Anak Hebat, Anak yang Berani

Tiba-tiba ada kasus heboh di dunia perbukuan. Kasus heboh seperti yang lalu lalu. Kejadiannya sama. Seorang mengambil halaman buku yang paling heboh, atau dianggap heboh. Difoto. Cekrek, lalu dimasukkan ke sosial media dan diberi kalimat yang penuh bumbu-bumbu curigaisme.

Aku anak yang berani.
Buku yang heboh itu sudah ditarik dari peredaran sejak beberapa bulan yang lalu. Penulisnya mendapat hukuman sosial. Dan sampai sekarang saya berpikir, bahwa kejadian seperti itu bisa menimpa siapa saja. Menulisnya susah, menjatuhkannya mudah. Tapi itulah, ujian dari Allah berbagai macam bentuknya.

Setelah dua minggu heboh berita tentang buku itu, termasuk beberapa ibu bertanya langsung pada saya, maka saya jadi penasaran dengan buku itu.
Sudah tidak bisa didapatkan di toko buku. Tapi melihat gambaran utuh dari buku itu, di blog-blog teman, saya paham. Sebenarnya buku itu biasa saja. Iya, biasa. Untuk orangtua model seperti saya, yang suka diskusi tentang banyak hal pada anak.
Dan ketika berita bertambah lagi dengan kenyataan, bahwa buku yang ditarik itu idenya sama dengan buku yang sudah muncul sebelumnya, saya bergegas memesannya.

Ah, Ide yang Sama

Hebohnya buku yang ditarik dari peredaran justru membuat saya tambah ilmu. Ternyata ada buku lain yang lebih dulu muncul. Ternyata buku yang ditarik itu, idenya sama dengan buku yang laris manis hingga cetak ulang beberapa kali.

Saya jadi membayangkan kejadian.
Apakah buku itu diminta oleh editor penerbitnya? Karena si editor melihat buku model seperti itu laris manis di pasaran? Lalu ingin membuat karya yang mirip, dengan tampilan isi yang berbeda, tapi memunculkan persoalan yang kira-kira sama, dialami oleh anak-anak?
Jadi ketika di toko buku, orang punya alternatif memilih, dan bisa jadi memilih buku dari penerbit tersebut.

Bukan rahasia umum di negeri ini. Ketika ada satu buku yang laris menis, maka banyak yang berlomba membuat buku yang sama.
Atau…, atau apakah si penulis yang menawarkan diri menulis tentang buku itu? Melihat buku yang pertama, lalu memikirkan ide apa yang belum dibahas dalam buku itu, dan akhirnya dibuatlah ide itu, untuk dikirimkan pada penerbit. Dan penerbit menyetujui?

Well, ide yang sama.
Saya selalu berpesan pada murid-murid menulis untuk riset luar dalam. Sehinga ide itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Ini kekhilafan dan harus dimaafkan. Membayangkan kalau saya jadi penulisnya, saya sendiri merasa mungkin tidak akan sanggup. Membayangkan tayangan tentang buku itu di televisi dan media online. Lalu para tetangga membacanya. Lalu mereka ambil sikap antipati seperti yang banyak dilakukan para ibu yang tidak suka membaca, tapi nomor satu menuduh di banyak group WA.
Membayangkan apakah si penulis jadi trauma untuk menulis lagi, sungguh membuat saya sendiri jadi sedih.

Pelecehan Oh Pelecehan

Pernah menjadi anak kecil?
Pernah.
Anak kecil yang hampir diculik. Tapi syukurlah saya banyak baca buku tentang penculikan, jadi bisa menghindar dari membuat taktik bersama teman saya. Lalu kabur dari penculik itu.
Pernah kena pelecehan. Ketika naik bus dan seseorang menempelkan kemaluannya pada saya. Dan saya merasa kotor dan malu. Bapak malah meminta saya untuk membawa pensil tajam atau peniti. Kalau ada orang seperti itu lagi, saya diminta menusuk langsung.
Pernah terkena lelaki exhibition di jembatan penyebrangan. Karena saya takut menyebrang jalan yang ramai. Lalu naik jembatan penyebrangan. Dan ternyata ada seorang Bapak di sana menurunkan celananya di hadapan saya. Saya panik dan lari ketakutan.
Pernah juga lari ketakutan karena setiap akan berangkat sekolah, ada seorang kakek yang siap untuk memeluk dan mencium. Hingga saya harus mencari jalan melewati tempat lain di pinggir sungai.

Ada banyak pelecehan, memang tidak fatal.
Ada banyak cerita pelecehan juga, dan saya tahu bisa fatal terjadi. Pemerkosaan, sodomi dan lain sebagainya. Karena itu saya bentengi anak-anak dengan pemahaman ilmu tentang banyak hal. Termasuk berhati-hati dengan orang lain, dan menghargai diri sendiri dengan tidak membolehkan orang menyentuhnya.

Buku karangan Watiek Ideo mengajarkan hal itu.
Anak yang melihat kemaluannya untuk membandingkan dengan adik perempuannya yang baru lahir.
Itu persis dengan Sulung saya dulu. Saya tinggal sebentar waktu itu, lalu saya lihat Sulung membuka-buka kemaluan adik bayinya. “Ibu, kok gak ada yang panjang seperti punyaku?” begitu yang ditanya Sulung.

Ada tentang anak yang harus memakai baju ketika ke luar rumah. Karena baju itu seperti helm ketika naik kendaraan. Meski panas tapi berfungsi untuk melindungi.
Ada cerita tentang anak yang terkena pelecehan seksual dan mengadu pada orangtuanya. Anak itu menyadari bahwa orangtualah tempat yang nyaman untuk berbagi.

Buku ini bagus.
Recommended sekali.
Diterbitkan penerbit Gramedia. Konon katanya karena peristiwa buku yang ditarik dengan judul yang sama, buku ini terkena imbasnya, tidak boleh di display. Jadi untuk yang mau membeli bisa bertanya pada pegawai tokonya.

Saya beli buku ini karena ingin meminjamkannya pada anak-anak tetangga yang belajar di rumah. Juga ibu-ibu tetangga. Agar mereka paham banyak dan bisa mengajarkan pada anak, bagaimana cara melindungi diri sendiri, dari orang-orang yang punya niat jahat.