Lima Tahun ke Depan yang Abstrak

Pernahkah kita takut dengan masa depan anak-anak kita? Masa depan mereka yang masih jauh. Saya sebagai orangtua sungguh takut, jika lingkungan menyeret anak-anak begitu jauh. Tidak sedikit cerita dari orangtua lain yang merasa kecolongan ketika lingkungan mendekap anak mereka terlalu erat. Anak-anak mereka menjadi anak yang jauh dari orangtuanya dan susah diberi tahu.
Ada beberapa cerita yang justru datang dari para ibu terpelajar. Ketika setan menggoda dengan rasa was-was akan masa depan. Lalu membuat ibu itu mengambil keputusan membunuh anak kandung mereka sendiri.

Ketika anak-anak kecil, saya tidak terlalu khawatir. Mereka saya sekolahkan di sekolah dasar dekat rumah, yang jam belajarnya pendek. Yang ketika pulang bau keringat. Iyalah, sekolah kampung, di pinggir kali dengan teman-teman banyak dari anak-anak kampung. Ketika jam pelajaran sekolah, guru tidak ada di kelas, mereka bebas berlarian ke sana ke mari sesuka hatinya.
Masa kecil mereka puas dengan bermain. Dan saya bahagia tentu saja sebagai orangtua, tidak mau tahu apakah menurut orangtua lain, pendidikan model itu salah atau tidak. Sebab, saya yang paling tahu tentang anak-anak saya, bukan orang lain.

Arahkan Mimpi Mereka

Saya pernah menjadi remaja. Saya pernah jadi orang bimbang. Saya pernah jadi orang yang tidak dipahami mimpi-mimpi yang sama punya. Iyalah, wajar jika mimpi saya tidak dipahami. Karena Bapak yang pegawai negeri, ibu yang ibu rumah tangga dan kami tinggal di perumahan pegawai, tentunya wajar jika putaran mimpi bapak dan ibu tentang kesuksesan hanyalah seputaran sukses sebagai pegawai.
Mimpi saya jadi penulis dan punya sekolah gratis, adalah mimpi yang aneh untuk mereka. Aneh untuk tetangga kanan kiri. Dan tidak dimengerti pada saat itu sangat tidak mengenakkan. Sampai-sampai saya punya sosok khayalan seorang kakek tua, yang selalu memahami saya.
Setiap orang lain tidak mengerti, saya ciptakan sosok itu. Sehingga saya merasa seperti ada teman yang terus membimbing saya.
Tidak mau sakit hati lagi ketika orang lain tidak peduli dengan mimpi saya.

Lalu tiba saatnya saya jadi orangtua.
Anak-anak tumbuh semakin besar dan jadi remaja. Mereka memang ditempatkan di sekolah yang lebih terarah. Saya berpikir mereka sudah puas dengan masa bermain dari kecil hingga kelas enam SD. Sudah saatnya sekarang mereka belajar memahami ada aturan lain dalam belajar.
Sekolah dengan julukan plus itu tentu tidak mudah. Saya yakin karena sekolah itu membuat anak-anak semakin bertambah pemahaman agamanya. Di sekolah umum tentu saja sulit.
Tapi materi pelajaran terlalu penuh. Meski mereka mampu, tapi saya tahu mereka lelah dengan banyaknya beban pelajaran. Kalau sudah lelah seperti itu, maka mereka otomatis hanya akan seperti robot. Masuk sekolah, belajar, pulang dalam keadaan capai, Sabtu Minggu membebaskan diri dengan main telepon genggam atau nonton tipi, Membaca buku menjadi sulit karena mereka tidak merasa asyik lagi dengan membaca.

Oh tidak, saya tidak menginginkan anak-anak saya tumbuh menjadi sewarna. Saya ingin mereka menjadi berwarna-warni. Saya ingin mereka tetap memiliki perbedaan, dan keunikan masing=masing.

Okelah mereka sudah remaja. Diajak main ke sana ke sini, ayo saja. Teman-teman mereka tidak punya pikiran macamn-macam. Tidak memikirkan masa depan. Jalani saja apa adanya.
Yang perempuan merasa jomblo, karena teman-teman seumurannya lagi sibuk dengan masa jatuh cinta. Sedang ia sedang saya arahkan untuk fokus saja pada pelajaran. Perasaan suka itu seperti apa.
Saya ajak duduk bersama, lalu bicara tentang banyak hal. Lelaki ganteng, lelaki berprestasi dan lain sebagainya.

Yang laki-laki sibuk dipanggil teman-temannya. Teman-teman yang sudah jauh lebih besar. Teman-temannya akan lulus SMA, dan semuanya bingung dengan cita-citanya. Ujung-ujungnya Sulung juga ikut bingung.

Ops, ada banyak masa depan. Mereka harus tahu, bahwa seorang yang dipersiapkan akan masa depan, akan memiiki cahaya lebih terang. Cahaya itu bukan hanya untuk mereka, tapi bisa untuk penerang jalan orang lain.
Kita tidak pernah tahu mau jadi apa. Tapi mempersiapkan bekal, seperti kita membuka areal baru dengan arit yang tajam. Kita mungkin tidak melewati jalan itu, tapi ketika wawasan kita sudah terbuka akan jalan itu, kita akan bisa mengambil keputusan. Lanjut atau berhenti.

Mereka tidak tahu jalan masa depan. Wajar, namanya saja remaja. Saya yang harus mengajak mereka untuk paham.
Pertama jelas, mereka harus tahu mereka memiliki potensi, yaitu sesuatu yang berbeda dengan teman yang lain. Dan potensi itu seperti lampu untuk mereka berjalan di jalan gelap.
Mereka juga harus tahu, bahwa dengan potensi itu mereka bisa melakukan apa?
Jika teman-temannya memilih A mereka tidak takut untuk memilih yang lain.

Saya ajak mereka terus-menerus bicara. Membayangkan masa depan. Boleh menjadikan saya sebagai bahan perbandingan, apa yang saya lakukan dulu.
Boleh santai-santai. Letih terus ingin main game bola, tidak masalah. Asal ada batas waktunya. Mau ujian dan memilih main futsal, tidak masalah. Saya dulu mau ujian malah melahap setumpuk buku novel. Dan nilai ujiannya malah bagus, karena saya tidak stress menjalani ujian.

“Ada waktu yang sayang kalau dibuang percuma. Ada masa depan yang tidak datang dengan sendirinya, tapi lewat perjuangan.”
Anak-anak mengangguk. Mereka mengisi angket dari saya sambil tertawa.
Membayangkan kekhawatiran di masa depan. Mengingat hal-hal lucu di masa lalu ketika mereka kecil.
Dan empat jam kami diskusi tidak terasa, bahkan berlanjut ke tempat tidur. Sampai akhirnya saya sangat mengantuk dan mereka pindah ke kamar masing-masing.

Setahun ke depan mereka mau apa? Lima tahun ke depan mereka akan meraih apa?
Yang jelas, saya bahagia masih bisa memberikan wawasan pada mereka.
Dan mereka bebas melepaskan kekhawatirannya pada saya.
Bersyukur, karena tidak semua orangtua punya kesempatan seperti itu.