Beban Mental Menulis Buku Ibadah untuk Anak

Beban mental, dan rasa takut yang luar biasa. Itu yang saya rasakan ketika dipercaya menulis buku ibadah untuk anak.
Beban mental dan rasa takut itu memang selalu saya hadirkan dalam hati ketika akan menulis. Karena tanpa rasa seperti itu, saya takut kalau-kalau saya jadi menulis sesuka hati.

Beban mental itu bukan hanya saya yang merasakan pastinya, tapi juga penulis lain. Terlebih penulis saat ini harus berani jungkir balik untuk promosi buku di sosial media. Padahal kondisi sosial media sama seperti sebuah pasar saat ini. Ada banyak toko, ada banyak orang lewat. Dan yang lewat itu bisa sambil lewat hanya melihat sekilas langsung memberi komentar yang negatif. Komentar ini yang akhirnya membuat orang lain terpancing untuk berkomentar yang negatif juga.

Ada banyak yang bisa ditulis memang. Ada banyak pilihan untuk menulis. Tapi ketika kesempatan itu datang, untuk menulis buku panduan ibadah untuk anak, apa yang harus kita lakukan?
1. Jangan terima kalau kita tidak mengerjakannya
2. Jangan terima kalau kita tidak paham ilmunya
3. Jangan terima kalau kita tidak punya kitab-kitab para ulama dan rujukan kita hanya dari google.
5. Jangan terima kalau kita menuliskannya hanya untuk dianggap lebih sholeh dan lebih pintar dari yang lain.

Menulis tutorial ibadah untuk anak itu cukup sulit. Kitab-kitab yang tebal itu harus dibaca semua, untuk dicari sari patinya. Lalu dibandingkan dengan kitab lain. Dicari juga rukuan dari video-video dari ulama yang terpercaya dan situs-situs ulama. Setelah itu tulis dalam bahasa yang dipahami anak. Untuk buku sekitar 40 halaman saya harus membaca lima kitab, masih bertanya langsung ke ulama pada saat kajian biar mendapatkan pencerahan.

Masih akan terus menulis tentang ibadah?
Masih, saya malah keranjingan menuliskannya. Karena ternyata ilmu agama saya bertambah menjadi lebih banyak setelah itu.