Sekolah Masa Depan Bernama Pesantren

Pesantren? Kenapa pesantren? Saya tahu pertanyaan itu berkelebat di kepala beberapa orang yang belum paham tentang pendidikan di pesantren. Sama seperti orangtua saya dulu. Tidak kenal apa itu pesantren, sehingga ketika saya request ingin masuk pesantren pada zaman saya sekolah dulu, Bapak melarang. Alasan Bapak, saya mudah sakit.
Lalu ketika anak menjelang SMP saya berniat memasukkan ke pesantren, Bapak selalu bilang pada saya, bahwa saya loh, bisa mendidik anak sendiri. Kenapa mesti diserahkan ke pesantren? Bapak takut saya yang penyakitan akan sengsara dengan iklim pesantren, yang menurut Bapak tidak cocok untuk saya yang mudah sakit. Dan takut anak saya juga tidak kuat kondisi fisiknya sama seperti saya.

Banyak pertanyaan berkelebat di kepala saya tentang pesantren. Saya pikir, sama saja pendidikan pesantren dengan sekolah berbasis kurikulum islam terpadu. Sama saja.
Tapi ternyata saya salah. Iya, saya masukkan kedua anak saya ke SMPIT dengan program paling ketat. Alias ruang kelas perempuan dan lelaki terpisah. Komunikasi di sosial media dikawal para guru.

Perubahan Orientasi Hidup

Bersyukur hidup saya berjalan selangkah demi selangkah. Tidak langsung berlari, tapi saya belajar menjalani setiap proses langkah saya.
Saya terlahir dari Bapak yang paham agama. Bapak bukan cuma jadi imam di masjid, tapi Bapak juga paham Al Quran dan mendidik anaknya dengan cukup keras. Shalat adalah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda. Ketika melihat saya terburu-buru shalat hanya karena ingin cepat kembali main bersama teman-teman, Bapak tidak segan-segan dengan tegas meminta saya mengulang shalat saya.

Saya dulu ikut kegiatan rohani islam di sekolah. Segelintir anak yang ada di mushola dan tetap berjuang melaksakan shalat zhuhur dan ashar ketika anak lain sibuk ke kantin atau bergurau di kelas. Saya menjadi bagian dari mereka.
Dari satu pengajian ke pengajian lain. Bukan sekedar duduk mendengarkan,tapi memang berproses mengaji. Mulai dari tajwid sampai cara melagukan Al Quran.
Lalu keseluruhan proses itu membuat saya merasa. It’s enough. Saya sudah cukup bisa mendidik saya sendiri.

Maka dua anak saya masukkan ke sekolah dasar negeri. Dasar utamanya prinsip. Bahwa mereka mnerasakan masa bermain yang puas, sepuas-puasnya. Jam belajar yang pendek di sana, membuat saya berjuang agar jam panjang di rumah diisi dengan kegiatan kreatif.
Seimbang antara menghafal Al Quran dan meyakini banyak teori Barat. Meski porsi seimbang itu tentunya ada pada mindset saya sendiri. Seimbang karena saya merasa cukup dan menurut saya, bekal itu yang bisa membuat anak saya bahagia dunia dan akhirat.
Di sekolah negeri sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Anak-anak bersentuhan dengan anak-anak pemulung dan empati mereka bisa terasah. Termasuk, saya meminta mereka membawa teman-teman mereka yang anak pemulung untuk belajar di rumah gratis.
Jujur ketika anak masuk usia kelas lima sampai kelas enam SD, ini adalah masa tersulit. Mereka sulit diatur dan terpengaruh teman-temannya. Sekali dua kali ketahuan oleh saya ketika mereka melalaikan shalat, karena untuk teman-temannya hal itu adalah hal yang wajar.

Berangkat dari situ, saya memasukkan anak ke sekolah islam terpadu.
Usia mereka sudah cukup untuk diberi disiplin lebih tinggi lagi, selain disiplin saya. Mereka akan bersentuhan dengan guru-guru yang visi misinya dalam mendidik anak sama seperti saya. Paling tidak sejalan lah dengan apa yang menjadi visi misi saya.
Memasukkan anak ke sekolah itu, artinya jalan untuk saya menambah wawasan harus diluaskan. Mereka belajar, saya pun belajar. Mereka mendapat kucuran ilmu, saya pun harus paham kucuran ilmu itu agar ada diskusi panjang lebar dengan mereka.
Alhamdulillah proses anak-anak di sekolah ini membuka wawasan saya tentang sekolah lain bernama pesantren.

Alhamdulillah, Pesantren

“Ah, sama aja. Anak sekolah di mana saja sama.”
“Kok, dia masukin anak ke pesantren?”
Dua komentar itu saya dapat dari dua orang yang berbeda dengan dua latar pendidikan yang berbeda. Komentar pertama dari seorang ibu di lingkungan anak sekolah pertama. Sekolah negeri. Pendapat seperti itu biasa untuk saya. Orangtua yang belum paham agama. Yang sering berlomba memberi hadiah pada guru dan amplop setebal-tebalnya dengan alasan kalau tidak diberi anak tidak akan diperhatikan.

Komentar kedua malah saya dapat dari seseorang yang berpendidikan tinggi. Mungkin dia heran, kenapa saya menyekolahkan ke pesantren yang cuma belajar agama?
Tidak masalah, dulu saya memiliki pola pikir seperti itu. Baca Al Quran, sedekah, berbuat baik, sudah cukup. Tidak penting yang lain.

Alhamdulillah, Allah berikan hidayah pada saya sehingga saya bisa melebarkan wawasan.
Pesantren juga menjadi pilihan anak-anak. Hidayah itu harus dikejar. Maka ketika sesuatu tentang pesantren terselip di benak, saya langsung survey satu pesantren ke pesantren lain. Saya harus tahu seperti apa yang namanya pesantren. Lalu saya ceritakan pada pasangan dan anak-anak. Saya ceritakan yang indah-indah untuk mereka. Dan proses lainnya.
Alhamdulillah Sulung punya cita-cita mendapat beasiswa sekolah agama, justru sebelum saya punya mimpi memasukkan anak ke pesantren.

Saya dan Sulung diskusi soal pesantren pilihan. Di pesantren pertama pilihannya, dia tidak lulus. Maka akhirnya keputusan ada di pesantren pilihan saya. Ketika akan tes saya hanya bilang. “Ibu tidak punya pilihan lain. Kalau kamu tidak berjuang untuk lulus di pesantren kedua ini, maaf tidak ada pilihan ketiga.”
Sulung saya tipikal anak yang memaang harus di push untuk itu. Tidak diberi target dia akan terlena. Jika diberi target ia akan mengejarnya sekuat tenaga.
Alhamdulillah dia lulus di pesantren itu. Tesnya dari pagi sampai sore, meliputi tes akademik, tes hafalan Al Quran, tes tanya jawab Bahasa Arab dan tes menerjemahkan hadist.

Pesantren tempat Sulung, berada di kawasan pinggiran. Luas lahan 8 hektar lebih. Pesantren itu berdampingan dengan pesantren lain.
Pesantren lain itu yang selalu dibilang oleh seorang tetangga saya, pesantren bagus, karena anaknya di sana. Tapi akhirnya saya paham standar bagus atau tidak bagus dari kacamata yang berbeda.
Bagus menurutnya karena di pesantren itu satu kamar dihuni oleh delapan anak. Ruang kelas dan ruang tidur berpendingin udara. Di pesantren Sulung, satu kelas dihuni oleh 20 anak dan hanya kipas angin.
Pelajaran sama.
Pemiliknya juga masih kerabat. Kolam renang dipakai bersama oleh dua pesantren itu. Bahkan lapangan futsal dan lapangan basket di pesantren Sulung kerap dipakai oleh pesantren di sebelahnya, karena fasilitas lapangan di tempat Sulung lebih lengkap.
Jadi?
Ini tentang standar yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Alhamdulillah, saya tipikal orang yang selalu menyelidiki dulu sebelum mengambil kesimpulan.

Sudah satu bulan lebih Sulung di pesantren. Apa yang saya dapati ketika dia pulang kemarin?
Wawasannya bertambah. Si Bapak kaget waktu meminta izin pulang ke wali kelas Sulung. Melihat Sulung dan wali kelasnya berkomunikasi dalam Bahasa Arab.
Hafalan hadistnya tambah. Hadist dengan runutan sanadnya.
Hafalan Al Quran bertambah.
Dan saya jadi bisa merasakan bulan madu dalam tanda kutip seperti yang dikatakan ustadz pemilik pesantren di Cirebon yang juga tempat saya mengaji.
Katanya, ketika anak pesantren, bertemu dengan mereka seperti masa bulan madu. Indah rasanya.

Masuk pesantren?
Jika masih under estimated terhadap pesantren. Mungkin itu artinya hidayah baru datang setengah hati ke dalam lubuk hati kita, sehingga kita sendiri ragu untuk menitipkan agama di bahu anak-anak kita.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.