Standar Internasional untuk Buku Anak Lokal

Sebagai penulis, saya menjadi orang yang agak sensi alias baper, ketika banyak orang di luar sana, yang tidak suka membaca, tapi dengan mudahnya menganggap bahwa kerja penulis hanya kerja berkhayal saja.
Sebagai penulis, saya juga menjadi orang yang sensi alias baper, ketika ada yang mau menulis, lalu menyepelekan proses menulis, dianggap semuanya mudah dengan hanya berkhayal saja.
Sebagai penulis, yang kerja menulis, membaca tumpukan bahan untuk tulisan, berkelanan untuk riset agar hasil tulisannya tidak asal tulis, saya menjadi malas bicara, ketika ada yang mengatakan bahwa standar buku di Indonesia tidak bagus. Level yang selalu mereka bandingkan adalah level luar negeri.

Sebagai penulis terus-terang saya merasa meradang. Karena itu saya paling rajin ikut pelatihan ini dan itu. Saya senang mendengarkan apa sih isi kepala orang lain. Dan di saat itu saya merenung sambil berpikir panjang.


Hingga akhirnya sampailah saya pada program Room to Read. Di sini saya merasakan betapa sulitnya membuang pola pikir saya yang rumit untuk menjadi sederhana dan bisa bekerja sama dalam sebuah tim.

Ada banyak hal yang saya pelajari. Bagaimana saya yang terbiasa asyik menulis sendiri, menciptakan dunia sendiri dan tahunya naskah dilempar ke penerbit, ternyata harus merangkak dari awal. Merasakan proses revisi berulang kali dan nyaris patah hati.


Alhamdulillah hadiah patah hati, nangis sendiri, sampai berada pada titik gak bisa apa-apa sebagai penulis, ujungnya berbuah manis. Hadir buku ini.
Saya tahu tanpa editor yang handal dan ilustrator yang hebat, naskah saya tidak akan bisa jadi seperti ini.

Saya berharap ke depannya akan muncul banyak buku keren seperti ini. Hingga tidak ada lagi mata yang memincing dan mulut yang nyinyir melihat buku lokal yang bersanding dengan buku luar.