Anak-Anak Hebat di Sekolah Alam Bogor

Seminggu yang lalu ada pesan masuk di inbox FB saya. Pesan dari Ruri Irawati yang bertanya. Maukah saya mengisi sharing kepenulisan di Sekolah Alam Bogor, tempat anaknya menimba ilmu?
Ruri Irawati ini enam belas tahun yang lalu pernah jadi teman sekantor saya, lalu kami bertemu di FB dan dia jadi murid menulis saya.

Sharing kepenulisan saja sudah membuat saya melonjak girang. Audiencenya anak-anak, membuat saya bahagia. Dan sekolah alam, membuat rasa ingin tahu saya yang besar semakin membesar saja.
Ketika saya bilang oke, Ruri lalu menghubungkan saya dengan Pak Erfano. Pak Erfano ini yang membina klub menulis di Sekolah Alam Bogor.
Saya terhubung dengan Pak Erfano. Lalu beliau bicara tentang tekhisnya. Fee saya sebagai pembicara dan hal detil lainnya. Termasuk di mana acara itu berlangsung.
Oke. Setuju. Saya ditanya mau pakai apa? Jika ingin slide nanti akan dipersiapkan. Tapi sungguh berkali-kali mengajar, saya tidak suka menggunakan slide. Alasannya sederhana. Saya tidak ingin orang terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan saya. Dan saya tidak mau gambar-gambar di dalam slide jadi lebih menarik dari paparan saya.

Wayang-Wayangan Gambar

Persiapan yang saya lakukan sebenarnya sama dengan persiapan mengajar di Kelas Inspirasi. Hanya setelah saya browsing tentang sekolah alam tersebut, saya mulai bisa lebih mengukur audiencenya. Penyelenggara bilang audience mereka anak kelas empat, lima, enam juga anak SMP.
Pelajari fanpage dan web sekolah alam, saya mulai bisa mengukur audiencenya. Mereka yang sudah mulai terbiasa dengan klub menulis, pastilah punya sesuatu tentang ilmu menulis, yang sudah disampaikan oleh guru-gurunya.
Mereka yang setiap tahu ada program literacy, pastilah punya ilmu lebih ketimbang yang lainnya.
Dan mereka dididik dekat dengan alam dan bebas berekspresi, pastilah akan menjadi responden yang aktif.

Saya persiapkan semuanya.
Termasuk buku-buku yang sesuai. Saya punya buku dari Room to Read, dan tentunya bisa dipakai untuk kalangan mana saja.
Saya buatkan gambar saya print dan ambil dari internet, lalu tempelkan di tusuk sate yang saya punya di rumah.
Setiap gambar itu nanti bisa jadi panduan ide untuk mereka.

Pada Hari H

Persiapan untuk semuanya sudah beres. Sudah saya masukkan semua ke dalam tas. Jadi pagi tinggal beres.
Beres-beres cucian, setrikaan juga sudah. Maklum saya tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Takut nanti pulang capai, saya jadi kesal dengan kondisi yang ada.

Pak Suami mengantar ke stasiun. Anak-anak sekolah. Bersyukur Pak Suami ada deadline majalah dan komik, jadi pastilah deadline itu diselesaikan di rumah. Artinya tidak ada klien yang meminta datang ke kantornya.
Aman. Saya bisa berbagi ilmu sekaligus bekerja dengan leluasa, tanpa memikirkan lauk untuk makan siang. Karena kalau Pak suami ada di rumah, urusan lauk masalah gampang.

Berangkat jam setengah enam dari rumah menuju stasiun Bekasi. Bersyukur dapat kursi di commuter. Meskipun penuhnya minta ampun.
Turun di Manggarai, lanjut commuter menuju Bogor. Alhamdulillah sepanjang perjalanan saya bisa leluasa duduk, karena commuter menuju Bogor kosong.
Sampai di Bogor jam setengah sembilan kurang. Masih bisa ke musholla untuk minta yang terbaik.

Setelah itu tanya via WA ke Ruri, setelah itu saya harus naik apa? Ruri bilang sebaiknya naik ojek saja, takutnya jam segitu Bogor macet.
Okelah, di pintu ke luar stasiun banyak abang ojek menawarkan jasa. Kenapa bukan ojek online? Itulah yang dinamakan rezeki. Entah kenapa saya malas naik yang online kalau tidak terpaksa. Mungkin juga karena saya paling malas terima telepon atau menelepon. Saya lebih suka via chating saja.

Ojek sudah dapat. Sekolah Alam Bogor konon katanya dari stasiun hanya butuh waktu 19 menit. Saya beri alamatnya jalan Pangeran Asogiri. Kata tukang ojeknya tahu sekolah itu.
Naik ojek seperti itu membuat saya bisa melihat bermacam pemandangan. Merasakan berkeliling kota Bogor. Sekolah Alam itu ternyata jauh juga dari stasiun. Dan saya suka jalan ke arah sana, seperti masuk ke area Puncak. Berkelok mendaki dan menurun.
Asyiklah untuk berpetualang.

“Bu, di sini, kan?” tanya si Tukang Ojek.
“Pangeran Asogiri, Pak. Ini Sogiri,” ujar saya.
Si tukang ojek berhenti di depan pesantren. Sambil bilang kalau yang dikenal di jalan itu adalah pesantren. Sambil bilang, ibu sih gak bilang kalau pangeran Sogiri. Kalau bilang kan dicari jalan yang lebih cepat.
Helloooo…
Ah biasalah begitu. Itu juga karena omongan negatif saya di awal, sih. Saya bilang, “Bang, saya jangan diajar muter-muter, lho. Nanti diajak muter jauh, tahunya dekat.”
Akhirnya kenalah omongan negatif itu ke saya.
Si Abang tukang ojek berbaik hati mencarikan, turun dan bertanya. Ongkosnya ditambah.
Akhirnya setelah lima kali bertanya, sampailah saya di Sekolah Alam Bogor.

Semangaaaat

Ketika diundang jadi pembicara atau pengisi acara, saya memang membiasakan datang lebih dahulu dari jamnya. Alasannya karena agar saya bisa merasakan atmosfirnya. Bisa melihat audicenya. Dan ini tentu saja sarana ampuh untuk menghilangkan grogi.
Tapi terbiasa bergaul dengan anak-anak, sedikit banyak yang menguasai hanyalah semangat. Apalagi guru-gurunya welcome dan baik hati.

Saya didampingi oleh Bu Monik, ibu guru favorit para murid, karena memang luwes pada anak-anak.
Sesuai kesepakatan di belakang panggung, Ibu Monik menjelaskan tentang siapa saya.
Lalu saya naik panggung.
Mau apa?
Berdiri di atas panggung, di hadapan anak-anak, yang pertama dilakukan adalah berbagi semangat. Semangat menulis. Maka saya ajarkan mereka tepuk menulis.
Anak-anak mulai sedikit tersengat.

Saya mau bicara apa, ya?
Saya mau meluaskan imajinasi anak-anak dengan menyingkirkan segala ketakutan. Menulis itu jangan takut. Apa yang ada diimajinasi tulislah.
Dan jangan sekedar menulis saja, tapi pikirkan ide yang unik. Ide dengan sudut pandang berbeda. Tujuannya agar cerita yang mereka buat menjadi menarik di mata pembacanya dan mereka juga suka membaca ulang kisah mereka karena seru.

Kalau teori saja akan membuat anak mengantuk. Percayalah.
Maka Ibu Guru harus berani turun panggung.
Turun panggung berulang kali. Memberikan gambar dan contoh ide yang unik, sampai anak-anak paham. Tandanya paham apa? Tandanya paham tentu saja mereka bisa menjawab lemparan gambar saya, jadi ide yang berbeda. Huah… saya terkejut-kejut. Mereka bukan cuma menuliskan ide, tapi berani maju ke depan untuk bertanya dan memaparkan ide mereka.

Saya berkeliling. Naik turun panggung itu adalah salah satu cara agar audience mereka diperhatikan. Dari depan sampai belakang beberapa kali. Mereka berlomba menunjukkan kertas tulisan mereka.

Oh ya, selama acara Ruri jadi juru foto saya. HP saya serahkan padanya, biar bisa mengambil semua angle. Meski pakai kamera HP saja, tapi apa yang tertangkap bisa buat dokumentasi berharga untuk saya. Thanks, Ruri.

Satu jam sesi tentang ide unik selesai. Sedikit latihan juga mereka kuasai. Saatnya berlomba membuat tulisan dengan ide yang unik. Saya menggambar di papan tulis, dan saya minta mereka menerjemahkan gambar itu.
Dan hu hu saya terharu. Ketika mereka berlari menuju kelas mereka untuk mengambil kertas, dan setelah itu mengumpulkan kertas berisi tulisannya.

Duh melihat mereka berjuang menulis, saya senang sekali.

Ada seratus kertas yang harus saya cek idenya. Kalau sudah biasa menilai, maka mudah untuk melihat sudut pandang penilaiannya.
Ada tujuh yang terpilih dan idenya unik.
Dan hebatnya dari tujuh orang itu, lima orang adalah anak laki-laki, sisanya perempuan.
Ada satu yang membuat saya terharu. Seorang anak berkebutuhan khusus, yang dari awal selalu berani mengungkapkan idenya, juga ikut menyerahkan hasil tulisannya. Meski idenya belum bagus, dan tulisannya kurang jelas, tapi saya berbisik ke Bu Monik. Saya ingin memberikan reward pada anak itu. Setelah tujuh anak turun panggung, anak itu naik ke atas panggung.

Saya juga mendapat kenang-kenangan, berupa merchandise hasil kerajinan tangan dari anyaman kertas murid sekolah alam, plus buku karya mereka juga piagam penghargaan.

Ruri mengajak saya kuliner di Bogor merasakan tauge goreng. Enak rasanya tauge goreng, Apalagi cuaca di Bogor mendukung, mendung gelap.
Setelah kenyang tauge goreng, kami pulang ke rumah Ruri. Saya main ke rumahnya numpang shalat juga.
Satu jam di sana akhirnya pamit pulang menuju stasiun kembali.

Pengalaman apa yang bisa didapatkan hari itu?
Dari sekolah alam saya belajar, bebaskan anak-anak, puaskan masa bermain mereka, tapi tetaplah ikat dengan akidah agama. Maka mereka akan jadi generasi hebat yang sesungguhnya.