Perpustakaan dan Program Mendongkrak Budaya Baca Murid

Tempat yang dikenal di benak setiap orang di mana bisa ditemukan banyak buku dan bisa dipinjam adalah perpustakaan. Perpustakaan banyak bentuknya. Bisa berupa gedung besar atau rumah kecil, perpustakaan berjalan yang dikelola individu atau perpustakaan yang dikelola komunitas dan dibuka pada setiap ada acara seminggu sekali.
Setiap pengelola perpustakaan memiliki pikiran yang sama. Bahwa dengan buku mereka percaya, anak-anak akan menemukan banyak hal yang bisa menambah wawasan mereka. Pembaca bukan hanya sekedar tahu peristiwa di belahan dunia lain, tapi juga akan dapat mengetahui pengalaman orang lain, hanya dari kebiasaan membaca.
Mencintai membaca adalah sebuah proses panjang. Orangtua, lingkungan, teman dekat menjadi penguat untuk itu.
Tidak semua anak suka membaca. Tidak semua orangtua paham bahwa membaca selain buku pelajaran itu bisa bermanfaat untuk anak-anaknya. Dan tidak semua orangtua juga paham, bahwa membiarkan anak menghabiskan waktu untuk membaca buku untuk meluaskan pikiran mereka, adalah sama dengan berinvestasi untuk jangka panjang.
Konsep membaca memang tidak bisa datang begitu saja. Sebuah penelitian menyatakan bahwa orangtua pembaca akan menjadi contoh positive untuk anak-anaknya, hingga akhirnya anaknya pun akan gemar membaca. Orangtua menyumbang 52, 5 persen untuk kebiasaan membaca.

Tidak semua sekolah dasar memiliki perpustakaan. Bahkan tidak semua sekolah yang memiliki gedung bernama perpustakaan mengoptimalkan perpustakaan tersebut. Banyak gedung bernama perpustakaan dan awalnya memang diperuntukkan untuk perpustakaan pada akhirnya bergeser fungsinya menjadi ruang tata usaha. Sehingga anak tidak bisa dengan bebas datang dan membaca sesuka hati di sana. Karena suara anak-anak yang riuh akan membuat para pegawai tata usaha menjadi tidak nyaman. Buku-buku yang ada di dalamnya juga lebih banyak berisi buku paket pelajaran, sehingga tidak ada daya magnet bernama buku yang berbeda dari buku yang biasa mereka pegang di kelas.
Dilansir dari Sindonews Bahkan penelitian pada 2006 lalu menyatakan, tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Dan tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga pustakawan. Perpustakaan di sekolah negeri dan swasta pun hanya mempunyai koleksi buku terbatas.

Jika titik sentral untuk menggairahkan membaca ada pada pundak perpustakaan, maka perpustakaan harus melakukan berbagai bentuk kegiatan yang membuat perpustakaan menjadi magnet yang menyenangkan untuk anak-anak didik. Beberapa hal ini bisa dilakukan oleh perpustakaan seperti ;

1. Mencari Ikon yang Gemar Membaca
Kebiasaan membaca tidak hadir dengan sendirinya. Orangtua sebagai ikon pertama yang bisa mengarahkan anak menjadi suka membaca. Tapi pada kenyataannya di sebuah sekolah tidak semua orangtua gemar membaca. Maka tugas itu bisa dilimpahkan ke guru untuk menjadikan dirinya sebagai ikon yang terlihat hebat di mata anak-anak, karena kebiasaannya membaca.
Ketika sekorang guru luas wawasannya karena membaca dan asyik dalam menyampaikan materi pelajaran yang tidak ada di buku pegangan anak-anak, maka anak-anak akan mencari tahu lebih lanjut lagi. Ketika si ikon ini mengarahkan anak untuk menemukan sesuatu yang baru di dalam sebuah buku, maka ketertarikan anak akan sebuah ilmu di dalam buku akan semakin berkembang. Tentu saja pihak sekolah harus memfasilitasi kebutuhan akan buku di perpustakaannya.
Thompson mangatakan bahwa anak-anak bicara sebab mereka butuh mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginannya. Dan hal ini tidak bisa mereka dapatkan dari menulis kalimat. Karena itu orang dewasa yang harus membuktikan bahwa menulis dan membaca adalah suatu kegiatan yang berguna.

Mengajarkan mencintai buku dan memahami bahwa dalam sebuah buku ada banyak ilmu pengetahuan adalah proses yang panjang. Untuk itu yang pertama harus diubah adalah pola pikir.
Menurut Jhon C Maxwell mengubah pola pikir itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena mengubah pola pikir tidak bisa terjadi dengan otomatis.
Albert Einstein malah menekankan bahwa berpikir itu sebuah kerja keras, karena itu hanya beberapa saja yang berminat melakukannya.

Guru yang dijadikan ikon ini tentu saja, harus diberi penghargaan atau mungkin tunjangan prestasi. Sehingga semua guru akan berlomba menjadikan dirinya ikon untuk itu.

2. Menjadikan Perpustakaan Sebagai Ruang Kreatif
Sebuah perpustakaan bukan tempat yang kaku. Perpustakaan adalah ruang di mana anak bisa belajar sambil bermain. Maka agar anak bisa nyaman di sekolah dengan perpustakaannya, selain harus memenuhi rak-rak buku di perpustakaan dengan buku-buku yang menarik perhatian mereka, maka perlu dipikirkan untuk mengajak anak-anak bertugas menjadi petugas piket bergantian, menjaga perpustakaan.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Kebutuhan masa bermain mereka lebih besar ketimbang orang dewasa. Anak yang cukup masa bermainnya dan bahagia dengan itu, akan menjadi orang dewasa yang tidak kekanak-kanakkan. Maka ajaklah anak untuk belajar sambil bermain. Bisa dengan melakukan percobaan dari buku yang ada di perpustakaan. Ketika satu percobaan berhasil mereka akan semakin tertarik untuk mencari-cari buku yang lainnya lagi.
Dan tentunya adalah yang paling penting partisipasi orangtua dalam mengikuti perkembangan anaknya membaca. Usahakan orangtua dan guru bersinergi dalam hal ini. Anak bukan sekedar membaca dan meminjam buku, tapi buku itu bisa dijadikan ajang perekat hubungan dengan orangtua. Ada keterlibatan orangtua untuk membaca bersama. Bisa dalam bentuk lomba atau bisa dalam bentuk laporan.
Perpustakaan yang dikondisikan sebagai ruang kreatif tentu harus ramah anak. Mungkin menggelar karpet warna-warni atau tikar sederhana, tapi tersedia mainan edukatif untuk anak, pasti akan membuat anak betah berlama-lama di perpustakaan sekolah mereka.

3. Hadirkan Penulis
Anak yang bersentuhan dengan buku mungkin sudah paham, bahwa buku yang mereka baca ditulis oleh seorang penulis. Tapi anak lain belum tentu seperti itu. Karena itu menghadirkan penulis langsung di hadapan anak-anak, lalu mengajarkan cara sederhana pada mereka membuat buku, akan membuat mereka takjub. Penulis itu juga tentunya membuat anak menjadi paham bahwa untuk bisa bekerja sebagai penulis, anak-anak harus mulai mencintai buku.
Untuk program seperti ini, kelas inspirasi sudah melukannya. Ratusan relawan bergerak setiap tahun di kota-kota yang berbeda, bahkan sampai menjelajahi pulau. Mereka bekerja sama untuk mengajar anak-anak di daerah pinggiran dan mengenalkan profesi yang selama ini belum mereka kenal. Karena pada umumnya mereka hanya mengenal profesi seperti guru, dokter atau insinyur.
Dengan program ini, anak-anak jadi paham bahwa mereka bisa meraih cita-cita setinggi mungkin dan bisa menjadi apa saja. Para relawan biasanya mengenalkan bagaimana mereka bekerja, dan apa saja yang harus mereka lakukan. Biasanya para relawan juga datang dengan setumpuk buku untuk disumbangkan ke perpustakaan. Dan mereka memiliki program kembali ke sekolah untuk membantu membenahi perpustakaan.

4. Hidupkan Taman Bacaan
Ada banyak sekolah dasar negeri yang tidak memiliki perpustakaan. Tapi biasanya dalam satu lingkungan akan ada satu dua individu yang memiliki minat baca yang tinggi dan pada akhirnya membuka rumahnya sebagai taman bacaan. Buku-buku disediakan untuk dipinjamkan. Individu seperti ini yang harus didukung penuh.
Membuat taman bacaan di era tekhnologi seperti sekarang ini tidak semudah seperti dulu. Karena yang harus dihadapi bukan sekedar membudakayakan kebiasaan membaca. Yang dihadapi adalah pergeseran kebutuhan membaca yang dan mencari ilmu, yang membuat banyak anak didik lebih suka mencari referensi cepat lewat telepon genggam mereka. Mereka hanya membutuhkan paket data untuk mengakses banyak informasi. Tinggal tulis data yang mereka inginkan, lalu muncullah semua yang bisa mereka cari.
Menurut data statistik yang dirilis APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada survei 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta jiwa.

Mayoritas dari jumlah tersebut adalah pengguna aktif media sosial yang Facebook menjadi media sosial yang paling banyak dikunjungi dengan 71,6 juta pengguna, diikuti Instagram sebesar 19,9 juta.

Meskipun belum optimal, tapi paling tidak Pemerintah sudah berusaha bergerak untuk menjembatani kesenjangan akan buku danj perpustakaan ini. Program bebas biaya untuk pengiriman buku ke taman-taman bacaan yang terdaftar dalam program penerima buku gratis sudah dicanangkan Presiden Jokowi, dan berlaku setiap bulannya pada tanggal 17. Siapa saja para pencinta buku yang ingin menyumbangkan bukunya lewat kantor pos (bukan agen pos) mereka dibebaskan dari biaya ongkos pengiriman, yang selama ini dikeluhkan cukup besar nominalnya.
Kebijakan pembebasan biaya kirim buku ini ditetapkan sebagai solusi dari banyaknya keluhan para penggiat literasi karena tingginya biaya pengiriman buku khususnya ke wilayah pelosok. Untuk taman bacaan yang ingin terdaftar dalam program ini, mudah sekali mendaftarnya. Hanya tinggal memasukkan data lalu mengirimkannya lewat email.
Untuk taman bacaan ini, bisa dibuat program resmi pemerintah misalnya mengadakan program satu kelurahan satu taman bacaan. Sediakan tempatnya, penuhi buku-bukunya, buat programnya. Libatkan orangtua dan beri hadiah untuk orangtua yang anaknya sering mendatangi taman bacaan tersebut. Dengan demikian orangtua pasti akan berlomba-lomba mendukung anaknya ke taman bacaan dan menjadikan membaca sebagai suatu bentuk hobi untuk mereka.

Pada akhirnya mendongkrak minat baca bukan hanya tugas perpustakaan tapi tugas semuanya. Jika menginginkan generasi yang mencintai proses, memahami segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instant, yang harus dilakukan oleh semua adalah bahu membantu menjadikan membaca sebagai budaya kita. Indonesia pasti bisa.

Rujukan :
1. Reading habit and intersest of parents and their influence on the reading habit – Ntombifuthi Patricia
2. Reading Habit in Scotland – Vivienne Seonaid Dunstant
3. How Succesful People Think – Jhon C Maxwell
4. Psikologi Komunikasi – Dts Jalaluddin Rakhmat
5. Ilmu Komunikasi – Deddy Mulyana
6. www.mediaindonesia.com