Jangan Bermimpi Semua Orang Suka Tulisan Kita

Pernah bermimpi?
Kalau saya sering. Mimpi buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi untuk saya adalah pelengkap dan kadang jadi sarana memghilangkan resah. Setiap tidur saya pasti bermimpi. Kadang-kadang mimpi yang konyol yang membuat saya terbangun dengan kesal. Di dalam mimpi pernah saya memegang uang. Bangun dan membuka telapak tangan yang kosong, saya jadi kaget. Butuh semenit dua menit untuk kembali ke alam nyata dan menyadari kalau saya sedang bermimpi.

Mimpi selalu mengasyikkan untuk saya. Mimpi terbang? Oooh sering sekali saya mimpi terbang. Teman saya bilang kalau mimpi terbang itu karena merasa ada sesuatu yang belum bisa diraih. Kalau saya sendiri tidak tahu. Sebab mimpi-mimpi saya tidak tinggi-tinggi sekali. Saya juga tidak punya impian keliling dunia. Cukup saya dikasih kabut, gunung, hutan dan hamparan sawah saja. Itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Jadi mimpi terbang tanpa sayap itu, saya nikmati saja. Trecengang sendiri ketika terbangun, seperti baru merasakan terbang yang sesungguhnya.

Saya mau ngomong apa sebenarnya?
Saya mau mengatakan bahwa banyak dari penulis seperti saya punya mimpi. Mimpi yang paling menyenangkan adalah mimpi semua orang suka tulisan kita. Iya suka tulisan kita. Sering tersadar ketika menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka tulisan kita. Tapi soal suka atau tidak suka itu bukan masalah besar untuk saya. Karena sudah memahami itu sejak dulu. Lagipula sejak dulu juga saya punya prinsip, lupakan orang yang membenci dan juga orang yang memuji. Hidup kita terus berjalan dengan atau tanpa itu semua.

Ketika sosial media belum mewabah, penulis hanya tahu duduk tenang menulis. Ketika sudah mewabah, lalu orang merasa dekat dengan penulis, yang biasanya hanya karyanya yang mereka lihat di media, maka mulailah orang dengan mudah untuk berbuat sesuka hati. Tidak suka dengan tulisan seorang penulis, lalu mereka menulis dan mentag penulis tersebut. Pernah saya mendapatkan hal itu dan krenyes-krenyes di hati.
Seorang merasa saya tidak riset ketika menulis, padahal saya sejak dulu terbiasa riset. Dan kacamata pengalaman saya dengan dia berbeda.
Itulah sebenarnya sebuah karya ada. Untuk menghadirkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda. Sehingga seorang pembaca bisa lebih lebar wawasannya. Karena itu pada anak-anak ketika diajarkan pada seseorang saya selalu bilang, reguk dulu ilmunya. Nanti kamu akan punya pemahaman lain kalau kamu terus-menerus haus membaca.

Jangan pernah bermimpi semua orang suka tulisan kita. Buang jauh-jauh pikiran itu ketika menulis. Fokus menulis saja. Karena ada orang yang suka warna biru dan benci warna lain. Sama seperti itu juga dengan tulisan. Akan selalu ada tulisan yang sreg di hati satu orang tapi tidak sreg di hati orang yang lain.
Saya bukan pencinta drama korea atau sinetron, maka saya tidak menonton itu. Tapi buat pencinta keduanya, saya akan dianggap melecehkan bila saya menuliskan tentang keburukan tersebut.
Ada pro dan kontra terus menerus.

Lalu menulis jadinya untuk apa?
Kalau saya menulis untuk membagi wawasan saya, membagi ilmu saya. Dan tentu saja untuk bahagia. Jujur saya tidak bahagia kalau tidak menulis. Dan sungguh menjalanhi hidup yang tidak bahagia itu tidak enak sekali. Karena itu sampai sekarang saya masih terus menulis. Dan akan terus menulis.