputusan untuk memberhentikan Sa’d dan menggantikannya dengan orang lain. Tapi bukan berarti hubungan antara Sa’d dan Umar memburuk. Karena ketika khalifah Umar akan meninggal, ia menyampaikan wasiat agar jika nanti Sa’d yang terpilih, maka itu adalah hal yang baik. Karena Umar dulu memecatnya bukan karena kesalahan atau pun karena Sa’d memiliki sifat khianat.

Sumber : Disarikan dari buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” dan “Lapis-Lapis Keberkahan” karya ustadz Salim A Fillah