Horeee, Aku Punya Banyak Buku Baru

Buku. Itu menjadi masalah utama di masyarakat kita.
Sebuah buku tebal menarik untuk saya tentu saja. Karena saja sejak dulu memang gemar membaca. Bahkan saya tidak terlalu suka dengan buku yang dipenuhi banyak gambar. Buyar rasanya segala imajinasi yang sudah saya susun baik-baik di kepala ketika melihat ada gambar di ddalamnya.

Tapi orang seperti saya kan tidak akan ditempatkan di masyarakat yang memiliki kesamaan dengan saya. Kita semua diuji dari orang terdekat kita. Dan karena di rumah baik-baik saja, maka tantangan terberat untuk saya adalah membenahi lingkungan. Lingkungan yang tidak suka baca. Lingkungan yang saya lihat malah dengan santainya membuang buku cerita.
Pernah loh, zaman ketika SD saya suka sekali dengan satu buku. Saya mengidam-idamkan buku itu. Buku tentang seorang raja yang ditipu oleh tukang jahitnya.
Dan buku itu saya baca di rumah teman saya. Lalu teman saya bosan dan buku itu ada di tempat sampah.
Saya ingat, kakak saya membawa buku itu pulang. Iya, karena di rumah bacaan yang dibelikan kepada kami oleh Bapak, seperti barang berharga yang harus dijaga.

Ini ujian. Ujian setiap orang berbeda-beda. Dan ujian saya yang kukuh hanya ingin bekerja sebagai penulis adalah selalu terhubung dengan lingkungan yang tidak kenal buku. Lingkungan saya tidak suka membaca. Lingkungan saya harus dipengaruhi untuk cinta membaca. Dan menyodori mereka buku-buku tebal tidak mungkin. Tontonan televisi, dangdutan atau hiburan dalam bentuk lainnya dalam telepon genggam jauh lebih asyik daripada membaca buku tebal.

Lalu ketika mendapati lingkungan seperti itu, apa harus berdiam diri saja?
Saya penulis. Itu yang selalu ada di benak saya.
Dulu ketika tetangga kanan kiri belum paham profesi itu, menganggap bahwa waktu saya banyak habis di rumah untuk menonton sinetron dan lainnya seperti mereka. Maka tidak sedikit yang menyarankan agar saya membuka toko kelontong di sedikit halaman rumah saya daripada menganggur. Jujur, ketika mendengar kalimat itu rasanya pingin tangan bergerak untuk meninju wajah mereka.
But, it’s ok.
Bukankah di dunia ini banyak orang yang tak paham dan ternyata lebih sok tahu mengatur hidup orang lain.

Maka saya pikir kerja nyata jauh lebih bagus daripada memberi penjelasan.
Saya penulis, saya bahagia menjadi penulis. Orang lain tidak paham dengan profesi saya, itu masalah mereka bukan masalah saya.
Jadi ketika ada sesuatu tugas dilemparkan ke saya dengan alasan saya nganggur di rumah, saya akan menolak. Karena meski di rumah saya punya jam kerja yang jelas setiap harinya.

Waktu bergulir dan syukurlah sekarang hampir semua paham kalau saya penulis. Itu karena efek sosial media. Satu dua tetangga follow beberapa akun sosial media saya, jadi mereka paham kegiatan saya.
Saya penulis dan tugas saya memintarkan lingkungan. Banyak caranya. Salah satunya membuka pintu rumah untuk anak-anak tetangga belajar. Meminjamkan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi. Menambah jumlah buku-buku yang ada di lemari buku untuk dipinjamkan.

Yang lainnya?
Alhamdulillah, anak-anak tetangga suka membaca. Bacanya cepat. Pinjam tiga buku bisa selesai dalam sehari dan minta tukar buku yang lain.
Saya bingung juga pada awalnya.
Pernah saya pakai StoryWeaver. Buku yang ada di sana saya foto lalu saya setting ulang sebelum diprint dan dijadikan buku untuk anak-anak tetangga. Maklum anak-anak yang datang ke rumah sekarang anak-anak TK dan SD kelas satu, dua. Jadi pict book tentu menjadi sesuatu yang mereka butuhkan.
Lalu kemarin saya mulai sadar ada situs lain. Bacanya sudah lama, tapi baru sadar kalau kebutuhan pict book anak-anak tetangga bisa saya dapatkan dari sana. Di Seru Setiap Saat. Di sini saya mudah mendownload dan saya print untuk saya jadikan buku yang bisa dipinjam para tetangga saya.

Ini cara saya bermanfaat sebagai penulis dan membuat orang lain paham bahwa saya di rumah bekerja bukan pengangguran.