Dalam Sebuah Pernikahan, Perempuan Harus Bahagia

Ia menunduk. Ia bicara. Lalu menarik napas panjang ketika lawan bicaranya mengusap air mata yang ke luar dari kedua matanya.
Bicara mereka lirih, karena tak jauh dari mereka, mungkin saja ada beberapa telinga yang bisa menangkap keluh kesah yang sedang dibagi.

“Dalam pernikahan, perempuan harus bahagia,” ujarnya meyakinkan. “Dan untuk bahagia, perempuan harus tahu apa yang ia inginkan.”
Masih ada air mata.
Ia mencoba menarik benang merah dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Rumah tangga pasangan lain yang baru melangkah, rumah tangga orangtuanya hingga masuk usia 53 tahun dan maut memisahkan, rumah tangga lain yang jauh di atas rumah tangganya.

Ia sendiri sudah menemukan bahagianya. Sederhana saja ia menemukannya. Bukan dengan limpahan harta, bukan dengan pujian yang melambungkannya. Ia hanya membuat lingkaran di kepalanya. Berisi dirinya sendiri. Fokus pada dirinya sendiri. Ketika ia sudah menemukan inginnnya, mimpinya, maunya, maka lingkaran itu ia lebarkan.

Kecewa yang Sewajarnya

Ia menarik napas panjang. Mencoba memahami. Dalam satu minggu ada beberapa wanita yang mengadu. Wanita-wanita tangguh tetap saja seorang wanita.
Ia mencoba memahami konsep ujian. Ketika ia diuji, ia selalu berpikir bahwa ini memang jalan yang harus ditempuhnya. Jalan karena pilihannya, bisa jadi untuk pelebur dosanya. Ketika itu ia pikirkan, ia menjadi lebih fokus untuk memperbaiki diri sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain.

Seorang lelaki tangguh, akan dipertemukan dengan perempuan lemah. Begitu sebaliknya.
Seorang lelaki pintar, akan dipertemukan dengan perempuan yang tidak nyambung ketika diajak bicara tentang satu hal yang ia inginkan. Satu hal saja dan itu akan melebar. Setan akan menelusup ke dalam hati dan mengusiknya dengan pikiran bahwa pasangannya tidak bisa apa-apa.
Ketika seorang perempuan bekerja berlimpah harta, maka ia akan disandingkan dengan seorang lelaki yang diuji materinya. Sehingga setan akan membisikkan bahwa si lelaki tidak punya kemampuan sebagai lelaki.
Ketika seorang perempuan mulai berjalan di jalurNYA, maka ia akan mulai fokus pada perubahan besar yang diharapkan terjadi juga pada pasangan. Setan membisikkan itu, sehingga ia tidak menikmati lagi perubahan kecil yang dijalani pelan tapi pasti oleh pasangannya.

“Aku kecewa…”
Ia mengangguk. Membuka buku dan ingatan. Sebuah buku selalu dijadikan rujukan. Kitab-kitab perjalanan pada utusan Allah dan orang beriman lainnya.
Diuji dengan pasangan adalah biasa. Luth dan Nuh bahkan Asiyah istri Firaun pun seperti itu. Bukan setahun, dua tahun dan puluhan tahun. Tapi ratusan tahun.
Bukankah itu tanda bahwa Sang Khalik sebenarnya mencintai? Ujian diberikan, agar kita menangis dan berproses menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Fokus Pada Orang Lain yang Tidak Berdaya

Dalam pernikahan seorang perempuan harus bahagia. Karena ketika perempuan bahagia, maka aura positifnya akan menular pada anak-anak. Tapi ciptakan dulu lingkaran itu, pahami betul apa yang diinginkan. Lalu setelah itu, ia akan menemukan jati dirinya. Apa yang membuatnya bahagia, apa yang tidak. Apa yang tidak perlu ditahannya apa yang tidak.

Ia melihat seorang di depannya mengangguk. Pernikahannya sudah dua puluh tahun, beberapa tahun lebih lama ketimbang pernikahannya.

“Tidak pernah ada hadiah untukku. Tidak pernah ada cincin emas.”
Ia menarik napas panjang.
Ketika perempuan sudah kecewa dengan pasangan, maka terlupalah kebaikan yang banyak dari pasangan. Itu yang selalu ia pegang dengan erat, ketika mendengar kalimat itu di sebuah kajian. Seorang sahabat Rasulullah yang mengucapkan hal itu.

“Bicara pada pasanganmu. Karena laki-laki bukan perempuan. Jadi bicaralah. Sampaikan keluhanmu, sampaikan inginmu.”
Perempuan di depannya diam.
Lalu ia mengurai apa yang pernah ia lakukan. Ketika jembatan komunikasi tidak dibangun. Ketika ia merasa tidak perlu bicara dan hanya memendamnya dalam diam, mengharap pasangannya mengerti. Ketika ia kecewa lalu menghabiskan waktu dengan tangisan dan energinya terkuras habis.

“Dia menyebutku boros. Selalu seperti itu.”
“Tulis apa saja pengeluaranmu untuk rumah tangga. Terkadang lelaki tidak paham perempuan bergelut dengan harga-harga. Dan mereka merasa masih saja pasangannya boros. Ajak dia belanja, atau serahkan uang padanya untuk belanja. Sehingga ia paham makna boros yang sesungguhnya.”

Matanya berbinar.
“Sungguhkah?”
Ia mengangguk.

Serahkan Tuntas Pada Pemilik Masalah

Perempuan dalam pernikahan harus bahagia. Dan untuk bahagia itu, perempuan harus menemukan dulu jati dirinya. Sehingga ketika masalah datang, ia paham harus menempatkannya di mana?

Ia menarik napas panjang.
Menemukan bahagianya, fokus membahagiakan orang lain, menjadi salah satu cara agar bahagia dan tidak lebur dalam duka. Bisa jadi ia hanya kurang bersyukur.

“Ini bayi-bayi yang kena HIV Positif. Mereka lebih malang, kan?”
Wajah permepuan di hadapannya terlihat takjub.
“Fokus pada orang lain, jangan terlalu fokus pada pasangan. Karena itu sama seperti terus-menerus melihat tanaman peliharaan. Semakin dipandangi terasa semakin tidak tumbuh berkembang. Tapi ketika ditinggal satu, dua minggu, akan terasa perubahannya.”

Perempuan di hadapannya mulai bisa tersenyum.
Lalu ia mengambil telepon genggam. “Serahkan semuanya pada Pemberi Masalah. Maka hidupmu akan jauh lebih tenang. Kalau dia yang salah, maka biar Allah yang mengurusnya. Jika dia tidak salah, kita juga sudah lega. Mungkin kita diberi petunjuk dengan banyak cara.” Ia mengirimkan doa yang selalu diucapkan setiap saat lewat telepon genggamnya.

Perempuan di hadapannya mengangguk.
Adzan sudah terdengar. Ia harus segera pulang.

Perempuan harus bahagia.
Dan sungguh, ia pernah juga pernah melewati fase tidak bahagia. Tapi intropeksi terus-menerus, membuat ia paham jalan bahagia datangnya dari mana.
Dan ia bersyukur bisa menapaki tangga bahagia.
Bukankah sejatinya hidup itu pilihan. Berkorban atau dikorbankan, bermanfaat atau dimanfaatkan adalah jalan pilihan.
Dan pernikahan yang dihuni oleh sepasang anak manusia sebagai sekolah yang terus-menerus dihujani pelajaran, harus diterima dengan pikiran terbuka. Bahu-membahu harus dilakukan. Jika seorang berada di depan harus ada yang mau berada di belakang. Karena sejajar dalam pernikahan hanya bisa tercipta ketika sudah melewati tahap gejolak. Siapa yang bersedia maju dan siapa yang bersedia mendorong kemajuan itu.

Perempuan harus bahagia dalam pernikahan.
Sudah malam.
Ia melangkah ke luar sambil terus berharap, ujian seberat apapun, ia akan selalu menerimanya sebagai proses tumbuh kembang sebagai makhluk ciptaanNYA.