Fredy Harsongko Bukan Sekedar Kenangan Manis

Saya mengenalnya dan mencoba memahaminya dengan hati. Iya dengan hati saja. Dan ternyata memahaminya dalam hati itu berubah menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang lain. Saya mulai menyayanginya sebagai seorang ibu kepada anaknya. Anak yang dari kalimat yang selalu ia tuliskan bisa saya pahami karakternya yang halus.

Ia memperkenalkan diri sebagai Koko. Nama lengkapnya Fredy Hasongko.
Bulan Oktober 2013, dia mendaftar ingin menjadi murid di kelas menulis online. Bulan-bulan berikutnya, saya menyaksikan kesungguhannya berkarya. Bagaimana ia berjuang membentuk dirinya agar membayangkan dirinya sebagai seorang wanita, ketika menulis untuk majalah wanita.

Usianya tidak pernah saya tanya. Tapi yang saya tahu ia kuliah di sebuah perguruan tinggi dan ingin menjadi guru. Perguruan tinggi yang agak bermasalah tapi akhirnya bisa membuatnya lulus dan mengajar di sebuah SMK.
Wajahnya jauh lebih muda dari usianya. Dari kalimat-kalimat yang ia tulis di kolom inbox, saya paham karakternya yang halus.
Rasa ingin belajarnya cukup besar, rasa tidak enak hatinya juga sama besarnya. Karena itu setiap buku saya terbit, ia berjuang untuk mencari bahkan membelinya dari saya.
Ia bahkan meminta waktu saya untuk bersedia diwawancara dan dimasukkan ke dalam blog yang dikelolanya.

Namanya Koko. Saya sering menggodanya untuk bertanya siapa calonnya? Karena pernah di foto profil whatsappnya tampak ia berdiri dan tersenyum di samping seorang perempuan. Ketika saya tanya, apakah ia calon pasangannya? Ia tertawa dan menulis kalau itu adalah adik kandungnya yang akan mendahuluinya menikah.

Koko saja, dan ia biasa menyebut saya Mbak atau Kak.
Karyanya manis. Tulisannya lembut. Berkali-kali bertanya kapan saya akan datang ke Malang? Berkali-kali berharap ingin sekali bertemu saya.
Lalu tibalah masanya setelah bertahun-tahun saya tidak ke Malang, Koko melihat foto yang saya upload di akun instragram saya dan dia bertanya, apakah saya sedang di Malang?

Saya tidak pernah tahu ia sedang sakit. Saya juga tidak bisa menemuinya karena sempitnya waktu. Hingga suatu hari sepulangnya dari mudik, saya jatuh sakit.
Entah kenapa ada sesuatu yang tidak biasa. Sesak napas tidak seperti biasanya. Tubuh melemah. Mirip seperti yang saya rasakan ketika kerabat dekat pergi dan ketika Bapak juga pergi. Tapi saya pikir itu efek saya terlalu lama di kampung orang.
Hingga akhirnya pada satu siang setelah saya paksakan diri untuk jalan kaki di pagi hari, dan akhirnya tubuh membaik, saya mendengar kabar itu. Kepergian Koko karena penyakit paru yang dideritanya.

Orang baik akan terasa ketika ia berpulang. Dua hari saya tidak bisa tidur, terbangun kaget dan mengeluarkan air mata. Berkali-kali.
Saya merasa sesuatu yang saya letakkan di hati hilang tiba-tiba. Anak baik yang selalu rajin bertanya dan santun, yang selalu mau menampung ilmu dari saya, sudah pergi. Yang ia tinggalkan jejak kebaikanya dan jejak tulisannya.

Saya mencoba memahaminya dengan hati.
Hanya dari hati.
Anak baik memang lebih cepat pergi, agar tetap berada dalam lingkaran kebaikan saja.