Penulis Remah Rengginang

Penulis remah rengginang? Waktu saya membaca tulisan seperti itu saya tersenyum sendiri. Rengginang, makanan seperti kerupuk yang biasa disajikan pada saat lebaran itu memang unik. Rengginang, tidak pernah bisa membuat orang yang memakannya bersih dari kotoran. Karena setiap gigitan gigi kita pada rengginang, akan menyisakan remah yang jatuh.
Atau jika rengginang berada di dalam wadah dan wadah itu sering berpindah tempat, akan membuat rengginang itu menghasilkan banyak remah yang rontok dari si rengginang itu sendiri yang mengumpul di bagian bawah wadah.

Ops, saya sebenarnya mau ngomong apa, sih?
Yup, ini berkaitan dengan dunia menulis. Sejak dulu ketika saya masuk ke dunia menulis, saya sadar saya harus terus menulis. Ikut lomba ini itu untuk menunjang kepenulisan saya. Karena sebuah lomba menulis dari sebuah instansi atau lembaga yang diakui juga penerbit atau media yang memiliki banyak pembaca, akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri saya sendiri.
Tapi bukan berarti setelah itu saya raih, lalu saya menjadi merasa paling besar.

Ada Kalanya Saya Hanya Remah Rengginang

“Pada masa lalu aku punya prestasi di bidang nulis, Bu,” ujar anak saya.
Saya mengangguk. Ia sadar akan hal itu. Pada masanya, di masa lalu, itu artinya tidak terjadi di masa sekarang. Orang juga sudah tidak ingat lagi akan hal itu, dan diri sendiri juga merasa tidak ada artinya dengan pencapaian itu. Karena ada banyak orang lain yang memiliki pencapaian yang lebih tinggi.

Bicara soal pencapaian, saya malah jadi teringat kisah remahnya rengginang. Orang-orang kecil yang merasa tidak ada artinya akan menganggap diri mereka seperti remah rengginang.
Saya?
Saya harus juga menempatkan diri seperti remah rengginang tersebut. Karena apa? Karena prestasi di masa lalu, meskipun sebulan atau seminggu yang lalu, tetap saja namanya masa lalu. Dan untuk hidup kita adalah masa kini dan masa depan.
Uangmu yang kamu dapat dari prestasi di masa lalu akan habis. Pujian akan sirna. Jika kamu menulis mengandalkan puja dan puji maka tidak akan bisa kamu melangkah lebih jauh lagi.

Saya selalu menempatkan diri bahwa saya tidak bisa apa-apa. Remah rengginanglah saya. Karena itu setiap ada program menulis dari ahlinya, untuk bidang yang belum saya kuasai, saya akan ikut mengirimkan lamaran untuk mengikuti audisi itu.
Pun di setiap kesempatan saya selalu meyakinkan diri sendiri saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dengan begitu saya jadi memiliki energi untuk menulis lebih banyak dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

“Kamu penulis remah rengginang?”
Jika ada yang menunjuk seperti itu, apa yang harus saya lakukan?
Tugas saya terus menulis. Dan tulisan saya yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tuduhan orang lain untuk saya, tidak akan jatuh membebani amalan saya.
Mari terus menulis saja.