Ketika Penulis Diorder Penerbit

Diorder menulis?
Puluhan tahun menulis untuk media cetak, saya jaraaang sekali diorder nulis oleh media cetak, untuk menulis dengan tema tertentu. Biasanya dulu saya mengirim tulisan berupa artikel, puisi atau cerita pendek, dengan cara berlangganan majalah tersebut. Jadi dari satu tahun bisa mempelajari tema apa yang belum diangkat oleh majalah, sehingga ketika saya menulis, tulisan saya mudah diterima dan dimuat.
Cara seperti itu membuat saya tidak menggampangkan, dan terus mengasah feeling, juga berjuang untuk menulis yang berbeda.

Saya fokus untuk menulis di segala kondisi. Jungkir balik sebagai ibu baru, jungkir balik sebagai karyawan, jungkir balik sebagai istri, tetap menulis, tetap ikut lomba. Tidak pernah terpikir juga untuk diorder menulis oleh media cetak juga penerbit.

Ketika Masa itu Datang

Saya selalu percaya sebuah masa. Ada masa bersusah payah, pasti ada masa bersenang-senang. Ingat dengan mimpi di zaman Nabi Yusuf. Tentang tujuh tahun kekeringan dan tujuh tahun masa panen. Kita tidak akan pernah terpuruk selamanya, atau bersinar selamanya.
Dengan berpikir seperti itu, tidak akan sempat merasa hebat ketika diorder naskah oleh penerbit, tidak juga merasa putus asa ketika tidak diorder naskah.
Buat saya diorder naskah atau tidak, saya tetap mencari peluang untuk menulis. Dan justru itu yang membuat saya semakin bergairah dengan menulis. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dan bergantung pada Allah, Sang Maha Pembuat Kepastian.

Masa diorder oleh penerbit dan buku best seller akhirnya pernah saya rasakan juga.
Masa diorder dan sudah dibayar cash, buku tidak terbit, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai reviewer atau first reader untuk naskah yang mereka terima, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai editor pernah juga.
Bahkan masa dikontrak sebagai pengisi kolom di sebuah media cetak, juga pernah.

Pengalaman seperti itu tidak datang begitu saja. Ada tulisan yang terus saya hasilkan. Ada lomba-lomba yang saya ikuti, dan saya menangkan. Sehingga ketika saya membuat proposal menawarkan naskah atau menawarkan kerja sama, pengalaman menulis di sana sini, membuat poin saya jadi lebih di mata mereka.

Penerbit itu diisi oleh para manusia. Artinya mereka punya hati punya misi juga. Mereka akan memilih penulis yang bisa cepat mengerjakan naskah. Bahkan lebih senang jika kreatif dan memberikan masukan terhadap naskah tersebut. Plus mau membantu menjualkan ketika naskah itu sudah berbentuk buku.
Penerbit juga mau dengan penulis yang total mengerjakan naskah itu. Biarpun naskah hanya lima puluh halaman, tapi mau membaca rujukan setebal seribu lima ratus halaman.
Dan para penjaga gawang di penerbitan ini, banyak berkeliaran di sosial media. Mereka akan menghubungi penulis yang mereka anggap layak dengan kriteria mereka.

Teruslah menulis.
Alhamdulillah tahun ini saya menulis 14 naskah pesanan penerbit. Duabelas sudah selesai, dua sedang disusun. Tapi bukan berarti saya santai-santai setelah itu.
Di sela-sela menulis, saya masih bisa mengajar kelas menulis, masih bisa menulis naskah sendiri, masih bisa ikut lomba, masih bisa ngajarin anak, masih nulis di blog juga.
Buku ini adalah buku yang diorder penerbit kepada saya. Beberapa foto di dalamnya, saya jepret sendiri dan susun sendiri.

Pingin diorder penerbit?
Tulis yang banyak, sebanyak-banyaknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.