Saya Menulis untuk Bahagia

Saya menulis untuk bahagia bukan untuk tertekan. Sebab tidak saya bayangkan jika saya tertekan dalam menulis. Maka pastilah penyakit maagh atau asma yang banyak dipicu oleh perasaan, pasti akan sering kambuh. Alhamdulillah, karena saya menulis untuk bahagia, maka penyakit bawaan itu bisa menyingkir. Kalaupun hadir, bukan karena dipicu oleh perasaan. Tapi karena saya salah makan atau tubuh terlalu lama berada di tempat dingin.

Saya menulis untuk bahagia.
Iya menulis itu pekerjaan dan mendatangkan materi untuk saya. Tapi tetap saya harus menjalaninya dengan bahagia, tidak dengan tertekan.
Pernah saya menulis skenario. Jam sepuluh malam ditelepon. Harus menyetor 75 halaman script di pagi harinya. Itu artinya saya korbankan semua yang bisa saya lakukan di malam hari.
Tidur saya biasa on time tidak mau saya geser keculai ada kondisi tertentu. Seperti kondisi sebulan penuh saya menjaga almarhum Bapak di rumah sakit.

Pada awalnya saya terima tawaran tersebut. Pada awalnya tergiur juga saya dengan iming-iming materi menulis dan dibayar per episode.
Dua kali menjalaninya saya putuskan untuk tidak mau melanjutkan. Padahal pada saat itu, seorang dari sebuah PH menawarkan saya untuk menulis stripping. Padahal saya dikejar untuk datang ke rumah produksi dan ditunggu oleh mereka.
Tapi tidak. Saya tidak bahagia di situ. Saya merasa khusyuk ibadah dalam keadaan badan melayang-laayng. Dan yang lebih penting, saya tidak fokus mengurus rumah tangga. Itu bukan tipe saya. Maka saya lepaskan karena saya tidak mau menulis jadi beban untuk saya.

Saya menulis untuk bahagia.
Maka saya bahagia menulis untuk penerbit dan menghasilkan buku. Ketika yang lain berproses dan pindah menjadi blogger, saya tetap fokus di buku. Karena passion saya di sini. Yang lebih penting saya bahagia karena pesan yang ingin saya sampaikan, lebih masuk jika saya menuliskan dalam sebuah buku.
Media satu persatu gugur, itu sebabnya saya tidak fokus lagi di media dan fokus menulis buku.

Menulis dan bahagia itu bukan berarti menulis sekedarnya saja.
Buat saya menulis dan bahagia itu ketika saya mampu menghasilkan tulisan yang bisa membuat senang pembaca saya. Dan pesan yang saya sampaikan masuk. Pesan yang sifatnya unviersal mengajak orang pada kebaikan dan empati, tentunya saya harap bisa menjadi pahala ilmu mengalir untuk saya. Meskipun pesan itu tidak dibalut dengan ayat-ayat suci.
Menulis untuk bahagia bukan berarti membebaskan semua keliaran imajinasi. Hei, yang memberi amanah ide untuk saya Allah. Jelas saya harus menjaga menulis sesuai dengan koridor garis yang diharuskan oleh aturan agama saya. Percayalah ide-ide liar itu selalu saja datang. Selalu ada keinginan untuk memasukkan hal-hal negatif dalam naskah dengan nama plotting atau alur cerita. Seolah-olah jika menghilangkan adegan itu maka rusaklah semua naskah.
Percaya saja, jika kita menghindari suatu hal negatif, pasti akan diberi seribu jalan positif. Karena itu jangan pernah merusak amanah ide dariNYA dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sungguh saya menulis untuk bahagia.
Saya dapat imbalan materi tentu saja. Dari tulisan yang dibeli putus atau dengan sistem royalti. Tapi semuanya saya lakukan tidak dengan tertekan. Tidak ikut-ikutan dalam menulis. Jika ada teman yang menulis tentang A lalu laris manis, saya tidak mau mengekor. Saya yakin keorisinilan ide saya akan mendapatkan rezeki tersendiri.
Saya memang menerima pesanan buku dari penerbit untuk saya tulis. Tapi saya bebas mengeksekusinya dan tentu tetap mendengar apa yang ingin penerbit ingin saya tuliskan.

Saya bahagia dalam menulis karena saya berproses.
Setiap hari saya menulis. Jika tidak diorder naskah oleh penerbit, saya tetap mengetuk pintu satu persatu penerbit untuk menawarkan naskah saya. Ditolak itu biasa. Karena setiap penerbit memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan bisa jadi naskah saya belum cocok atau mungkin buruk. Tapi dari situ saya terus berproses.

Saya harus bahagia dalam menulis.
Sama seperti seorang chef yang bahagia dalam membuat makanan, dan itu akan terlihat dari hasil olahan makanannya. Penulis juga seperti itu.
Kalau kamu tidak bahagia dalam menulis, jangan-jangan ada yang salah dalam prosesmu menulis?