Coban Rondo dan Seorang Bidadari

Perempuan itu selalu bermimpi menjadi bidadari. Terbang tanpa sayap. Sejak dulu hingga saat ini. Sebab memandangi pepohonan, awan dan air adalah suatu bentuk ketenangan untuknya. Ketika ketegangan melanda, pada malam harinya ia selalu bermimpi. Terbang dan bahagia di antara gumpalan awan-awan.
Perempuan itu bermimpi menjadi seorang bidadari yang mandi di bawah air terjun, melepas selendangnya. Lalu seorang lelaki jatuh cinta dan menyembunyikannya. Menahannya untuk menjadi istri.

Sudah lama sekali mimpi yang terkubur dalam itu ingin diwujudkannya. Ia tidak butuh tempat yang mewah. Ia hanya ingin berada di pelukan alam. Berada di bawah air yang memercik. Air yang membasahi tubuh yang turun dari tempat tinggi. Setelah itu bisa luruh semua beban.

“Museum Angkut?” tanya Jaka Tarub yang sudah menjadi suaminya, pada malam hari ketika mereka tiba di Malang dari Blitar.
Bayangan air terjun itu menggoda. Sudah delapan hari lamanya dan setiap hari diisi dengan pergi dan pergi. Untuk anak-anak. Untuk ikatan keluarga. Untuk kenangan yang bisa mereka kais di masa depan nanti.
Hari hari mereka sudah terlalu padat. Emosi sudah tidak stabil. Mereka berdua sudah butuh liburan. Anak-anak juga punya beban berat. Sekolah mereka full day school.
Sebuah ketenangan. Air yang memercik, hawa dingin yang memeluk dan kabut yang terhampar yang akan membawanya ke negeri damai tanpa beban.
Sungguh ia ingin menjadi bidadari tanpa beban, melayang bebas, lalu setelah itu tidak ada masalah lagi ketika kenyataan memeluknya erat. Sebab besok dan besoknya, ia masih bisa mengenang pengulangan menjadi bidadari.

“Coban Rondo,” ujar Perempuan itu. Tersenyum sendiri. Membayangkan suatu masa ketika ia hadir sendiri tanpa teman. Lalu gamang. Dan air terjun yang memercik membuatnya seperti menemukan sesuatu kekuatan baru. Ketenanganan bercampur ketegaran.
Jaka Tarub-nya pada waktu itu adalah seorang ilustrator. Ia tidak pernah tahu akan ada sebuah pertemuan. Jaka Tarubnya biasa mengilustrasi naskah-naskahnya di buletin khusus yang terbit setiap bulan, dan di kartu-kartu ucapan. Selendangnya tidak diambil. Tapi perhatiannya diraih sedikit demi sedikit.

“Coban Rondo?” anak-anak bertanya.
“Air terjun. Biar kalian tahu lebih banyak tentang alam,” ujar Perempuan itu dengan mata dipenuhi kenangan. Ia membayangkan air terjun yang akan menenggelamkannya dalam kenangan, lalu membuatnya kembali memiliki selendang yang akan membawanya terbang kembali ke langit.

Coban Rondo itu masih di tempat semula. Di daerah wisata Batu Jl. Coban Rondo, Pandesari, Pujon, Malang, Jawa Timur 65391.
Perempuan itu harus bersabar. Membiarkan Jaka Tarub berkumpul bersama teman-teman masa lalunya pada satu malam. Untuk mengenang suatu masa. Malamnya matanya tidak bisa terpejam. Membayangkan air yang menghempas-hempas, tawa yang hadir dan kenangan yang memeluk.
“Kita mau ke mana?” tanya dua anak-anak padanya untuk memastikan.
Mereka sudah berangkat. Menuju jalan berbelok, mendaki dan menurun.
“Ikuti saja Ayah kalian maunya ke mana,” ujarnya sambil memejamkan mata. Terbuka sedikit matanya untuk melihat pohon-pohon, kabut juga jurang. Matanya kembali terpejam. Membayangkan juga mengenang.

Mereka tiba akhirnya.
Hawa dingin semakin menyergap. Jalan menanjak, berbelok dan menurun. Hutan-hutan jati. Bayangan tentang sekumpulan bidadari memenuhi benak.
Perempuan itu berusaha mengahalau bayangannya. Dua puluh satu tahun yang lalu, membayangkan diri sebagai bidadari. Dan bidadari itu sekang sudah menjelma menjadi ibu dari dua remaja. Waktu yang sangat panjang.
Pohon-pohon yang dulu liar sekarang berubah menjadi lebih bersahabat. Setiap sudut ditata dengan baik.

Ada harga yang harus dibayar untuk keindahan tersebut. Tiket masuk seharga 21 ribu rupiah.
Yang pertama Perempuan itu cari adalah mushala dan toilet. Lalu mencobanya. Di dekat air terjun, bukan mushala namanya. Tapi lebih pantas disebut masjid. Perempuan itu tidak masuk ke dalam karena belum waktunya shalat.
Tapi toilet, bahkan berkali-kali. Air dan air. Perempuan itu mencintainya dan sering ingin berlama-lama bersama air yang mengalir deras.

.

Ia memang bukan bidadari. Tapi selalu membayangkan seperti seorang bidadari. Bidadari yang tanpa beban. Turun untuk melihat dunia. Bersenang-senang bersama teman yang lain. Sampai akhirnya seorang Jaka Tarub mencuri selendangnya.
Air terjunnya masih sama seperti yang dulu. Percikannya turun jatuh ke batu, membuat siapa yang di dekatnya bisa basah bajunya. Tapi sensasi basah itulah yang dicari.
Perempuan itu melihat seorang gadis kecil dan ayahnya berbasah-basahan di bawah air terjun. Ada sungai juga dengan batu-batu besar yang dijadikan tempat berfoto untuk pengunjung.
“Ayo ke sini,” ajaknya pada anak gadisnya.
“Batunya licin, Bu,” Si Anak menolak.
“Ayo sama Ibu…,” Perempuan itu menggandeng tangan anak gadis. Naik ke atas batu.
“Di situ airnya muncrat, Bu. Nanti bajuku basah.”
“Justru itulah kenangannya,” ujar Perempuan itu meyakinkan.
Mereka bergandengan. Berada dekat sekali dengan air terjun yang tumpah. Daaan.
“Bajuku basah, Bu.”
Bajunya juga basah. Tapi ia bahagia. Sepertinya kenangan masa lalu telah melingkarinya seperti bulatan balon tranparan. Ia ada di dalamnya, tenggelam dalam bahagia.
Kerudung panjangnya berkibar dihempas angin dan air yang tercurah. Ia merasa sedang terbang dengan sayapnya. Dan ia bahagia, lepaslah semua beban.

Tidak jauh darinya ada seekor monyet sedang kedinginan di dekat sungai.
Ada papan peringatan yang dipasang dekat sungai. Pengunjung yang lain masuk dan berfoto di sana.
Tulisan itu terbaca. Si Perempuan memutuskan, tidak mau ikutan masuk ke sungai.

Labirin dan Spot Foto

Ia bukan bidadari. Hanya senang membayangkan. Juga bukan dicuri selendangnya. Ia berikan untuk sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Dan ia menyadari segala yang harus dijalaninya. Menjadi istri, ibu, bergulat dengan semua pekerjaan. Hanya kadang-kadang ia butuh selendang untuk terbang. Hingga ia bisa lepas dari beban, tidak sekedar hanya dalam mimpi saja.
Coban Rondo tidak seperti dulu lagi. Ada banyak yang berubah. Jalan yang bagus, sudut-sudut tertata rapi. Perempuan itu kagum dengan pembangunan yang ada. Toilet dan mushala ada di mana-mana. Bersih dan besar.

“Masih ada tempat yang lain,” ujar Jaka Tarub padanya.
Masih ada tempat yang lain dan ia hanya kenal satu tempat saja. Air terjun itu. Dulu tidak ada tempat yang lain.
Ia butuh waktu untuk menyendiri. Maka berjalanlah ia sendiri duduk di atas bebatuan.
Bukankah bersenang-senang tidak perlu sepanjang masa?
Bukankah seorang bidadari di bumi akan selalu membuat cemburu bidadari di langit?
“Ayo, Buuu.”
Ia mengangguk. Siap berjalan lagi.

Mereka mencoba tempat lain. Seorang bidadari yang sudah kembali menemukan jati diri. Kebahagiaan penuh melingkari.
Ada Labirin. Perempuan itu dan Bungsu yang mencoba, mau merasakan sensasi tersesat dengan harga sepuluh ribu.
Ada pohon yang diberi banyak pita warna-warni yang berjuntai. Ada sewa motor seharga tiga puluh ribu. Ada tempat lain untuk spot foto yang menarik. Semacam ayunan warna-warni yang digantung di antara dua pohon, dan pemandangannya jurang dan pohon-pohon pinus. Tapi mereka tidak mencobanya, karena badan sudah lelah, lagipula perempuan itu sudah janji dengan salah satu murid menulis yang sudah lama berteman, untuk singgah ke rumahnya.
Ada area pananah, yang bisa disewa dengan harga lima ribu rupiah, naik kuda juga bisa.

Perempuan itu dalam keadaan penat sering bermimpi. Melayang-layang terbang di udara.
Sekarang mimpi itu sudah terpenuhi.
Perempuan itu tersenyum, ia memutuskan untuk melipat kenangan 21 tahun silam di tempat yang sama. Ia sudah sangat bahagia.