Pada Bayangan Stupa di Borobudur

Riama menghentikan langkahnya. Kaki kecilnya berhenti pada sebuah anak tangga. Lalu menoleh ke belakang sambil tersenyum.
“Siapa yang bisa naik ke atas lebih dahulu…”
Riama tersenyum. Puluhan anak tangga. Dari satu relief ke relief lainnya. Alvin sengaja memberikannya setumpuk majalah lama. Lalu bercerita tentang beberapa relief di candi.
“Porno…,” ujar Riama berapa kali menunjuk gambar di majalah.
“Iya. Porno. Pelajaran kehidupan. Kita toh tidak melakukan seperti itu.”

Riama berdiri.
Menarik napas panjang. Solo Magelang ditempuh dalam waktu enam jam. Bermacet ria dalam sebuah mobil, masih harus antri di pom bensin demi untuk mengantri di toilet kecil.
“Kenapa ke Borobudur?”
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa bangunan gagah bernama candi Borobudur itu begitu kuat menariknya. Ia seperti ditarik ke masa lalu keras. Ia seperti ditantang untuk menyelesaikan apa yang sebelumnya tidak pernah selesai.
“Kalau macetnya seperti ini, nanti kita pulangnya lewat jalur alternatif.”
Riama mengangguk saja. Enam jam perjalanan dari Solo menuju candi Borobudur, belum lagi harus kesulitan mencari tempat parkir.
“Apa bagusnya di sini, Ibu?”
Riama hanya tersenyum. Sebuah kenangan yang kadang-kadang masih menelusup masuk ke dalam ingatannya, memang harus dienyahkan dengan sempurna. Dan ini salah satu jalan yang harus ditempuhnya.
Sekarang Riama berada di bagian bawah candi. Memandangi relief-relief yang terpahat pada dinding candi.
Pada satu relief candi yang ia sentuh dengan jemarinya, ia seperti tersengat. Lalu matanya terpejam. Sebuah layar seperti terbuka di benaknya.

Mereka berjalan berdua. Bersisian. Lalu Alvin berhenti. Menunjukkan satu relief.
“Porno!” Riama melotot.
Alvin memang sengaja mengajaknya ke Candi Borobudur untuk meneliti relief candi seperti yang ia baca di buku. Ada banyak hal yang harus diteliti. Alvin juga menjelaskan tingkatan candi. Relief yang berkesan porno semakin ke atas semakin bersih dari hal itu.
“Hidup ini, semakin menuju kepadaNYA, harusnya semakin membersihkan hati.”
Riama mengangguk. Tangannya terus bergerak.

Solo Magelang dengan sepeda motor. Dua jam perjalanan. Dari satu candi ke candi lain. Membiarkan Romo berbisik pada Ibu tentang kecurigaan akan hubungan mereka berdua. Ransel besar Riama berisi catatan. Alvin akan menunjukkan tempat-tempat yang membuat Riama melotot lalu bersyukur. Cuma dengan Alvin segalanya jadi menyenangkan. Alvin memberinya banyak ilmu selain ilmu ilmu yang ia dapat dari bangku kuliah.
“Kamu tahu, kalau bisa menginap di desa sini dan menyaksikan matahari terbit. Ujung candi seperti sebuah teratai di lautan awan.”

Riama tertawa.
Romo membekalinya dengan ketegasan untuk boleh berteman dengan siapa saja, tapi bisa menjaga harga diri sebagai wanita.
“Pernah Santi menginap….,” kalimat itu terhenti.
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa setelah itu relief yang menurut Alvin mengandung banyak daya magis jadi terasa biasa saja oleh Riama.

“Bagaimana aku bisa naik sampai atas?”
Riama membuka matanya seperti tersadar. Film di benaknya berhenti seketika dan membuat ia memandang ke atas.
Borobudur pada musim lebaran dipenuhi lautan manusia. Lalu para menusia itu berebut naik ke puncak, hingga anak tangga dibagi menjadi dua jalur untuk naik dan untuk turun. Beberapa orang membuang sampah seenaknya. Yang lain membuat satpam bekerja lebih keras lagi, karena duduk-duduk di stupa.

“Kamu bisa naik tangga putar dari arah sana…,” sebuah suara menyambut dari tempat lain.
Riama mengangguk.
Lalu terdengar suara langkah kaki berlari. Tidak lama kemudian terdengar teriakan dari atas. “Aku sudah sampai di atas, Ibuuuuu.”
Riama melambaikan tangannya.

Ia pernah sampai di atas. Terengah-engah. Lalu berteriak keras. “Alviiin, aku sudah sampai di atas. Capeeek.”
Seorang Alvin pada saat itu hanya melambaikan tangannya. Tidak lama kemudian menyusulnya ke atas dan bicara. “Nira ingin sekali ke sini. Mau tahu apa benar majalah-majalah dan buku yang aku pinjamkan tentang candi ini. Seperti kamu ia ingin melihat langsung relief candi dari bawah sampai ke atas.”
Riama terbakar.
Ia seperti merasakan mata Romo yang melotot setiap kali ia ijin untuk pergi meneliti candi bersama Alvin. “Kenapa kamu ndak meneliti resep masakan ibumu di dapur biar bisa jadi perempuan yang komplit?”

Matahari sebentar lagi tenggelam. Jemari Riama menyentuh relief candi.
“Kamu di sini terus? Mengenang apa?”
Riama tertawa memeluk pinggang suaminya. Handoko selalu paham perasaannya. Minggu lalu, ketika reuni digelar, Riama tersadar.
Sebuah cerita mengalir dari bibir para temannya tentang Alvin. Play Boy cap kerupuk itu sekarang sengsara hidupnya. Ia menjadi duda yang ditinggalkan istrinya. Pekerjaannya menjadi juru parkir di depan sebuah rumah makan.
“Kadang-kadang kekonyolan masa lalu harus dikenang, untuk membuat kita sadar, betapa beruntungnya kita sekarang,” ujar Riama mengerling pada suaminya.

“Ibuuu…!” sebuah teriakan terdengar.
Tangan Riama terbuka. Dua anak berlarian menuju pelukannya.
Pada bayangan stupa di Borobudur, ia beryukur. Hidupnya tidak sekelam malam tanpa bintang.