Satu Gelas Kurma Saja

“Satu gelas kurma saja,” suara itu terdengar olehmu. “Satu gelas saja.”
Satu gelas kurma.
Kurma yang sebenarnya dulu tidak pernah ingin kau sentuh, karena kau tidak suka warna hitamnya. Kurma yang terasa di lidahmu terlalu manis.

“Dibelah kurmanya. Buang bijinya. Lima sampai tujuh butir kurma. Masukkan ke dalam gelas, Siram dengan air panas. Biarkan dingin. Buatlah di malam hari dan minum di pagi hari.”

Kau mengangguk.
Kurma, kurma dan kurma.
Kau tahu, tidak ada sesuatu yang tercipta sia-sia. Buah yang disunnahkah dan dijadikan contoh untuk berbuka puasa. Yang salah bukan buah itu. Yang salah lidahmu.

“Atau rebus saja sampai airnya mendidih.”

Kau mulai belajar mencoba.
Usia merangkak naik. Udara sepertinya tidak lagi ramah padamu. Angin cepat masuk ke dalam tubuh, menerjang semua tulang rusukmu.
Obat-obatan tidak kau sukai, karena sejak kecil sudah kenyang obat kimia masuk ke tubuh kurusmu.

“Kurma untuk kesehatan. Sambil berdoa.”
Maka ketika seorang lelaki yang sudah 16 tahun hidup bersamamu mulai mudah jatuh sakit juga, kau mulai mencoba.
Bukan permen lagi yang ada di toples-toples milikmu. Tapi buah-buah kurma.

Setelah Subuh, kau mulai berada di dapur.
Air kau masak. Lalu kau masukkan beberapa butir kurma yang sudah kau belah. Bijinya ikut di dalamnya. Kau tidak membuangnya. Kau berharap mengumpulkan bijinya, untuk kau oleh jadi kopi. Kopi yang bisa menemanimu ketika sedang berada di depan komputer. Meski niat itu belum juga terlaksana.

Segelas kurma di pagi hari disertai doa.
Manisnya terasa.
Segarnya menghangatkan tubuhmu.
Seorang lelaki yang hidup bersamamu, mulai terlihat semakin membaik karena minuman yang kau buat setiap pagi. Mungkin kekuatan doa-doamu juga jadi pewarna di dalamnya.

“Satu gelas kurma, saja,” ujar suara perempuan tua di seberang sana. “Jangan lupa olah raga.”‘
Kau tahu, memang harus melakukannya.

Satu gelas kurma.
Setelah segelas air putih.
Kau tahu, sekarang ia jadi minuman wajib untukmu.