Apa yang Dilakukan Penulis tanpa Sosial Media?

Penulis tanpa sosial media? Terbayangkan di zaman tekhnologi seperti sekarang ini. Ketika semua orang sibuk berselancar di media sosial?
Penulis bisa melakukan banyak hal di sosial media. Cari teman sesama penulis, membuka kelas menulis, ngobrol, kumpul-kumpul dan lain sebagainya.
Editor penerbitan juga banyak yang mencari penulis di sosial media. Ketika ada penulis yang aktif, maka mereka menghubungi dan meminta naskah dari penulis itu.
Editor senang, penulis juga senang. Meskipun untuk laris atau tidaknya lagi-lagi juga tergantung campur tangan Pemilik Rezeki.

Sosial Media Sekarang Berbeda

Tujuh tahun yang lalu saya membuat sosial media. Terkaget-kaget juga ketika melihat ternyata banyak yang mengenali nama saya. Dan itu tentunya berimbas pada kenaikan kepercayaan diri. Bahwa apa yang saya tulis tidak sia-sia. Tapi tahun berganti tahun. Yang terjadi tujuh tahun lalu, tidak terjadi lagi pada saat sekarang ini.

Ada banyak sekali sosial media. Semuanya terhubung satu dengan yang lain. Kadang apa yang dishare di IG, dishare lagi di FB. Padahal lingkup pertemanan masih sama, bukan orang yang berbeda.
Tujuh tahun lalu sosial media fokus untuk menjalin pertemanan. tapi sekarang berbeda. Entah kenapa ketika membuka akun sosial media saya seperti berada pada sebuah pasar dengan suara berisik. Dan ketika ada orang yang protes, semua menyerbu si tukang protes.
Suasana jadi terasa panas. Dan setiap orang jadi merasa aku berhak tersinggung, dong. Aku berhak marah. Aura kemarahan seperti itu menular.

Ini yang Bisa Kita Lakukan tanpa Sosial Media

Saya tipikal yang tidak bisa jalan di tempat. Lima tahun di tempat yang sama akan membuat saya bosan. Karena itu dulu saya selalu mencanangkan perubahan besar setiap lima tahun sekali.
Karena itu sebelum masuk lima tahun, saya coba merancang banyak hal. Sering sekali menonaktifkan akun sosial media, untuk bisa melihat apa yang bisa saya lakukan.

Dan ternyata yang saya bisa lakukan banyak sekali.
Saya bisa belajar fotography. Saya bisa belajar bikin video. Saya bisa belajar banyak hal lainnya. Dan semua itu menyenangkan untuk saya.

Terus apa yang harus dilakukan penulis untuk promo bukunya biar laris?
Yang pertama, perbanyak pertemuan dengan Allah, Maha Pemberi Rezeki. Percaya saja, setelah kerja keras, lalu kamu mudah berbagi pada orang lain, maka rezekimu tidak akan pernah tertukar. Berdoa saja agar minta bukumu laris manis.
Yang kedua, terus menulis. Blog di beberapa web juga bisa.
Yang ketiga, sekarang mudah sekali untuk membuka channel di youtube. Manfaatkan saja itu untuk menambah kreativitas. Percaya deh, hidup rasanya menjadi segar karena terus bergerak dan bergerak.