Ketika Senyum Tulus Menjadi Bayaranmu

Apa yang paling membuat bahagia?
Yang paling membuat bahagia belakangan ini untuk saya, adalah ketika melihat wajah-wajah polos tersenyum. Ketika senyum itu membuat saya melihat gambaran panjang tentang masa depan mereka. Sepuluh tahun ke depan, duapuluh ke depan dan tahun-tahun panjang lainnya.

Anak-anak yang bersemangat dengan ilmu baru, dan akhirnya menularkan semangat pada saya. Sehingga saya berjuang untuk melakukan banyak hal juga meminimalisir keluh.

Anak-anak menjadi prioritas utama pada saya belakangan ini.
Dulu pernah berjanji, kalau Allah hanya memberi saya dua anak sebagai rezeki, maka saya harus fokus memperbanyak anak-anak orang lain yang akan sama-sama saya kasihi juga akan saya beri limapahan ilmu.
Dan ternyata Allah memang hanya memberi saya dua anak yang sudah beranjak remaja. Maka saya harus memenuhi janji, untuk merengkuh anak-anak lain untuk saya beri limpahan ilmu juga kasih sayang.

Anak-anak membuat saya bahagia.
Mereka yang memiliki orangtua hanya fokus pada pelajaran justru membuat saya miris. Mereka yang punya orangtua hanya fokus pada rangking, justru membuat saya tertantang untuk memberikan banyak.
Ada banyak hal yang harus mereka ketahu dan membuat wawasan mereka luas. Jalannya tentu saja dengan menularkan apa yang saya miliki.

Mengajarkan kreativitas tidak mudah.
Meyakini bahwa kreativitas membuat bahagia juga tidak mudah. Apalagi untuk orang-orang yang yakin bahwa uang dan bekerja di kantorlah yang akan membuat bahagia.
Meyakini bahwa dengan banyak membaca membuat pintar, dan jika sudah pintar, maka akan mudalah meraih semuanya.

Langkah saya tertatih-tatih.
Mengetuk satu sekolah ke sekolah lain. Bukan untuk minta jadi guru. Tapi saya ingin diberi ruang untuk mengajari anak-anak di sana tanpa bayaran.
Mereka suka dan bahagia sudah jadi bayaran untuk saya.
Ketukan tidak dijawab.
Satu-persatu pengurus masjid saya datangi, hanya ingin menggerakkan perpustakaan yang ada di masjid. Satu masjid menjawab, diberi ruang, tapi tidak berkelanjutan karena pengurus yang antusias kebetulan sedang hamil.
Masjid lainnya menguap tak memberi jawaban.
Masuk ke TK menawarkan diri juga tidak ditanggapi.
Saya pikir ada yang salah. Mungkin mereka berpikir saya meminta bayaran.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memulai dari rumah. Percaya pada potensi diri di rumah dan berjalan sendiri saja.
Satu persatu anak pemulung menerima sambutan.
Satu-persatu anak tetangga datang.
Satu-persatu anak dari lingkungan lain datang.
Alhamdulillah sampai juga di titik ini.

Ada saatnya uang tidak bisa bicara.
Ada yang pada saatnya lebih bernilai dari hanya lembaran rupiah. Yaitu ketika kerja keras kita dibayar dengan senyum dari orang yang butuh. Iya butuh.

Masih banyak pintu PAUD di perkampungan yang akan saya ketuk.
Mungkin akan mengetuk instansi atau lembaga yang berwenang juga.
Saya hanya ingin membuat perubahan kecil saja. Hanya kecil saja.
Sebab senyum mereka sudah membuat saya bahagia.