Ketika Proses Mengeja Juz Amma, Membuat Generasi yang Tidak Instant

Pernah mengaji?
Mengenal juz amma versi tahun 1970 an?

Saya produk mengaji tahun 1970 an, dan menghasilkan anak-anak dengan produk tahun 2000 an. Saya dulu mengaji di madrasah dan mengaji ke seorang guru ngaji. Dua kali mengaji sepulang skeolah.
Pulang sekolah, istirahat sebentar, makan ganti baju dengan seragam madrasah, lalu pergi ke masjid yang berfungsi sebagai madrasah.
Apa yang diajarkan di sana?
Banyak termasuk ilmu fiqih, hadist, tajwid, Bahasa Arab, sampai hafalan Al Qur’an.
Pulang lagi, malam sehabis maghrib saya kembali lagi mengaji ke guru ngaji untuk khusus belajar tajwid dan membaca Al Quran. Otomatis tidak ada waktu untuk belajar di sekolah, ya.
Tapi entah kenapa pada masa-masa itu, masa SD dan SMP, nilai saya selalu tinggi. Hingga saya bisa mengambil kesimpulan bahwa yang melancarkan otak saya adalah karena mengaji.
Soalnya ketika besok ada ulangan, kok bisa tiba-tiba terbersit di otak pelajaran yang harus saya pelajari dan menurut feeling saya akan ke luar. Dan besoknya itu terjadi.
Pernah, ada soal yang saya tidak pernah belajar sama sekali.
Guru di sekolah hanya mengajari tentang kaum Muhajirin. Lalu di tes ada soal tentang kaum Anshor. Maka logika saya hanya mengajak untuk menjawab dengan logika berdasarkan ilmu tentang kaum Muhajirin.

Mengaji Zaman Dulu

Apa, sih, yang dipelajari dalam pengajian zaman dahulu?
Kami mengaji untuk lancar membaca Al Qur’an dengan juz amma model seperti di atas. Waktu itu belum hadir buku Iqra yang langsung membaca a i u.
Untuk menghasilkan kata a i u, kami harus mengenali huruf satu persatu lebih dahulu. Dari alif sampai ya.
Setelah semua huruf kami kuasai, maka mulai mengeja.
Alif fathah a, a.
Alif kasrah i, i.
Alif dhomah u, u.
A i u.

Kami tentunya tidak bisa langsung membaca dalam satu pertemuan. Setiap pertemuan lanjut tidaknya ditentukan dengan kemampuan kami.
Setelah itu ada proses menyambung huruf. Huruf di depan, huruf di tengah dan huruf di akhir.
Setelah lancar semua, horeee kami naik tingkat.
Bisa membaca juz amma alias surah pendek di juz 30. Dimulai dari Al Fatihah. Tapi selancar apapun kita sudah bisa mengeja, tetap surah itu harus diejak juga.
Misalnya
Bismillahirrahmanirrohiim
Dieja dulu dengan ba sin mati kasrah bi. mim lam lam tasjid kassrah mil, lam fathah la, ha ra tasjid kasrah hir, ra fathah ra, mim fathah ma, nun ro tasjid kasrah nir, ra fathah ra, ha kasrah hi, mim kasrah mim.
Baru bisa baca langsung kalimat bismillah.
Dan sepanjang membaca surah Al Fatihan harus dieja seperti itu. Jadi sekali setor ke ustadzah tidak ada yang bisa langsung selesai dari ayat pertama sampai ayat terakhir.Paling mentok hanya dapat tiga ayat.

Tapi apa yang saya dapat dari hasil mengeja seperti itu?
Saya ternyata menjadi generasi yang setia pada proses, tidak patah semangat.
Dan mudah membuat target yang dipatuhi untuk mencapai target tersebut.