Kegiatan Langka Bernama Mendengarkan Dongeng

Mendongeng?
Anak zaman dulu, yang belum digempur tekhnologi seperti anak zaman sekarang ini, mungkin paham bagaimana rasanya mendengarkan dongeng. Siaran radio zaman dahulu banyak diisi dengan sandiwara radio. Saya sendiri bersyukur, karena Bapak dan Ibu adalah pendengar sandiwara radio. Pada jam-jam tertentu di malam hari, mereka berdua duduk untuk mendengarkan sandiwara radio. Dan saya ikut menikmatinya.

Lalu zaman berlalu cepat. Wusss. Zaman berubah. Saya bukan anak kecil lagi. Tapi saya punya Kenangan manis dengan dongeng, cerita radio dan tumpukan buku-buku. Saya ingin hal yang sama yang saya dapatkan juga bisa didapatkan anak-anak di rumah.
Buku dan dongeng buat anak-anak saya sudah biasa. Sayangnya teman-teman mereka tidak biasa. Perjuangan akhirnya harus dimulai.

Satu Pintu Tertutup Seribu Pintu Terbuka Lebar

Kegiatan mendongeng, mendengarkan dongeng sama seperti kegiatan menulis. Pendongeng, penulis, idem dito adalah profesi yang akan dianggap sebelah mata oleh orang lain. Manfaatnya apa? Dapat duitnya dari mana? Dan pertanyaan lain yang berujung dengan ukuran materi.

Melihat begitu banyaknya anak-anak di lingkungan yang keranjingan gadget. Melihat minimnya ilmu pengasuhan dari orangtua tentang parenting pada anaknya. Memahami bahwa yang harus dilakukan bukan mengutuki keadaan, tapi berjuang untuk memperbaiki keadaan.

Kerelaan harus jadi kunci utamanya. Tidak dipahami jalan terus. Tidak dianggap, tidak masalah. Yang penting fokus berbuat baik. Anak-anak di zaman sekarang harus ditarik kembali ke masa lalu. Masa di mana imajinasi mereka bisa merajalela. Masa di mana dengan membayangkan sesuatu, mereka merasa bahagia. Dan salah satu yang saya ketahui, hal itu bisa didapatkan dengan buku dan dari mendongeng.

Mendongeng. Iya kegiatan itu yang ingin saya berikan pada anak-anak di sekitar tempat tinggal saya. Kalau imajinasi dari buku, mereka sudah dapat dari buku-buku yang mereka pinjam dari perpustakaan kecil milik saya.
Hingga akhirnya pada satu kesempatan rezeki datang ke saya. Seorang teman pendongeng menghubungi. Kak Cahyono Budi namanya. Kebetulan saya dan beliau pernah menjadi juri di Konferensi Penulis Cilik Indonesia tahun 2016. Saya juri penulis pemula, beliau juri dongeng. Ia tertarik menghibur anak-anak tetangga yang sering belajar di rumah saya pada hari Sabtu dan Minggu.

Semua persiapan saya lakukan. Koordinasi dengan tetangga kanan kiri, yang kebetulan sudah biasa saya ajak melakukan kegiatan, seperti tebar nasi bungkus atau membacakan buku di PAUD perkampungan.
Anak-anak yang datang ke rumah saya beri pesan berulang bahwa akan ada pendongeng yang datang. Pendongeng itu akan membawa boneka tangan dan bercerita banyak hal pada mereka. Alhasil mereka menunggu datangnya hari H, bertanya setiap hari pada saya.

Hari H Datang Juga

Kalau acara saya adakan di rumah, maka yang datang paling 10 anak yang biasa datang ke rumah. Atau jika acara mendongeng itu saya adakan di rumah juga, paling anak-anak di blok lain yang datang akan ada sekitaran 30 orang. Itu pun tidak pasti. Karena apa? Karena kendala tinggal di perumahan alias kompleks yang orangtuanya bekerja kantoran dengan penghasilan lumayan, dongeng mungkin masuk dalam katagori nomor akhir daftar kebutuhan mereka. Dongeng? Anak kita dapat apa? Kalau saya bilang akan dapat bahagia, maka mungkin saya akan jadi bahan tertawaan mereka, karena standar bahagia yang berbeda.

Bersyukur saya punya lingkungan mengaji, yang selalu percaya kalau saya memberikan program yang tidak sekedar hura-hura saja. Maka program itu memang harus jalan agar anak-anak bahagia. Saya sendiri ikut memikirkan dananya dari mana. Konfirmasi ke pendongeng. Termasuk memikirkan makanan yang akan diberikan pada anak-anak yang datang. Plus berbagi tugas, siapa yang beli dan bungkus makanan, dan siapa yang membuat kue untuk buah tangan ke pendongeng.

Acara saya pindahkan ke PAUD. Kebetulan perumahan tempat saya tinggal diapit oleh perkampungan, yang banyak pekerjanya adalah pemulung. Ada juga beberapa rumah mewah, tapi konotasi mereka adalah orang perumahan selalu lebih kaya ketimbang mereka.
Anak-anak pemulung, pekerja kasar dengan telepon genggam mahal di tangannya harus diisi pikirannya dengan sesuatu yang baru. Kebetulan teman memiliki PAUD di perkampungan dan dia punya akses lebih luas lagi. Sehingga dia mengusahakan program mendongeng itu bisa didengarkan oleh 50 anak lebih.

Semua siap. 100 snack dengan tujuan kalau yang datang lebih dari perkiraan, tidak ada anak yang nangis karena tidak kebagian.
Anak-anak sudah rapi jam sembilan pagi. Saya resah menunggu pendongeng yang belum datang. Pas jam sudah menunjukkan pukul 9.15 saya WA, dan ternyata beliau sudah ada di dekat rumah.
Karena takut tidak tahu belokan ke rumah, saya hampiri sampai depan. Tidak tanya pakai mobil apa. Ketika ada mobil dengan sen berbelok ke kiri, saya pikir itu dia sudah datang. Langsung saya lambaikan tangan dan arahkan mobil ke tempat saya.
Mobil berbelok, sebuah kepala tersembul memanggil. O alah.., ternyata orang lain, tetangga saya. Bukan orang yang saya tunggu.

Saya kembali lagi ke depan, dan menunggu. Kali ini tidak salah, mobilnya benar dan saya melambaikan tangan memberi tahu di mana saya.

Kami ngobrol sebentar di rumah saya. Anak-anak tetangga sudah diantar ke masjid tempat diadakan acara. Saya juga sudah siap dengan motor saya. Snack sudah dibawa.
Taraaa.
Jam sepuluh tepat acara dimulai. MC saya sendiri. Dengan alasan ini acara anak-anak bukan acara resmi. Saya tidak mau kalau acaranya jatuhnya resmi. Akan kehilangan aura anak-anaknya.
Ada bacaan Al Quran tapi saya ganti saya memanggil lima anak untuk maju ke depan membaca Al Fatihah. Yang berani maju saya hadiahkan buku. Itu juga atas usul suami agar saya memberikan hadiah buku.

Setelah itu dongeng dimulai.
Waah, ada empat cerita yang dibawakan selama satu jam penuh. Tenggorokan pasti tidak enak rasanya. Alhamdulillah lancar semuanya.

Anak gadis saya sudah saya pesankan untuk nanti bergerak aktif merekam semua adegan. Dia saya bawakan kamera juga telepon genggam. Duh, tapi si anak bukan ibunya. Si anak malu untuk bergerak aktif ke sana ke mari. Alhasil dia merekam dari kejauhan. Itu juga hanya separuh karena telepon genggam habis baterainya.
Malangnya hasil rekaman separuh itu ketika diperlihatkan ke suami, ternyata suami salah tekan dan terhapuslah rekaman tersebut.

Tapi saya bahagia. Acara berjalan lancar. Meski sebelumnya saya sudah memberitahu di group RT dan responnya minim, tapi saya bersyukur itu tidak membuat saya jadi kecil hati.
Anak-anak yang datang dan ibunya yang juga datang saya tanyakan bagaimana perasaan mereka? Mereka menjawab serentak senang dan ingin saya mendatangkan pendongeng lagi.
Snack masih tersisa. Kami membawanya ke panti asuhan terdekat dan anak-anak senang menerimanya.

Ups.
Ini langkah awal. Dan saya tidak akan berhenti melangkah untuk kebaikan. Apapun kendalanya.