Ning dan Kue Kering Tanpa Telur

Kelopak matanya terbuka lebar. Sebuah gambar yang Ning tunjukkan membuat senyumnya mengembang.
“Mau mencoba?”
Ning memandangi kue itu. Kue kering berwarna putih. Dengan tulisan resep di bawahnya. Dari sebuah akun instagram.
Sebuah kue tanpa telur tanpa terigu.
“Hanya 125 gram butter/margarine, 80 ml susu kental manis dan 200 gram maizena.”

“Hanya itu?”
Ning mengangguk.
Hanya itu saja bahannya. Mungkin hanya akan menghasilkan sedikit kue. Mungkin Ning harus membuat takaran dua kali lipat agar bisa menghasilkan lebih banyak lagi.

Maka pada pagi menjelang siang, setelah dua kali putaran sepeda, Ning memutuskan.
Kue kering sederhana harus mengisi toples-toples kosongnya hari ini.
Dua kali dari bahan yang disebutkan.
Dicetak dengan alat pencetak kue.

Ning mencampur mentega bukan butter, dengan susu kental manis. Setelah tercampur rata dan diaduk dengan garpu, Ning memasukkan tepung maizena.
Adonan masih terasa lembek, tapi Ning tidak paham ukurannya.

Oven sederhana itu sudah di atas kompor. Adonan sudah berada di loyang dan dibentuk. Loyang tidak perlu disemir mentega lagi.
Kue dimasukkan dan meleleh sempurna.
“Meleleh,” ujar Ning seperti putus asa.
Kelopak mata lelaki itu mengecil. Menunjuk tepung terigu yang ada. “Mungkin perlu ditambah terigu.”

Dan lelaki yang ada di samping Ning membantu sepenuh hati. Mencetak setiap adonan dengan alat pencetak yang tinggal ditekan.
Ning ditinggal sendirian ketika semua cetakan sudah berada di dalam loyang.

Kue-kue itu dimasukkan ke dalam oven.
Menunggu beberapa saat.
Mengering dan matang.

“Seperti rasa kue kering sagu keju,” ujar lelaki itu dengan kelopak terbuka dan senyum mengembang lebar.
Ning tersenyum.
Toples-toplesnya berisi kue kering lagi.
Dan ia pun tersenyum lega.