Suatu Hari di Bromo yang Dilumuri Kenangan

Suatu hari, libur mereka menjadi panjang. Hanya bincang-bincang kecil pada awalnya. Tentang anak-anak yang tumbuh besar. Yang besar akan berpisah dan masuk pondok. Ia harus mendapatkan kenangan yang mengikat tentang orangtuanya.

Suatu hari, sebelum liburan mereka saling bicara.
Seorang kepala keluarga yang setiap bulan sakit, pasti ada sesuatu. Berganti-ganti dokter bukan solusi. Mata dan bibirnya setiap bicara selalu bicara tentang kenangan. Masa kecilnya, masa lalunya. Dan itu artinya satu, Si Istri harus memahami kerinduannya pada masa lalunya, yang tidak mungkin bisa diberikan Istri padanya.

“Pulanglah,” ujar Si Istri setiap saat, setiap waktu.
Tapi lelaki itu kelihatan gamang. Pekerjaan dari klien menumpuk. Ketika ada waktu libur, anak-anak butuh biaya yang tidak sedikit pula.
“Pulanglah,” ujar Si Istri.
Hanya ada beberapa orang kakak. Tidak ada lagi orangtua. Bukankah pulang pada saat itu akan terasa sekali berbeda?

Pulang, gagal dan akhirnya berujung pada sebuah keputusan.
“Kita pulang,” ujarnya sambil menunjukkan tiket kereta menuju Malang.
Si Istri mengangguk setuju. Kebahagiaan pasangan adalah kebahagiaannya. Lagipula ada tali kekerabatan yang harus dirajut. Soal dana tidak perlu terlalu dipusingkan. Ada beberapa pekerjaan yang sudah selesai di muka, dan pembayaran akan dicicil beberapa bulan ke depan. Jadi tidak perlu khawatir.

And Bromo…

Suatu hari mereka mengenang. Perjalanan panjang 21 tahun yang lalu. Hanya saling kenal tidak berkelanjutan. Seorang penulis dan ilustrator. Seorang anak muda berambut panjang yang tidak dianggap oleh sang wanita. Tapi jodoh adalah mutlak kuasaNYA.

“Ke Bromo?” tanya Si Suami.
Si Istri mengangguk. Bromo. Ingin anak-anak bisa lebih mencintai alam. Ingin anak-anak merasakan ada kesulitan yang bisa ditaklukkan bersama. Ingin mereka paham bahwa cinta orangtua itu, artinya membuat wawasan mereka bertambah.

Maka semua direncanakan. Bahagia Si Suami adalah membahagiakan keluarganya. Maka Si Istri harus ikut bahagia. Anak-anak juga belajar. Membahagiakan orang lain itu, akan sangat menyehatkan.
Mereka bersama dengan tiga keluarga lainnya dengan mobil Espass tua dan motor naik menuju Bromo.
Anak-anak belajar tentang hidup di ujung maut, ketika mobil Espass tahun 1996, di mana mereka berempat ada di belakang, hampir saja tidak bisa menanjak karena kebanyakan beban. Dzikir mereka mengalun. Takjub disertai syukur ketika menyaksikan pemandangan kabut. Kabut yang menyelimuti cemara,jingga kemerahan. Mobil seperti berada di atas awan.
“Ini namanya negeri di atas awan,” ujar Si Istri sambil melilitkan syal yang dipakainya, karena hawa dingin mulai masuk dari sela jendala mobil tua yang tidak memakai pendingin udara.

Sebuah Home Stay

Jalan masih terus berbelok di tikungan tajam, menanjak dan menurun. Kiri kanan jurang dan kabut tebal mulai datang.
“Kita kesasar?” terdengar sebuah suara.
Mereka melewati jalan alternatif dari Purwodadi. Resikonya jalan akan naik turun, tidak seperti melewati jalan umum dari Lumajang. Jarak memang akan lebih dekat.
“Kita kesasar?”
Beberapa kali mobil berhenti untuk bertanya. Sudah mulai gelap, jalan tidak terlihat. Hawa dingin pun semakin menggigit.
Lampu-lampu mulai terlihat menyala. Vila-vila yang disewakan. Rumah-rumah penduduk yang mulai tertutup pintunya.

Mereka kesasar di satu tempat. Lalu bertanya pada seseorang yang berjaga di pintu gerbang vila yang disewakan. Mereka masih harus naik lagi dan turun lagi.
Sampai di sebuah lapangan dekat SMA, mobil pun berhenti. Tidak ada signal sama sekali. Sampai pada satu titik akhirnya signal didapatkan, dan pemilik rumah yang mereka sewa datang menghampiri.

Sebuah home stay dengan lima kamar. Savana Indah Home Stay.
Ada termos berisi air panas, gelas-gelas bersih, kopi, teh juga gula. Dua buah wadah kue di atas meja untuk mereka.
Tempat yang bersih. Setiap kamar memiliki kamar mandi. Ingin air hangat bisa ditekan tombol agar mesin penghangat air menyala.
Ada ruang tamu berisi televisi. Ada ruang makan. Dan satu tempat untuk shalat dengan Al Quran, sajadah, mukena juga sarung bersih tersedia.

Harga sewa permalam 250 ribu rupiah untuk setiap kamar.
Ada sebuah musholla persis di samping home stay. Di lantai bawah pemilik tinggal. Penyewa di lantai atas. Pemiliknya seorang kepala sekolah yang juga membuka warung sembako di lantai bawah.

Dan Bromo

Dan Bromo adalah kenangan. Ketika pada jam tiga malam, Mobil jip mengantar mereka pergi. 450 ribu harga sewa untuk dua tempat yang akan dikunjungi.
Si Suami khusyuk shalat sebelum berangkat. Si Istri berdoa, agar tidak sampai melalaikan kewajiban shalat hanya demi mengejar terbitnya matahari. Dalam doanya terselip permohonan, agar Allah gagalkan saja rencana untuk mendaki, jika itu hanya melalaikan shalat.
Sebab 21 tahun yang lalu, di jalur pendakian tidak ditemukan tempat untuk shalat.

Jip-jip yang melaju. Jip-jip yang berhenti di loket pembelian tiket. Harga tiket masuk pada musim liburan dipatok 32. 500 perkepala.
Mereka mengenakan pakaian berangkap-rangkap. Entah kenapa Si Istri bahagia melihat wajah dua remajanya yang takjub dengan pengalaman baru mereka.

“Tidak bisa naik jipnya,” ujar pengemudi. “Antrian panjang.”
Jip- jip yang parkir di pinggir jalan. Musim liburan membuat pengunjung memenuhi Bromo.
“Di sana ada Bukit Cinta.”
Iya di sana Bukit Cinta namanya. Anak-anak harus tahu bagaimana mendaki. Bukan gunung yang tinggi. Tapi pada jam empat dini hari, mereka harus naik di jalan gelap mendaki dengan sebuah senter yang kadang hidup kadang mati, adalah sebuah sensasi tersendiri.
“Di sebelah sana ada mushala,” ujar Si Suami menunjukkan satu bedeng tepat di atas sebuah toilet.

Semua pengunjung naik. Dalam gelap sambil terus-menerus berdzikir.
“Itu fajar Kadzib namanya,” ujar Si Istri pada anak lelaki yang duduk di sebelahnya.
Lalu cahaya datang dan menghilang. Kembali gelap. Lambat laun dari arah lain ada cahaya putih. “Yang itu fajar Shadiq namanya. Langit akan menjadi terang tidak gelap lagi. Tanda waktu Subuh sudah datang.”
Lalu semua tersingkap. Lautan kabut menipis pelan tapi pasti. Menghadirkan sosok gunung tinggi. Indah sekali.

“Masya Allah indah sekali,” Bungsu tergugu dalam kagum.
“Indah, kan?” tanya si Istri pada anak sulungnya yang lebih suka memendam rasa kagum dalam hati.

Waktu pun bergeser. Sebuah mushala mungil, air mineral yang masih penuh bisa dijadikan air untuk wudhu di saat toilet panjang antriannya.
Mereka harus terus berjalan menuju lautan pasir Bromo. Supir jip sudah menunggu. Iring-iringan jip mulai naik menuju tempat lain.

Debu-Debu yang Berterbangan

Suatu hari mereka mengulang kenangan. Sepasang anak manusia. Melangkah bersama. Ketika anak-anak sudah melesat ke arah anak tangga yang tinggi bersama dengan yang lain.
Mereka tertinggal berdua.
Si Istri menikmati antrian panjang toilet di kawah Bromo, sedang Si Suami setia menunggu sambil memandangi penjual bakso di sekitar lautan pasir Bromo.

“Kamu di sana, aku foto.” Si Suami menenteng kamera.
Mereka berjalan berdua di tengah debu-debu pasir yang terus berterbangan. Dingin masih menggigit. Kuda-kuda tunggangan melesat meninggalkan debu. Motor-motor sewaan juga sama.
Warung-warung makan berdiri berjejer. Lautan pasir penuh dengan para pengunjung. Anak-anak muda bercengkrama.

“Di sini saja,” ujar Si Istri. Semalam ia tidak bisa tidur. Sebab kewajiban ibu tetaplah harus dijalani meskipun sedang liburan. Menyuruh anak-anak tidur lalu membangunkan. Resah sendiri takut alarm terlambat berbunyi dan mereka kesiangan sesuai janji.
“Di sini saja, menunggu di warung,” ujar si Istri.
Si Suami melangkah pergi. Anak-anak harus didampingi. Kenangan manis mendaki bersama anak-anak mungkin yang sedang dikejarnya.

Jalan itu terlalu mendaki. 250 anak tangga rasanya sudah tidak mungkin lagi bisa didaki. Memaksakan diri takut berujung akan menyusahkan orang lain.
Lagipula kawah di atas sana sudah pernah didakinya ketika masih muda.
Si Istri ikhlas dengan kepala yang mulai pening, dan butuh tempat istirahat. Telepon genggam selalu berbunyi meskipun kadang signal tidak didapatkan.
“Anak-anak sudah naik,” ujar Si Suami dari arah pendakian.

Dan …

Dan suatu hari, ketika libur panjang untuk saling membahagiakan telah selesai, mereka duduk berdua. Di antara hutan jati dan sawah-sawah yang terbentang. Pada pagi yang kabutnya masih belum hilang, dan membuat tubuh mereka menggigil.
“21 tahun yang lalu kita pernah ada di sana,” ujar Si Istri.
“21 tahun? Sudah lama sekali,” ujar Si Suami sambil menikmati gorengan bakwan yang biasa disebut Weci, yang dibeli di pasar seharga lima ratus rupiah.

Ada banyak bahagia.
Dan membahagiakan orang lain terlebih dahulu, akan dibayar oleh Allah Maha Pemberi Bahagia. Awan-awan seperti berlomba dimasukkan ke dalam hati keduanya.

4 thoughts on “Suatu Hari di Bromo yang Dilumuri Kenangan

Comments are closed.