Sepasang Sepatu Tua

Tiba-tiba ruangan kecil yang biasanya gelap, menjadi terang. Suara langkah terdengar. Suara kursi yang berderit ketika diseret. Barang-barang yang disingkirkan. Benda-benda yang berjatuhan berbunyi ting atau bruk.
Tiba-tiba sesuatu terasa menggoyangkan. Menarik. Lalu sesuatu itu terasa membuka tutup kotak kardus pelan tapi pasti.
Ada dua senyum terlihat jelas ketika tutup kotak terbuka, tangan dengan dua cincin mungil di jari itu masuk ke dalam kotak dan menarik aku dari dalam kardus. Lalu memasangkan di kakinya.

“Sepatunya kekecilan, Mama. Kekecilaan.”
Kau hanya tersenyum. Suara-suara kecil itu membuatmu tak jadi bangkit. Rok panjang bunga-bunga yang disatukan dengan atasan putih berenda, yang kau kenakan membuat dirimu seperti seorang putri.
“Mama?”
Kau mengangguk. Mengusap sepatu berwarna biru yang sudah memudar warnanya. Sepatu kets dengan tali berwarna putih. Warnanya sudah lusuh ketika kau temukan dalam tumpukan sepatu lama di dalam gudang. Kemarin beberapa sepatu lainnya kau putuskan untuk berpindah tangan bagi yang membutuhkan, atau sekedar kau sodorkan pada penjual barang bekas untuk menambah uang belanja bulananmu.

Kau mengambil cat poster. Kau cari warna senada dengan sepatu lusuh di tanganmu. Lalu kau tersenyum ketika menemukan satu warna yang lebih cerah. Sebuah kuas kecil, bekas kau pakai untuk mengoles adonan kue terpaksa kau pakai. Lalu dalam sekejap kau sudah membuat warna biru lusuh itu kembali terang menyala.
“Jangan sampai kena hujan, Mama?” tanya bocah kecil itu memandangimu dengan wajah serius.
Kau mengangguk. “Tidak boleh kena hujan,” ulangmu pelan tapi pasti. Lalu mendekatkan sepatu yang sudah kau saput dengan cat poster berwarna biru muda menyala mendekat pada kipas angin yang menyala.

Sambil menunggu kau ambil satu buku dongeng tebal. Dan bocah lelaki itu tahu yang akan kau bacakan untuknya. Kisah putri raja dan kau pasti berpesan selalu padanya agar kelak menjadi seorang pangeran yang baik hati dan tulus menyayangi pilihannya.
Bocah itu biasanya akan mengangguk, memainkan ujung rambut ikalmu sebelum akhirnya tertidur dengan tersenyum.
Masih sempat kau pandangi sepatu itu. Sudah lama kakimu tak memiliki sepatu yang pantas untuk pergi. Kau harus berhemat. Karena kau yakin semua kepala akan mengatakan hal yang sama. Seorang istri yang baiklah haruslah bisa berhemat.
Katanya kau tidak bisa berhemat. Katanya kau suka menghabiskan uang belaja di online shop untuk membeli apa saja. Katanya itu membuat kau menghitung berapa banyak barang dari online shop yang kau beli. Sebuah cetakan kue yang terpakai untuk mencetak pesanan kue kering di hari raya. Dua buah wallpaper untuk menghiasi kamar agar tidurmu bisa lebih indah. Sebuah blender tangan yang kau pikir akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah.
Hanya itu dan kau belum menginginkan yang lain. Kau setia memandangi pergerakan tanggal dengan mengelus dada dan melebarkan senyum.

“Mama mau memakainya?” tiba-tiba bocah itu terbangun. “Ke arisan? Undangan sunatan?”
Kau menjawil hidung bocah kecil itu. Lalu mengangguk yakin. “Nanti Mama pasang renda yang bisa dicopot dan dipasang untuk pengganti tali sepatu. Atau bros berwarna ungu.
Kedua bola mata bocah itu membesar. Bulatan matanya berputar-putar. Lalu bibirnya membentuk bulatan. Mungkin ia sedang membayangkan suatu masa bila ia jadi seorang pangeran dan melihat seorang putri memakai sepatu kets berenda.
Kau memeluk bocah itu erat. Kau menyayanginya sepenuh hati. Kau tidak ingin ia ikut terluka dengan luka yang baru bersarang di hatimu. Karena itu kau mengajaknya masuk ke gudang mencari masa lalu. Sebuah masa bertahun-tahun yang lalu ketika air mata Ibu mengalir deras di pipi dan kau memergokinya. Lalu Ibu hanya berkata kalau setiap pernikahan pasti akan mengalami titik seperti ini.

Sekarang kau berada di titik yang sama tapi berbeda tempat.
Kau tahu ada banyak bentuk pernikahan. Dan ada banyak akhir. Bertahan adalah sebuah kemenangan begitu ujar Ibu.
Kau tahu kau harus bertahan. Sebuah pernikahan bukan pesta yang begitu selesai kau bisa keluar. Kau harus menerima permen manis dan obat pahit di saat bersamaan.
Dan kenangan membawa pada sebuah gudang.

Sepatu itu memang tidak sepanjang jari kakimu. Tapi kau bisa menekuk jari-jemari yang memanjang tidak terlalu jauh dari ukuran nomor sepatu itu. Kau bisa mengakalinya. Kau bisa melakukan banyak hal termasuk membasahi dalam sepatu itu lalu kau mengeringkannya dengan meletakkan sepatu itu di pinggir kompor yang menyala. Setelah itu sepatu akan melebar terkena panas lalu jari jemarimu yang lebih besar itu bisa pas di sepatu itu.
Dulu kau ingat, seorang juga pernah melakukannya. Dengan hair dryer hitam yang sekarang kau miliki tapi tak bisa lagi kau benahi karena seorang yang bisa kau mintai tolong tidak berkenan dan malah menyodorkan brosur barang seperti itu, dengan catatan jika kau mau, kau akan diantar ke tempat itu. Tentunya dengan uang yang harus kau sisihkan setiap bulannya.
“Mama senang?”
Kau senang. Sepatu itu mengering sempurna. Artinya kau bisa memakainya.
**

Pagi ini kau cantik sekali dengan rok panjang berbunga pink yang senada dengan atasan berwarna dasar sama.
Kau cantik dengan rambut tergerai. Lalu kau berjalan mendorong pagar rumah dari kayu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga kau harus mengangkatnya dengan tenagamu. Tapi bibirmu tersenyum.
Kau mungkin akan berjalan lurus ke arah matahari terbit. Biasanya kau menggandeng tangan bocah kecil yang biasa kau bawa. Tapi sepertinya bocah itu semalam tidak tidur bersamamu. Kau memarahinya semalam karena merengek minta mainan. Lalu kau minta ia meminta pada seorang lelaki yang biasa dipanggilnya Papa.

Kau akan bertemu seseorang pada pertemuan matahari dan batang-batang daun jati. Lalu kau akan tersipu. Menundukkan kepalamu. Setelah itu kau berjalan seperti ingin terbang. Kau terlihat begitu bahagia.
Kau tidak pernah berdusta. Kau selalu bicara apa adanya. Tapi kau tahu, setelah pertemuan itu kau akan dihadang dengan banyak pertanyaan dengan kepala menggeleng berkali-kali.
Kau akan berkata soal kerajinan tangan yang kau buat untuk dijual kembali dan uang hasilnya bisa dipakai untuk menutupi semua kebutuhan rumah tangga yang harus kau tanggung sendiri.
Kau tunjukkan bukti segala macam kerajinan yang kau buat. Kau tunjukkan keranjang dari kertas koran yang kau gulung kecil-kecil lalu kau jalin sempurna. Kau habiskan sepanjang waktu tidurmu untuk melakukannya, agar bocah kecil yang selalu tidur memelukmu bisa bahagia membeli mainan.
Kau tunjukan tisu tisu bergambar untuk kotak pensil.
Kau juga tunjukkan stik es krim yang kau kumpulkan dari sebuah tempat, lalu kau cuci bersih untuk kau rekatkan dengan lem dan jadikan kerajinan tangan yang bisa kau jual dengan harga berkali-kali lipat.
“Kau selingkuh.”

Dan kau hanya menangis diam-diam. Biasanya pada saat itu kau akan berlari ke kamarmu dan kau masukkan kakimu ke dalam sepatu itu. Sepatu yang dulu dipakai wanita yang kau panggil Ibu. Sepatu yang selalu Ibu pakai ketika Bapak mengeluarkan kata-kata yang membuat Ibu dipenuhi air mata.
“Pilihan ada di tanganmu. Bahagia atau bersedih. Masukkan saja kakimu ke dalam sepatu ini. Hanya bayangkan kebahagiaan. Maka kau akan bahagia.”
Dulu Ibu membayangkan menjadi putri raja, lalu mengambil kain dan membelitkan di pinggangnya. “Aku ratu tercantik di dunia,” ujar Ibu sambil tertawa.
Sekarang kau membayangkan menjadi Alice di Negeri Ajaib atau Dua Belas Putri yang Menari yang mencari dua belas pangeran yang bisa diajak menari. Atau mungkin Gadis Angsa yang akhirnya bertemu dengan seorang pangeran yang jatuh cinta padanya.
“Hidup ini sekedar mimpi. Kamu putar tombolnya. Sesuka hatimu.”
Maka sejak itu kau melakukannya. Kau memutar tombol bahagia ketika hatimu sedang duka. Kau memutar tombol senyum ketika sepasang mata di depanmu memberimu banyak sekali keluhan. Bahkan kau sering terlupa dan terus bernyanyi sehingga seorang pencemburu yang selalu ada di tempat yang sama dan hidup bersamamu berpikir kau jatuh cinta untuk keseribu kalinya dengan seribu orang yang berbeda.
**

Hari ini kau bermain dengan ranting kecil yang kau patahkan. Kau memandangi sepatu yang kau sayang-sayang.
“Kau hidup di masa kini untuk masa depan. Kau hidup untuk dunia nyata bukan dunia mimpi.”
Kau terkejut. Seorang kawan lama memeluk tubuhmu kuat-kuat.
“Kau terlalu banyak berkorban dan itu bukan masanya lagi.”
Sekarang kau memandangi buku harianmu. Ada catatan luka yang kau tulis. Ada juga catatan bahagia. Kau ingin membandingkan untuk mencari tahu. Apakah kau bahagia dengan pengorbanan itu atau tidak?
“Kau tidak cantik lagi,” tiba-tiba sebuah suara ada di belakangmu. Dan sebuah senyum di bibir merah ada di belakangnya.
Kau tahu, hitunganmu sudah selesai. Kau harus berani mengambil keputusan.
**

Jika saatnya tiba, begitu katamu pelan.
Rambutmu panjang ikal sebatas pinggang. Kau membuka pintu. Pada saat itu matahari seperti ingin memelukmu sempurna lewat sinarnya. Bajumu biru panjang dengan sepatu kets yang kau cat ulang.
“Sebuah pernikahan yang bahagia..,” ujarmu merentangkan tanganmu tepat ketika kau berada di sebuah batang pohon yang besar. “Aku mencintainya apa adanya.”
Lalu kau mencoba menghitung lagi. Apa yang salah selama ini. Kau atau seorang lelaki yang sudah kau pilih sebagai pasangan hidupmu.
Kau berkerut, kau berpikir, kau meneteskan air mata.
“Aku bahagia seperti ini…,” ujarmu sambil tersenyum.

Kau tentu layak mendapatkan yang baru. Tapi kau juga layak untuk bertahan.
Kau perempuan hebat. Hari ini kau berdiri di samping seorang lelaki dan menggandeng tangannya ke luar dari rumah yang bertuliskan kata dijual.
Kau kembali menjadi seorang pengantin dengan baju panjang berenda berwarna putih dan seorang lelaki berkemeja batik yang memeluk pinggangmu.
Kopor sudah kau siapkan. Ada beberapa. Sebuah truk berisi banyak barang baru saja pergi meninggalkan jejak debu-debu yang berterbangan.

Kau cantik pagi ini.
Daun-daun mangga menguning dan jatuh tepat mengenai rambut ikalmu.
“Mama…, sepatunya ditinggal di sini?”
Kau mengangguk pada seorang bocah yang memandangiku tanpa berkedip. Kau menjadi malu, karena pakaian pengantinmu membuat banyak mata tetangga memandang ke arahmu.
“Aku akan tetap jadi pangeran buat Mama,” ujar bocah kecil itu padamu.
Kau tersenyum. Hari ini kau menikahi pria yang sama dalam hati, mengulang janji yang sama tapi mencoba memulai sesuatu yang berbeda.

Sebuah kota yang akan merengkuhmu dengan kabut setiap pagi dan senjanya akan kau tinggali. Dan lelakimu setuju setelah mengucapkan selamat tinggal pada seorang perempuan yang pernah datang menggoda.
Semua hasil kesepakatan berdua. Kau yakin merevisi apa yang harus direvisi dalam sebuah pernikahan, akan membuat kau bahagia.
“Terima kasih untuk membuatku bahagia,” ujarmu melepaskan aku, lalu mengelusnya dan menaruhnya di dalam sebuah kotak. “Semoga pembeli rumah ini akan melakukan hal yang sama.”
Ketika kotak sepatu tertutup, lampu di gudang dimatikan dan pintu gudang dikunci, aku tahu sebagai sepasang sepatu tua aku sudah bahagia.