Menulis Buku Anak yang Dikemas Ringan

Menulis selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Menulis naskah remaja, dewasa, fiksi non fiksi. Semua jenis tulisan adalah tantangan tersendiri untuk saya.
Jadi karena biasa berjuang untuk menulis, saya termasuk orang yang suka jengkel jika diremehkan oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia menulis.

Beberapa tahun belakangan ini saya kecemplung menulis buku anak. Sebenarnya sederhana. Permintaan dua anak saya yang waktu itu masih kecil, yang selalu saya bacakan buku sebelum tidur. Mereka request kepada saya, minta dibacakan buku karangan ibu, begitu katanya.
Saya sendiri waktu itu hanya menulis naskah novel remaja juga dewasa. Ada cerita anak di majalah anak Bobo, tapi itu hanya satu dua saja. Tidak rutin saya buat.

Lalu ketika si anak sudah bisa mendesak saya untuk menulis cerita untuk mereka, saya yang terdesak pun akhirnya mencoba menulis. Sebuah novel yang sebenarnya berat karena berkisah tentang seorang anak yang punya dua ibu. Satu ibunya terkena sakit jiwa. Novel itu hasil riset saya berdasarkan pengalaman berteman dengan teman-teman yang anak yatim atau bahkan yang ayahnya menikah lagi.
Novel itu kemudian mendapat Award sebagai novel anak terbaik. Disusul dua tahun berikutnya, dua novel yang lain masuk nominasi novel anak terbaik juga.

Iya saya menulis dan konsisten menulis cerita anak sejak saat itu. Mulai membuka kelas untuk mengajari menulis cerita anak. Baik secara online maupun secara offline. Dan ternyata saya menemukan bahwa orang dewasa yang menulis cerita anak itu, jauh lebih sulit dari anak-anak sendiri. Kalau anak-anak yang menulis, wusss, idenya bebas. Mau jungkir balik dengan ide mereka santai saja. Ketika orang dewasa yang menulis cerita anak, waduh diajarkan untuk berimajinasi mereka sudah tersekat dengan pola pikir ini tidak boleh dan itu tidak boleh. Belum lagi tidak bisa bebas menempatkan diri sebagai anak-anak dan pesan yang kadang terselip begitu banyak, sehingga membuat beban untuk yang membacanya.

Jika orang dewasa berniat menulis cerita anak, tentunya mereka harus menanggalkan diri sebagai orang dewasa. Harus mau bergaul banyak-banyak dengan anak-anak. Dan ujungnya mau kembali ke masa anak-anak. Jadi ketika menulis mereka harus mau jadi anak-anak kembali.

Untuk cerita-cerita fiksi seperti novel anak, saya bersyukur punya masa kecil yang indah dan rumit. Bukan karena hidup saya rumit. Tapi karena Allah perkenankan saya berteman dengan teman-teman yang hidupnya rumit. Ketika SD saya punya teman yang ibunya bahkan jadi wanita malam. Saya bersyukur orangtua menjaga saya dengan cara yang baik. Sehingga berteman dengan teman lain menambah wawasan saya tentang banyak hal.
Jadi kalau saya bisa mengemas hal rumit dan menyederhanakannya dalam bentuk buku anak, itu sudah biasa.

Yang sulit untuk saya adalah justru ketika saya dipercaya untuk menulis tutorial ibadah atau buku-buku agama lainnya untuk anak. Susahnya?
Susahnya adalah karena setelah saya membaca banyak kitab rujukan, saya harus mencari yang umum, agar anak-anak yang mebacanya tidak bingung. Kok yang ini beda dengan yang diajarkan guruku, misalnya seperti itu? Rujukan yang umum pun tetap harus berdasarkan apa yang Rasulullah ajarkan.
Ketika menulis naskah yang lain sehari bisa mendapat 10 halaman, maka menulis buku ibadah, sehari saya harus baca setumpuk kitab, paling hanya dapat empat sampai lima halaman.
Belum lagi beban takut salah. Belum lagi beban takut dihujat oleh orang-orang yang hobi menghujat ketika melihat sedikit kesalahan.

Sampai sekarang saya masih terus menulis. Pesanan buku anak datang silih berganti. Kalaupun pesanan sudah selesai, saya masih kotak-katik naskah untuk dikirim ke penerbit.
Masih ada yang meremehkan menulis buku anak?
Coba suruh saja dia menuliskannya.