Mendidik Anak Menjadi Pribadi Androgynous

Ada banyak cara mendidik anak. Yang sering saya lakukan adalah mengikuti apa yang orangtua saya lakukan, dengan membuang apa yang tidak sesuai untuk saya.
Ada banyak pelajaran masa lalu yang saya dapatkan.
Dan pengalaman itu yang saya bawa untuk mendidik anak-anak.
Meskipun ada juga yang tidak bisa totally 100 persen saya bawa. Yaitu didikan agar kakak mengalah pada adik. Adik saya empat orang, dengan karakter yang jauh berbeda dari saya. Proses mengalah dengan empat adik itu, membuat saya sulit untuk berkata tidak. Untuk berani menolak pun, itu saya pelajari bertahun-tahun. Dan merasa seperti terbebas dari belenggu, ketika saya bisa berkata tidak, pada orang yang sebelumnya tidak pernah saya tolak.

Anak laki-laki dan perempuan sama didikannya. Itu yang terjadi di rumah saya. Bapak bersikap tegas untuk 8 anaknya. Kalau di rumah yang ada anak perempuan, dan saat itu Bapak butuh semen, maka disuruhlah si anak perempuan untuk pergi ke toko bangunan.
Eh kok pasnya saya terus yang ada di rumah, karena saya paling betah di rumah. Maka jadilah saya sering beli semen, paku dan lain sebagainya. Pernah ada teman yang bertanya, kenapa saya mau aja disuruh ke toko bangunan?
Pernah juga waktu Bapak butuh bambu untuk bikin pagar, saya dan adik saya yang masih SD beli bambu di tukang bambu. Lalu mengantar si tukang yang membawa gerobak sampai rumah.

Anak harus patuh pada orangtua. Itu juga pelajaran dari Bapak.
Karena itu ketika pada malam hari Bapak butuh soto kambing atau yang lainnya, anak-anak akan diminta ke warung. Padahal untuk ke warung kami harus melewati rumah kosong yang luas dan lebar. Jadi bukan jalan tapi lari untuk sampai ke tukang soto.
Kalau apa yang dibeli salah, Bapak juga tidak membolehkan pasrah. Pernah saya kebagian membeli sesuatu dan si tukang salah. Saya bilang kasihan tukangnya, sembari gak enak hati untuk membalikkan barang itu. Tapi Bapak menyuruh mengembalikan barang itu, dan saya terpaksa ke toko.

Pelajaran-pelajaran itu ternyata mengena betul di hati saya. Padahal orangtua dulu tidak paham teori psikologi.

Pribadi Androgynous

Pribadi ini justru saya kenal setelah saya membaca buku parenting. Oh ternyata apa yang diajarkan Bapak dulu betul, ya.
Di rumah saya biasa melihat Bapak masuk ke dapur, sampai menyetrika pakaian. Dan di rumah juga biasa, kalau perempuan pegang gergaji atau palu. Yang anak laki-laki berada di depan ulekan juga biasa.

Pribadi androgynous sendiri pribadi yang memilik sifat seimbang.
Laki-laki akan tumbuh sebagaimana laki-laki, tapi ia memahami sisi feminim dengan kadar secukupnya.
Individu androgyny memiliki panduan karakteristik laki-laki dan perempuan. Dan panduan ini membuat mereka menjadi fleksible dengan situasi di mana mereka berada.
Lelaki bisa bersikap semestinya laki-laki, tapi ia bisa memiliki kelembutan yang tentunya akan bermanfaat ketika berumah tangga.
Perempuan memiliki sisi kelembutan, tapi ia juga bisa tegas dan cekatan ketika berada pada satu situasi tertentu.
Menurut para ahli sebenarnya perempuan memiliki sikap animus (maskulin) dalam dirinya. Dan laki-laki memiliki sikap anima (feminim) dalam dirinya.

Apa yang Bapak saya lakukan dulu ternyata sangat efektif untuk saya. Saya terbiasa memanjat pohon tinggi. Masuk ke dalam rumah tangga, biasa bersentuhan dengan paku, palu juga semen. Sedikit dengan listrik karena kadang-kadang salah sambung juga dan konslet.
Dan untuk hal-hal yang sifatnya kecil, didikan itu ternyata membuat saya sigap bersikap.
Kalau ada kucing mati, jangan nunggu suami untuk menguburnya. Ambil pacul, pacul tanah, kuburkan. Sesederhana itu.

Dan kebetulan juga saya berjodoh dengan suami yang mendapat didikan yang sama. Jadi ketika saya sedang capek, yang masuk dapur adalah suami. Yang mengepel lantai adalah suami. Tidak ada yang merasa, kenapa ini jadi tugas aku? Sebab semua ada porsinya juga.

Mendidik Anak

Mendidik anak menjadi pribadi seperti ini, bagaimana caranya?
Kalau saya, hanya meneruskan apa yang orangtua saya lakukan.
Tugas mencuci piring setelah digunakan, adalah tugas setiap anak. Laki-laki perempuan sama saja. Selesai makan, cuci piring mereka.
Tugas membeli sesuatu di warung sembako atau warung makan, adalah tugas bersama. Semua bisa melakukannya.
Tugas membantu orangtua adalah tugas bersama. Siapa yang sedang ada di rumah, dan pada saat itu orangtua butuh bantuan, maka ia yang harus mau ringan tangan membantu.
“Kenapa, sih, harus bantu? Kan Ayah bisa sendiri?” itu biasa anak-anak katakan.
Saya cuma bilang.
“Kalau orangtua tidak minta bantuan, itu artinya kalian yang rugi. Karena pahala kalian tidak tambah. Sayang, kan? Lagipula nanti kalian akan jadi orangtua, dan akan merasakan hal yang sama.”

Jadi kalau ada yang melihat suatu hari anak perempuan saya naik genteng, dan anak laki-laki saya menenteng telur dari warung, sungguh itu bukan karena saya mengajarkan agar mereka menjadi kelaki-lakian atau keperempuan-perempuanan.
Tapi ini dalam rangka agar mereka menjadi manusia yang paham sisi lain karakter manusia.