Bola-Bola Biskuit Coklat

Kau mengerjapkan kelopak mata. Lagi dan lagi.
Satu plastik besar bertuliskan nama mini market tak jauh dari rumah, berhamburan isinya.
“Bukan yang ini.”
“Bukan pula yang itu.”

Kau mengerjap. Matamu hampir basah. Hujan di luar mungkin harus turun sempurna, agar kau bisa mewakili perasaan hatimu pada derasnya tetesan hujan.
“Kau selalu salah.”
Kepalamu menunduk.

Ada banyak roti.
Ada banyak biskuit.
Tapi tidak ada yang bisa membuat wajah itu tersenyum.

Kau memilih berlari ke belakang. Merasa putus asa. Lalu kau perhatikan satu persatu.
Kau harus menerobos hujan untuk mendapatkannya. Bahkan kau mengurai letih dan menggantinya dengan senyum.
Dua bungkus biskuit bulat yang kau dapatkan dengan harga diskon.
Satu kaleng susu masih tersimpan di lemari, pemberian seseorang yang baru kau kenal.
Ada coklat warna-warni yang warnanya sering mengingatkan kau pada suatu masa, di mana hidupmu penuh warna. Ketika seorang lelaki diam-diam selalu memujimu.

“Kau tahu apa yang ingin kumau?”
Kau tahu, apa yang ia inginkan. Tapi kau perlu yang lain.
Kau butuh lima menit saja untuk kembali ditarik ke masa lalu. Teman-teman yang baik, pesta kecil untuk gadis kecil. Makanan yang tersaji lalu pelukan-pelukan hangat.

Kau merasa berharga ketika mereka memberikan sesuatu yang berbeda.
Arisan yang membuat namamu muncul lebih dahulu. Ternyata kau tahu teman-teman membuat namamu lebih banyak, sehingga sebanyak apapun dikocok,kemungkinan besar namamu yang akan ke luar.
Kau merasa berharga ketika seorang teman menghadiahkan kue tart, hanya karena membaca coretan di buku pelajaran yang ia pinjam.
Kau merasa berharga ketika teman-teman baru di perusahaan baru, menahan langkah untuk pulang. Sebuah meja, sebuah tart, seorang boss dari negeri lain berkumpul. Memberikan doa-doa terbaik.

“Sudah, kah?”
Kau ingin kembali ke masa lalu sejenak saja.
Maka biskuit bundar itu kau buka bungkusnya. Kau ambil lima keping saja. Kau tekan dan hancurkan ,seperti ingin kau hancurkan segala sedih yang hadir di hati.
Biskuit itu berkeping.
Lalu kau beri sedikit air panas untuk membuatnya lembek dan hancur.
Kau ambil susu dalam kaleng yang sudah kau buka. Kau tuang sedikit saja. Kau campur dan aduk hingga rata.

Pada satu wadah kau tuangkan coklat mesis warna-warni.
Biskuit yang sudah kau hancurkan, kau bulatkan menggunakan dua buah sendok. Lalu bulatan kecil itu kau gulirkan ke dalam wadah berisi coklat warna-warni.
Kau ambil kertas mungkin dari dalam lemari. Lalu kau taruh di dalamnya bulatan itu.

“Kau buat apa?”
seseorang bertanya di belakangmu.
Kau menunjuk pada bulatan penuh warna itu.
Mata itu melihatnya, lalu tangannya bergerak. Memasukkan satu bulatan ke mulutnya.

“Enak,” ujarnya.
Kau merasa lega.
Kau seperti merasa seperti dipeluk sebuah ombak yang menenangkan.