Bukan Sekedar Menulis

DSCF2218

Menjadi penulis, untuk yang terbiasa menulis pada akhirnya adalah suatu hal yang menyenangkan. Kesukaan alias hobi yang bisa dijadikan profesi. Semakin menyenangkan ketika setelah menjadi ibu, karena itu artinya kita punya jadwal kerja di rumah dan bisa memantau perkembangan anak-anak total dalam jangkauan pandangan mata.
Tapi sayangnya menjadi penulis, banyak yang menganggap hanya perlu kemampuan menulis saja. Padahal menurut saya, penulis adalah seseorang yang menuliskan segala hikmah dalam bentuk tulisan (ini teori saya).
Penulis menulis apa yang ia lihat, ia jalani, ia baca, ia sikapi, ia teladani. Bukan sekedar menulis dan mengarang-ngarang cerita tidak jelas tanpa makna bahkan tanpa keinginan orang lain mengambil manfaat dari cerita itu.
Menulisnya sederhana (banyak yang berpikiran begitu). Aku punya pengalaman, aku bisa menulis, ya tulis saja. Ada yang menerbitkan, ada media yang memuat, Alhamdulillah.
Proses menulis yang sederhana seperti itu, pada akhirnya juga akan berakhir dengan sederhana. Tulisan kita berputar dari itu ke itu saja. Idenya itu ke itu saja. Cara kita bertutur juga itu ke itu saja. Banyak yang suka. Tapi lama kelamaan bisa dilanda kejenuhan.
Menurut saya, jika menulis dengan cara seperti itu, maka karir menulis kita juga hanya berjalan di jalan yang sama. Jalan di tempat, sebelum akhirnya mengambil keputusan, berhenti atau tenggelam karena tidak mampu bersaing dengan para penulis-penulis baru yang bermunculan.
Konsep menulis itu memang sederhana. Anak-anak di rumah suka menyederhanakan seperti itu. Ah gampang. Dikarang-karang saja. Itu menurut mereka yang setiap hari melihat ibunya di depan komputer dan selalu menghadiahi mereka buku-buku.
Menulis memang dimulai dari ide, setelah niat kuat tentu saja. Tapi kita tidak menulis hanya berbekal ide saja.
Kalau hanya berbekal ide, maka seorang Buya Hamka tidak akan bisa membuat novel Di Bawah Lindungan Kabah dan Angkatan Baru. Lalu berproses membuat Tafsir Al Azhar 30 juz. Kebetulan Bapak saya mengidolakan Buya Hamka jadi buku-buku beliau banyak di rumah.
Buya Hamka berproses dalam menulis.
Atau idola saya Emha Ainun Najib. Beliau mampu menulis puisi, kumpulan kolomnya juga cantik. Fiksinya juga sarat makna. Kenapa? Sebab Emha mau berproses dan sadar bahwa menulis itu butuh proses.
Menjadi penulis itu, menurut saya, seperti seperti menjadi sebuah teko berisi air. Yang ke luar dari dalam teko itu, apakah air gula, air sirup atau air comberan sekalipun, adalah tergantung apa isi yang ada di dalam diri teko itu.
Demikian juga dengan tulisan.
Jika kita terbiasa membaca yang tidak bermanfaat, maka tulisan yang kita hasilkan juga sesuatu yang tidak bermanfaat. Yang tidak membuat orang lain tergerak untuk melakukan perubahan setelah membaca tulisan kita.
Menjadi penulis itu juga jangan seperti teko kosong? Apa yang dihasilkan oleh sebuah teko yang kosong? Cuma angin. Angin yang bisa jadi membuat sakit perut. Angin yang juga tidak menyegarkan karena kecil kapasitasnya untuk membuat orang lain merasa tersejukkan.
Baca.
Seribu kali baca. Bukankan itu makna kenapa ayat pertama yang diturunkan dalam Al Quran adalah kalimat Iqra (baca). Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menjadikan.
Artinya untuk saya adalah baca. Sebab dengan membaca sumber pengetahuan kita bertambah. Dunia yang tidak pernah kita datangi akan ada di dalam genggaman ketika sebuah buku ada di tangan kita. Kebijaksanaan yang dilakukan orang lain, bisa kita jadikan teladan, jika kita mau membaca.
Termasuk menulis fiksi?
Ya, menulis fiksi (mengarang) memang sederhana. Setiap orang punya dongeng tentang hidupnya. Dan semuanya yakin bisa menulis apa yang dilihat dengan menuliskannya menjadi sebuah cerita.
Sederhana harusnya.
Tapi menjadi tidak sederhana ketika yang merasa mampu menulis itu tidak mau membaca. Kisah-kisah hidup yang ditulisnya dalam cerita, karena ia tidak mau belajar dari contoh tulisan orang lain, akhirnya mati gaya. Hanya itu ke itu saja.
Menjadi penulis harus mau berkembang.
Saya ingat betul proses saya menulis cerita anak. Ketika mahasiswa, cerpen saya beberapa kali menghiasi majalah BOBO. Tapi setelah itu, apakah saya mulus menulis novel untuk anak?
Untuk memulai menulis cerita anak lagi, setelah vakum bertahun-tahun fokus di naskah remaja dan dewasa, saya belajar lagi. Saya membeli banyak novel anak dalam dan luar negeri. Membandingkan.
Pada akhirnya mendapatkan trik ide yang tidak biasa.
Sebuah novel anak yang tidak memuaskan untuk saya, karena seringnya tokohnya tidak sebebas anak-anak khususnya sebebas saya ketika anak-anak. Kalimatnya sering terlalu panjang sehingga ketika saya ceritakan pada anak-anak, saya harus memotong kalimat itu agar mereka tidak bosan, pada akhirnya membuat saya tahu bagaimana menulis cerita yang saya suka, anak-anak suka dan mereka bisa membaca cerita itu tanpa saya pandu.
Novel Aku Sayang Bunda, itu novel anak pertama yang saya buat.
Ketika saya ingin sekali memiliki sebuah kolom di sebuah surat kabar atau majalah, setahun saya belajar bagaimana tulisan dalam sebuah kolom itu. Mengandai-andai bila kelak saya memiliki sebuah kolom di majalah.
Belajar tak kenal henti. Membaca dan menulis juga tak kenal henti dalam satu kesatuan utuh.
Jadwal menulis saya pasti. Jadwal membaca saya juga pasti. Setelah urusan rumah tangga selesai, anak-anak dan suami kenyang. Dan semuanya biasa saya kerjakan pagi-pagi. Dari mulai menyetrika, mencuci baju dan mengepel.
Selingan dalam menulis adalah ketika tukang sayur lewat, ketika anak minta ditemani membuat PR, atau ketika mereka hanya ingin adu panco juga belajar catur.
Selingan lainnya kalau lagi ingin sedikit lama ngobrol dengan tetangga. Itu artinya setelah membeli sayur, saya bisa mengobrol dulu dengan tetangga dengan tambahan waktu beberapa menit. Dan komputer tetap menyala.
Menjadi penulis itu mudah. Membaca juga tidak kalah mudah. Membekali diri dengan membaca akan membuat tulisan kita berkembang.
Jika ingin tulisan kita ‘kaya’, maka jangan hanya membaca buku fiksi saja. Coba jelajahi buku-buku non fiksi. Bertekun dalam membaca non fiksi akan membuat kita tambah ilmu.
Tulislah apa yang memang enak untuk karakter kita sesuai dengan gaya kita. Karena sebenarnya menulis itu seperti kita memakai baju. Baju yang kita sukai gayanya berbeda dengan gaya orang lain.
Beberapa tahun ini, proses membaca saya menjadi lebih berkembang bukan sekedar membaca.
Ketika sedang membaca sebuah buku, saya membayangkan ketika penulis itu menulis sebuah cerita yang sedang saya baca, apa yang sedang ia lakukan.
Pada akhirnya pengetahuan saya menjadi berkembang. Dan saya jadi memahami karakter penulisnya dari dua atau tiga buku karangannya yang saya baca.
Karakter penulis yang satu dan yang lain berbeda meski idenya sama. Seperti baju biru yang dipakai A dan dipakai B itu berbeda meski motifnya sama. Karena style ketika dia memakainya itu yang akan membuat berbeda.
Jane Eyre dan Anne Of The Island berkisah tentang gadis yatim piatu dan kisah cinta mereka. Sama-sama kisah cinta klasik. Tapi toh bisa berbeda karena penulisnya berbeda.
Dan belajar tentang karakter penulis, saya lalu mencoba menggali-gali mana tulisan yang sekedar tempelan sebuah cerita dan mana yang benar-benar keluar dari hati, membuat saya semakin kaya pemahaman juga imajinasi.
Jadi jangan mau mati langkah dalam menulis.
Saya ingin terus menulis bahkan ketika usia sudah menua dan tentu saja, saya tidak ingin diam di tempat.
Bapak saya di usia 80 tahun masih kuat ingatannya karena gemar membaca. Orangtua sahabat, penulis fiksi bahasa Jawa juga masih kuat ingatannya. Ibu saya bahkan baru belajar menghapal juz 30 di usia 65 tahun dan masih bisa menghapal, kuat juga ingatannya.
Membaca dan menulis itu rangkaian yang harus kita jalankan jika tidak ingin diam di tempat dalam menulis.