Hubungan Penulis dan Penerbit, Harusnya Seperti Apa?

Penulis?
Penulis lepas seperti saya ketika dulu zamannya media cetak, akan terhubung dengan redaksi. Redaksi ini yang mengurusi naskah yang masuk, juga jadi penyambung lidah dengan bagian keuangan ketika penulis ingin mengambil honor.
Dulu zamannya saya masih suka mengambil honor langsung ke media, saya akan menunggu di ruang redaksi. Melihat cara kerja mereka. Lalu dapat tanda tangan dari redaksi plus nomor bukti majalah. Setelah itu saya akan meluncur menuju bagian keuangan untuk mengambil honor.
Eh itu dulu dan terjadi pada masanya. Alias zaman sekarang sudah berganti. Ada banyak yang berubah. Termasuk tumbangnya satu persatu media cetak berganti dengan media online.

Setelah media cetak tumbang penulis mau apa?
Sejak media cetak tumbang maka banyak sebenarnya pekerjaan untuk penulis. Produk-produk mencari blogger untuk mengiklankan produk mereka. Kalau di media cetak hitungannya berapa senti kali berapa senti iklan yang ditayangkan dan harganya bisa mencapai ratusan juta, sekarang kan budget untuk iklan bisa dikurangi.
Iya, blogger adalah salah satu profesi yang tumbuh subur setelah media cetak gugur.

Penulis buku?
Yup, termasuk penulis buku. Meski dari dulu sudah ada penulis buku, tapi sekarang ini semakin marak lagi. Penulis yang menulis buku semakin banyak. Saya yang termasuk akhirnya fokus untuk menulis buku.

Penulis buku akan berhubungan dengan penerbit. Lebih mengerucut lagi, biasanya penulis akan berhubungan dengan editor yang menangani naskah. Masing-masing penerbit punya editor sendiri untuk lini naskah mereka masing-masing. Ada lini naskah anak, remaja atau dewasa, fiksi dan non fiksi.
Hubungan yang harus dibina tentu saja hubungan baik. Penulis manusia, editor juga manusia. Maka membina hubungan baik dengan komunikasi yang baik sangat penting untuk mewujudkan sinergi kerja yang bermanfaat untuk karya yang dihasilkan.

Penulis menulis buku dan editor menyeleksi naskahnya.
Beberapa editor yang saya kirimi naskah langsung suka dengan karya saya. Hanya memberi sedikit editan, setelah itu bahkan memberi order tulisan untuk saya.
Ada juga editor yang mengoreksi naskah saya. Tapi saya suka sepanjang tidak membuat naskah itu bukan lagi menjadi milik saya. Alias isi dirombak sana sini. Jika hanya untuk merubah satu dua kalimat efektif tidak masalah untuk saya. Misalnya bahasa di tulisan itu saya gunakan kata kamu, dan editor maunya kata kita.
Tapi setelah saya jelaskan bahwa saya pakai kata kamu gunanya untuk mengakrabkan dengan pembaca karena ini non fiksi untuk remaja, maka editor pun setuju.

Mengunjungi penerbit sebenarnya salah satu cara efektif untuk membina hubungan baik. Tapi zaman semakin canggih, dan internet bisa membuat semuanya mudah dilakukan. Jarak bisa dilipat. Komunikasi bisa dijalin.
Hanya saya tetap sesekali mengunjungi penerbit. Salah satunya ketika saya ke Solo dan saya mengunjungi penerbit yang menerbitkan buku saya.
Dengan bertemu langsung, saya lebih paham kebutuhan penerbit seperti apa dan maunya editor juga bagaimana? Dan dari sini bisa melihat lebih jelas tentang penerbit yang saya kunjungi.

Ketika buku sudah jadi pun, penulis bukan berarti harus ongkang-ongkang kaki. Penulis harus mau berjuang untuk promosi agar buku itu laris manis. Laris manis bukan sekedar agar penulis dapat penghasilan. Kalau saya berjuang untuk promosi buku adalah agar pesan yang ingin saya sampaikan dalam buku yang sudah saya tulis dengan susah payah, bisa sampai pada pembacanya.
Kalau saya tidak melakukannya, pembaca tidak akan pernah tahu ada buku saya yang baru terbit.
Lagipula ini juga sebagai bentuk tanggung jawab penulis terhadap editor yang sudah menerima naskahnya atau juga memesan naskahnya.

Dan pada akhirnya sebelum berjuang membina hubungan baik dengan penerbit termasuk dengan editornya, sebaiknya membinalah hubungan baik dengan Allah yang membuat kita dilimpahi banyak ide untuk menulis. Allah yang membuka hati seseorang termasuk hati editor di penerbitan untuk menerima naskah kita.

Soal surat perjanjian, soal naskah yang bisa tembus ke penerbit dan soal royalti?
Next akan saya bahas di hari yang lain In syaa Allah.