10 Komik Satu Cinta

IMG_2582

Bagian Pertama

“Kembalikan buku-buku ini kepada pemiliknya,” ujar Bunda pada Kania di suatu sore sambil menyerahkan setumpuk buku komik. “Kembalikan dan jangan sampai Ayahmu tahu…”
Langit sore itu mendung. Tapi itu pasti bukan suatu sebab yang membuat mata Bunda kelihatan sembab.
“Ayahmu cemburu untuk suatu sebab yang tidak jelas. Kembalikan buku itu pada pemiliknya.”
Kania memandangi Bunda.
Itu buku-buku komik yang biasa Bunda simpan dalam rak bukunya. Buku-buku itu sudah lama sekali tersimpan di sana. Kania dulu suka membacanya ketika di Sekolah Dasar.
“Kembalikan buku-buku itu ya, Nak…”
Ada sepuluh buku komik. Buku komik doraemon yang dulu menemani Kania setiap kali kesepian di rumah.
“Bunda tahu di mana tempatnya. Kamu pasti bisa menemukannya. Tolong Bunda ya, Nak…”
Mata Bunda begitu sembabnya. Juga merah. Apa sih sebenarnya yang terjadi pada Bunda? Apa Ayah begitu marahnya pada Bunda.
“Bunda kasih tahu alamatnya, ya?” ujar Kania mencoba menenangkan Bundanya.
**
Sebuah rumah di tepi sungai. Dekat jalan raya. Kania hanya butuh naik bus dua kali dari rumah. Tempatnya tak jauh dari sekolah Kania.
“Pagarnya dari bambu berwarna-warni di mana Bunda dulu sering kali mengagumi keindahan warna-warninya,” begitu Bunda cerita dengan mata berbinar.
“Bunda benar ingin mengembalikannya?”
Bunda menganggukkan kepalanya.
Dan Kania tidak ingin mengecewakan Bunda. Bunda terlalu baik selama ini. Bunda tidak pernah marah. Bunda terlalu sabar padanya. Begitu sabarnya menghadapi Ayah yang lumayan kerasnya.
Sekarang Kania berdiri.
Tepat di luar pagar di sebuah rumah di tepi sungai yang pagarnya masih bambu dan dicat warna-warni.
Halamannya begitu luas. Dua pohon jeruk yang tidak terlalu tinggi sedang berbuah. Sebagian jeruk itu sudah hampir menguning semuanya. Sementara tidak jauh dari pohon jeruk, ada tempat duduk yang atapnya ditutupi pohon markisa yang juga sedang berbuah.
Kania jadi membayangkan duduk di tempat itu dan menikmati markisa yang sudah menguning itu.
Beberapa buah rak buku terlihat dari luar. Bermacam-macam buku. Kalau saja Bunda memberi tahu tempat itu sejak dulu, mungkin Kania akan senang menghabiskan waktu di perpustakaan ini ketimbang jalan-jalan ke mall.
Jam buka jam 10 pagi hingga jam 5 sore.
Pintu dari pagar itu terbuka.
Tapi tempat itu sepi.
“Permisi..,” ujar Kania masuk perlahan.
**
“Cari siapa, Nak?” tanya seseorang di luar. Seorang Ibu berbaju rapih. Memandang pada Kania. “Mau pinjam buku?”
Sepuluh buku doraemon itu masih berada di dalam tas Kania. Bunda bilang jangan berikan kecuali pada seorang lelaki dengan dua lesung di pipinya dan matanya tajam memandang dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Kania mengangguk. “Mau lihat-lihat dulu…”
“Oh boleh. Sekarang lagi sepi. Nanti kalau sudah menjelang sore banyak yang datang ke sini. Suka baca buku juga?”
Kania mengangguk. Mengamati buku dalam beberapa rak yang ada. Buku-bukunya sama seperti buku yang ada di rumah.
“Kalau mau baca boleh duduk di mana saja, Nak.”
Tidak ada komik. Apalagi komik doraemon. Semuanya buku-buku yang sedikit gambarnya. Kadang-kadang Kania agak pusing juga kalau baca buku dengan sedikit gambar meskipun Bunda selalu bilang kalau Kania harus mencoba menyukainya.
Rak dengan buku-buku yang sama.
Tapi lelaki yang berlesung pipi dan…
“Sudah ketemu bukunya, Nak?”
Kania menggeleng. “Om Reihannya ada, Bu?”
Kening Ibu yang ramah itu berkerut.
“Tanya soal Om Reihan saja. Kami dulu memanggilnya Sun. Matahari, Nak. Kalau kamu benar-benar sudah mengenalnya, kamu akan merasakan kehangatan matahari dari senyumnya.”
Ibu itu terus memandangi.
“Kata Bunda dulu ada yang bernama Om Reihan, yang…”
“Ayah….!” Ibu itu menghilang.
Memanggil seseorang.
**
Tapi yang datang seorang yang lain. Bapak dengan rambut memutih dan mata tajam memandang Kania. Tapi tidak ada senyum.
“Kamu cari Om Reihan?”
Suaranya juga tidak ramah. Kania bahkan jadi agak takut. Lebih takut ketimbang ketika Kania dimarahi Ayah.
Kania mengangguk.
“Untuk apa?”
Bunda pesan jangan cerita apa-apa kecuali Kania benar-benar bertemu dengan Om Reihan itu.
Kania menggeleng.
“Tidak apa-apa,” ujarnya. “Besok saya balik lagi ke sini,” ujarnya lalu bergegas pergi.
Tidak ada Om Reihan. Tidak ada laki-laki berlesung pipi yang selalu tersenyum itu. Mungkin Bunda salah.
**

“Kamu tidak menemukannya?”
Kania menggelengkan kepalanya.
Bunda memandanginya dengan sedih. Seperti berharap banyak padanya.
“Apa Bunda tidak salah rumah?”
Bunda menggeleng. “Rumah dengan cat bambu warna-warni di pinggir sungai. Banyak buku di sana. Dan Om Reihan…”
“Tapi bapak itu bukannya Om Reihan. Om Reihannya tidak ada…”
“Tapi kemarin…” Bunda memandangi Kania. “Kalau Bunda mencarinya, tolong jangan katakan pada Ayah. Ayahmu bisa cemburu.”
Kania memandangi Bunda. “Buku doraemon itu sudah lama, Bunda. Kenapa tidak disimpan saja?”
“Bunda meminjamnya dan Bunda wajib mengembalikannya.”
“Tapi sudah tujuh belas tahun yang lalu, kan?”
“Tapi tetap buku itu bukan milik Bunda.”
“Memangnya Om itu siapa?” tanya Kania.
Bunda menggeleng. “Katakan padanya untuk memberikan buku itu pada gadis yang lain…”
Bunda kok jadi aneh begitu, sih?
**

Bagian Dua

“Kania…”
Kania mungkin pulang terlalu sore. Atau Ayah yang pulang lebih awal ketimbang hari lainnya? Biasanya Ayah pulang setelah jam di kamar Kania menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya Ayah datang setelah Bunda masuk kamar dan tidur.
“Kania…”
Apa Ayah akan memarahinya karena pulang kelewat sore? Atau…
“Ayah belikan rak buku di kamar kamu. Dan Ayah isi dengan buku-buku baru. Buku-buku untuk remaja seumuran kamu. Kamu pasti suka.”
Ayah menarik tangan Kania ke dalam kamar.
Benar. Rak buku baru. Tidak terlalu tinggi. Tapi rak itu berwarna ungu seperti warna kesukaan Kania. Pintunya dari kaca. Seperti baru dilap jadi begitu bersihnya. Dan di dalamnya sudah berisi banyak buku.
Tidak ada satu deretpun yang kosong.
“Ayah…”
Ayah menepuk bahu Kania. “Ayah ingin anak Ayah baca buku yang baik. Bukan buku-buku komik seperti yang biasa kamu baca. Kebetulan buku-buku ini buku yang akan dijual diskon. Ayah dapat diskon juga tentunya. Pengarang kesukaan kamu banyak bukunya di sini.”
Kania melihat buku yang ada di tangan Ayah.
Dara.
Ayah selalu cerita soal buku-buku yang ditulis oleh Dara. Buku apa saja. Kata Ayah, penulisnya pasti pintar. Dan kalau Kania rajin membaca buku karangannya maka Kania akan ketularan pintar.
“Kamu baca dan….”
“Kenapa tidak boleh komik,” protes Kania.
“Ssst..,” Ayah mengibaskan tangannya di depan wajah Kania. “Komik itu untuk anak kecil. Kamu sudah besar. Otak kamu harus diasah untuk memahami kehidupan lebih dalam lagi. Bukan dengan membaca komik. Apalagi komik doraemon.”
Kening Kania berkerut. Apa Ayah tahu?
“Komik itu yang kemarin dulu suka kamu baca, kan? Lihat Bundamu itu. Karena terlalu suka baca buku jelek jadi gampang sakit. Pikirannya tidak luas.”
Kania diam saja.
Ayah tidak bisa dibantah. Ayah memang selalu begitu bila bicara tentang Bundad.
Setahu Kania Bunda sakit bukan karena banyak baca buku yang aneh. Darah tinggi Bunda yang membuat Bunda pernah stroke dan membuatnya sekarang di kursi roda itu turunan dari Eyang Kakung.
“Penulis Dara ini Ayah kenal. Nanti kapan-kapan Ayah pertemukan dengannya.”
Kania mengangguk saja.
Buku-buku itu begitu banyaknya. Apa ia sanggup membacanya?
**
Ayah punya satu pe er.
Malam ini Kania harus membaca satu novel yang ditulis Dara. Besok Ayah akan tanya isinya. Kata Ayah sampai halaman berapapun Kania baca Ayah akan tahu. Karena Ayah hapal setiap halamannya.
Kania mengambil salah satu buku itu.
Belum lagi membukanya, pintu kamarnya terbuka.
“Bunda…,” Kania menghampiri. “Ayah membelikan aku rak berisi penuh buku,” ujar Kania.
“Ayahmu begitu mencintainya…” Bunda bicara pelan.
“Maksud Bunda…”
Bunda menarik napas panjang. “Kamu jangan lupa buku-buku yang Bunda pesan, ya?” Bunda terbatuk.
Sakitnya Bunda mungkin bertambah parah. Bunda tidak mau ke dokter. Darah tinggi dan asmanya kumat bergantian.
Kadang-kadang Kania berpikir…
Ah, tidak. Kania tidak boleh berpikir macam-macam. Bunda pasti akan sehat
seperti sebelumnya.
**
“Om tahu rumahnya?” tanya Kania pada Om Dedi.
Pulang sekolah Kania menyempatkan mampir ke rumah Om Dedi. Om Dedi itu adiknya Bunda.
“Rumah siapa?”
“Rumahnya…,” bola mata Kania berputar. “Bunda punya pacar siapa waktu muda dulu?”
Kali ini ganti bola mata Om Dedi yang berputar. “Bundamu dulu banyak pengagumnya. Om sendiri lupa siapa-siapa saja yang dekat sama Bunda.”
“Yang suka baca buku…”
“Semua cowok yang dekat sama Bunda kamu suka baca buku. Bunda kamu tidak suka sama cowok yang tidak suka buku. Contohnya Ayahmu, kan? Ayahmu suka baca buku.”
“Selain Ayah…”
“Selain Ayah itu…”
“Yang suka baca buku komik…”
“Yang suka baca buku komik…,” kening Om Dedi berkerut. “Kenapa kamu tanya begitu?”
Kania menggelengkan kepalanya.
“Memangnya kenapa?”
“Kalau Bunda bisa sembuh sakitnya karena…”
“Reihan!” Om Dedi nyaris saja berteriak. “Om Reihan namanya. Buku komiknya banyak. Bukan anak sekolahan. Tapi dia pintar menggambar dan bikin komik. Bundamu menyukainya diam-diam.”
“Tapi Om Reihan itu…”
“Pagi itu Om melihat Om Reihan pulang dengan kecewa. Kakek mengusirnya. Sebab Bundamu akan menikah dengan Ayahmu. Setelah itu dia tidak pernah kelihatan lagi.”
“Sepuluh buku komik yang Bunda simpan…”
“Bundamu masih menyimpannya?” tanya Om Dedi seperti terkejut.
“Memangnya…”
“Kakekmu membakar hampir semua buku komik yang ada. Jadi Bundamu masih menyimpannya?” Om Dedi menggelengkan kepalanya. “Om juga tidak mengerti kenapa Bundamu begitu dekat sama dia.”
“Om tahu rumahnya?”
“Terakhir di dekat sungai. Setelah itu katanya dia pindah. Ayahmu yang tahu.”
“Tapi…”
“Ayahmu yang tahu jelas.”
Kepala Kania jadi pusing karenanya. Kalau Ayah yang tahu, bagaimana mesti ia katakan soal sepuluh buku komik doraemon itu?

**
Bagian Tiga

“Sakitkah, Bunda?” tanya Kania waktu meminumkan teh hangat pada Bundanya.
Sore yang dingin ini Bunda menggigil. Asmanya kumat. Bunda tidak pernah mau meminum obat dari dokter. Bunda hanya ingin minum teh hangat saja.
“Kalau Bunda sembuh…”
“Buku komik itu sudah kamu berikan pada Om yang Bunda katakan?”
Kania menggeleng.
Om Dedi bilang tidak mau ikut campur. Ayah Kania galak. Karena itu Om Dedi meminta Kania untuk tidak berurusan lagi dengan Om Reihan. Lagipula, Om Dedi malah berpesan agar Kania bilang pada Bundanya kalau buku itu sudah dikembalikan. Om Dedi berjanji akan menyimpannya.
“Bunda…”
Bunda terbatuk. “Kania, buku itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.”
“Kenapa harus dikembalikan? Bukankah itu sudah lama sekali? Tidak ada yang tahu di mana Om Reihan kecuali Ayah.”
Bunda menunduk.
“Apa Kania harus bertanya pada Ayah?”
Bunda masih menunduk.
Mungkin Kania memang harus bertanya pada Ayah.
**
“Sudah selesai buku novel yang Ayah pinta untuk kamu baca?”
Baru dua halaman. Itupun Kania paksakan. Tidak ada gambarnya. Bikin Kania mengantuk.
“Sudah selesai apa belum?”
Kania menggeleng. Ia harus jujur pada Ayah.
“Bagaimana kamu ini? Padahal kalau kamu bisa menyelesaikan dengan cepat,” Ayah geleng-geleng kepala. “Kamu akan Ayah pertemukan dengannya minggu depan.”
“Dia…”
“Ayah mengundangnya. Kamu pasti akan suka bertemu dengannya.”
Kania mengangguk saja.
Ayah kerja di sebuah penerbitan. Pastinya bisa dengan mudah bertemu dengan pengarang siapa saja.
“Matanya bulat seperti matamu…,” Ayah menepuk-nepuk bahu Kania. “Kamu pasti akan terkagum-kagum padanya.”
Kania mengangguk.
“Panggil namanya Tante Dara…”
Kania mengangguk lagi.
**
Badan Bunda panas.
Ayah pergi entah ke mana. Katanya ada suatu urusan.
“Ke dokter saja, Non,” ujar Bibik seperti ketakutan. “Kalau parah, gimana? Tetangga Bibik ada yang meninggal karena gak bisa napas.”
Badan Bunda panas sekali.
“Bunda mau ke dokter…”
“Komik doraemon itu, Nak..,” mata Bunda memandang pada Kania.
“Tapi…”
“Bunda akan merasa lega setelah itu…”
Badan Bunda panas.
Panas sekali.
Apa yang harus Kania lakukan?
**
Om Dedi datang di tengah malam akhirnya bersama istrinya yang dokter.
“Kalau Bundamu sakit begini harus telpon Om dong, Kan…”
Om Dedi mungkin tidak tahu kebingungan Kania.
“Kania…,” Om Dedi memanggilnya. Bicara di ruang tamu. “Bundamu bukan hanya sakit badan. Tapi juga sakit hatinya. Kamu mengerti?”
Kania tidak mengerti.
Bagaimana mungkin Kania bisa mengerti? Bunda tidak banyak cerita. Bunda lebih banyak diam. Bahkan dalam sakit sekalipun.
“Asma Bundamu itu harus dijaga,” Om Dedi kali ini menepuk pipi Kania. “Sedikit pikiran saja bisa membuat Bundamu menjadi sakit badannya.”
Kania menunduk.
Lalu ia harus bagaimana?
Ia hanya anak tunggal. Tanpa teman bicara. Kalau saja ia punya seorang kakak atau adik yang bisa diajak berbagi.
Sahabatpun ia tidak punya. Sejak Bunda sakit, ia jadi tidak enak hati merepotkan teman terbaiknya dengan masalahnya.
“Kania…”
Mata Kania basah memandang Om Dedi.
“Ayahmu yang tahu perihal Om itu. Om tidak berhak bertanya. Om hanya orang luar.”
Kania mengerti.
Ayah itu susah untuk diajak bicara. Ayah tidak akrab dengan Om Dedi.
“Om akan bantu, Kania. Kalau Bundamu sakit, kamu harus langsung hubungi Om. Tidak seperti sekarang ini. Untung asmanya tidak membutuhkan oksigen karena belum begitu parah.”
“Iya, Om..”
Kamu bicara dengan Ayahmu, ya?”
Kania mengangguk. Ia memang wajib bicara pada Ayah.

**
“Ke rumah sakit,” ujar Ayah pada Kania begitu datang dan tahu Om Dedi dan istrinya ada di rumah. “Biar Bundamu dirawat oleh dokter yang ahli. Istri Om Dedi sudah mengurusnya. Dan Ayah akan minta Bibik untuk menjaga Bundamu selama di rumah sakit.”
Bibik yang menjaga Bunda.
Diam-diam Kania memandang pada Om Dedi. Dan Om Dedi hanya mengedikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
“Besok kita bertemu dengan Dara itu. Kamu mau, kan?”
Ayah tidak bisa dibantah. Dan Kania hanya bisa mengangguk saja.
**
Bagian Empat

“Bundamu bisa kamu besuk nanti setelah kamu pulang dari bertemu dengan penulis itu.”
Begitu yang Ayah katakan pagi-pagi sekali ketika menyuruh Kania untuk membeli nasi uduk untuk sarapan.
Pagi ini ada janji dengan Tante Dara yang datang ke kantor Ayah. Ayah akan beri waktu pada Kania untuk bicara dengan Tante itu dari hati ke hati. Ayah akan menunggu di ruangan Ayah.
Beberapa novel yang Ayah berikan pada Kania belum Kania sentuh lagi. Kania tidak berminat. Kania justru memikirkan Bunda. Pasti Bunda merasa sedih karena hanya ditunggui oleh Bibik.
Nanti, sepulangnya dari kantor Ayah, Kania akan langsung ke rumah sakit. Kania akan menunggu Bunda sampai besok pagi. Mungkin Kania akan berangkat sekolah dari rumah sakit saja.
“Pakai baju yang membuat kamu kelihatan pintar. Bukan baju yang hanya mengesankan bahwa kamu menarik saja. Pintar, Kania. Banyak laki-laki akan bertahan pada perempuan karena kepintarannya. Bukan karena menariknya.”
Kania mengangguk saja.
Seperti saran Ayah, Kania mengenakan baju atasan berwarna ungu dengan motif bunga. Ditambahi jaket jeans yang warnanya coklat. Serasi dengan celana panjang coklat.
Kalau Bunda ada di rumah, Bunda pasti lain pilihannya.
Bunda akan memilih yang menarik dan sesuai dengan jiwa Kania. Bunda itu pakaiannya selalu serasi. Meskipun sakit, Bunda tidak pernah mau memakai daster. Bunda juga selalu menyisir rambutnya dengan rapih.
Seperti itukah maksudnya Ayah? Bahwa Bunda hanya menarik tapi tidak pintar?
“Ayo..,” Ayah menarik tangan Kania. “Penulis itu tepat waktu bila janji.”
Kania mengikuti.
**
“Pasti kamu sepintar Ayahmu…,” Tante itu mencubit pipi Kania. Seperti gemas.
Tante itu manis. Pakaiannya biasa saja. Warnanya ungu. Mungkin itu alasan Ayah dulu memaksakan Kania untuk menyukai warna ungu? Seingat Kania dulu setiap kali ia ingin memilih warna lain, Ayah selalu bilang kalau warna ungu itu menarik dan cocok untuk Kania. Samai akhirnya Kania menyukai warna ungu.
“Ayahmu bilang kamu suka dengan buku-buku karangan Tante…”
Kania diam.
Ia harus jujur. Bunda selalu mengajarkan hal itu. Karena satu kebohongan pasti akan diikuti oleh kebohongan yang lain.
“Dari semua koleksi kamu, buku apa yang paling kamu suka? Kita diskusikan soal buku itu. Tante butuh masukan agar bisa menulis lebih bagus lagi nanti.”
Kania diam.
Ia hanya menyelesaikan dua halaman saja. Itupun harus berkali-kali. Mungkin karena pengaruh Bunda begitu besar untuknya. Bunda selalu bilang kalau ia tidak suka buku maka ia bisa mencintainya secara perlahan saja melalui komik-komik lebih dulu.
Kalau Ayah sejak dulu memang selalu melarang komik.
“Hei…, kenapa diam?”
Kania memaksakan menarik garis senyumnya. “Aku tidak suka buku. Aku lebih suka komik.”
Hening.
Mungkin Tante itu kaget. Atau malah marah.
“Bunda suka komik. Aku juga…”
“Komik Jepang atau…”
“Doraemon…,” ujar Kania. “Tidak apa-apa, kan?”
Tante Dara mengangguk. Menepuk pipi Kania. “Suami Tante suka komik juga. Bisa menggambar juga. Kalau kamu mau belajar menggambar dengannya, Tante bisa ajak kamu ke rumah dan perkenalkan dengannya.”
Menggambar komik?
“Banyak juga buku komiknya di lemari buku.”
“Kapan aku bisa bertemu Om?” tanya Kania kali ini bersemangat.
**
Ayah diam saja sejak tadi. Bahkan ketika menurunkan Kania di luar halaman rumah sakit.
“Kamu mengecewakan Ayah,” ujar Ayah menggelengkan kepalanya.
Kania diam saja.
Tante itu janji akan menelponnya.
Bunda mungkin akan senang mendengarnya.
**
“Mari bicara soal Om Reihan…,” Om Dedi langsung menarik tangan Kania. Mengajak bicara di taman rumah sakit ketika Kania baru saja sampai. “Ini masalah serius…”
Minggu kemarin Tara juga ngomong soal masalah serius. Masalah dia naksir Angga.
Serius yang ini…
“Bundamu ini sakit bukan cuma di badan, Kania. Lebih dari 80 persen sakitnya manusia itu karena pikiran. Dan itu yang menjadi penyakit Bundamu. Heran…, dulu Bundamu itu orang yang tidak punya pikiran buruk di kepalanya.”
“Memang Bunda kenapa?”
Om Dedi menarik napas panjang. “Sekarang tidak mau makan. Apa kamu sudah tanya sama Ayah kamu soal Om Reihan itu?”
Kania menggeleng.
”Sepuluh buku doraemon. Aku juga heran kenapa hanya sepuluh buku itu
bikin Bundamu jadi sakit dan tak bersemangat seperti ini.”
Sepuluh buku doraemon itu masih Kania simpan dalam tas sekolahnya. Kania titipkan di kantin sekolah pada Ibu kantin karena takut nanti ada guru yang merazia tasnya lalu mengambil buku komik itu.
“Bundamu tidak bahagia bersama Ayah kamu…”
“Om..,” Kania memandangi Omnya. “Tapi Bunda bisa sembuh, kan?”
Om Dedi mengusap wajahnya.
“Apa harus bertemu Om Reihan dulu baru Bunda bisa sembuh?”
Om Dedi diam.
“Kalau aku bisa bertemu dengan Om Reihan, aku akan minta Om Reihan menggantikan Ayah biar Bunda bahagia.”
Om Dedi tak menyahut tapi langsung meraih kepala Kania dan mendekapnya erat.
**
Malamnya, telpon genggam Kania berbunyi.
“Suami Tante punya waktu untuk bertemu,” ujar Tante Dara. “Kamu punya waktu besok?”
“Habis pulang sekolah ya, Tante?”
“Ya. Habis pulang sekolah.”
Kania tidak perlu minta ijin Bunda. Apalagi Ayah. Kalau ia sudah bertemu baru ia akan cerita.
**

Bagian Lima

“Kania…”
Mata itu bersinar ramah. Senyumnya mengembang waktu Kania datang. Ada lesung pipi yang jelas tercetak nyata di pipi itu.
“Sudah kelas berapa?”
Kania hampir tidak percaya.
Rumah Tante Dara tidak jauh dari sekolahnya. Tidak begitu jauh dari rumah di pinggir sungai dengan pagar bambu berwarna-warni.
“Ayo duduk…”
Halamannya besar. Ada tempat duduk di luar yang atapnya terbuat dari pohon anggur. Bahkan anggur itu sedang berbuah. Hanya saja belum matang. Kania jadi harus menelan ludah beberapa kali ketika melihat anggur-anggur itu.
“Kamu suka komik?” Om itu tertawa. “Pulang dari bertemu kamu beberapa hari yang lalu, Tante Dara cemberut. Om tanya kenapa? Katanya ada anak gadis yang katanya suka bukunya tapi ternyata hanya pura-pura demi menyenangkan hati Ayahnya. Anak gadis itu ternyata lebih suka komik ketimbang novel.”
Om itu tertawa lagi. Tawanya membuat hati Kania yang sedih jadi ikut bergembira karenanya. Lesung di pipi itu tercetak lagi. Jangan-jangan…
“Hei.., kenapa kamu pandangi Om seperti itu?”
Kania menunduk. Om Reihan. Om Sun. Matahari yang tawanya akan menghangatkan. Tapi…
“Kamu mau belajar menggambar?”
Kania mengangguk. Pertanyaan itu ditepiskan dulu untuk dikeluarkan nanti setelah hatinya pasti.
“Komik apa?”
“Doraemon..,” suara Kania pelan tapi jelas.
Hening.
”Doraemon…”
“Bunda suka sekali komik doraemon. Masih menyimpannya. Hanya Bunda
ingin aku mengembalikan sepuluh buku doraemon itu ke pemiliknya.”
Hening lagi.
“Jadi kamu ingin belajar menggambar kapan?”
“Om Reihan…,” Kania memanggil.
“Ya, kenapa?”
Deg.
Jantung Kania serasa berhenti. Jadi Om di hadapannya adalah Om yang dicarinya.
Jadi….
“Bunda sakit. Om mau melihatnya?”
Tak ada jawaban.
**
Om itu Om Reihan namanya. Kania akhirnya bisa menemukannya. Hanya saja Om itu menggeleng ketika Kania memberikan sepuluh buku doraemon untuknya sambil melihat ke dalam rumah.
Jangan-jangan Om itu takut Tante Dara cemburu. Jangan-jangan Om itu memang sudah benar melupakan sepuluh buku doraemon itu.
Kania bergegas ke rumah sakit.
Om Dedi yang menyambutnya. Langsung merangkulnya. “Bundamu sakitnya bertambah parah. Sudahkah kamu menemukannya?”
Kania mengangguk. “Sudah. Kania tahu rumahnya.”
Om Dedi menghentikan langkahnya. “Sudah?”
Kania mengangguk yakin.
“Kenapa kamu tidak ajak dia ke sini? Kenapa tidak kamu tunjukkan pada Bunda kamu bahwa kamu sudah menemukan orang yang dicari? Ini bisa jadi kejutan untuk Bunda kamu dan Om yakin Bunda kamu pasti bisa sembuh karenanya.”
Kania menunduk.
Om itu tidak mengaku bernama Reihan meskipun pertama Kania panggil Om itu mengangguk.
“Kania…”
“Kalau aku bicara dengan Ayah…”
Om Dedi merangkul bahunya. “Kamu sudah besar. Om yakin, segala keputusan yang kamu ambil berkaitan dengan Bunda kamu, adalah keputusan yang matang.”
**
Bunda terbaring lemah.
Tabung oksigen ada di samping Bunda. Napasnya sudah membutuhkan napas bantuan.
“Bunda.., “ Kania menyentuh tangan Bunda.
Bunda tersenyum kepadanya.
“Kalau Om itu sudah Kania temukan, Bunda mau sembuh, kan?”
Bunda masih saja tersenyum padanya.
“Kalau sepuluh buku doraemon itu sudah Kania kembalikan. Bunda mau sembuh, kan?”
Bunda menggenggam tangan Kania erat sekali.
Kania yakin, itu jawaban dari Bunda.
**
“Ayah.” Pulang dari rumah sakit Kania langsung bicara pada Ayah.
Ayah sedang duduk di ruang tamu. Membaca buku.
“Ayah..,” Kania menghampiri.
Ayah kelihatan tak terpengaruh.
“Kenapa Ayah tidak perduli pada Bunda?”
Mungkin Ayah terkejut dengan pertanyaan Kania. Matanya tajam memandang pada Kania. Bahkan kaca mata yang dipakainya pun sampai dilepasnya.
“Bunda sakit selama ini…”
“Kania,” Ayah menarik napas panjang. “Bundamu itu sakit karena dibuat-buat sendiri. Harusnya jadi perempuan itu yang tegar.”
Dulu seingat Kania Bunda tegar. Meskipun Ayah sering memarahinya tapi Bunda tetap tersenyum.
Apa saja bisa jadi sumber kemarahan Ayah. Bahkan ketika Bunda salah meletakkan barang.
Hingga akhirnya Bunda terkena stroke tiba-tiba. Bunda yang selama ini sehat ternyata mengidap darah tinggi. Om Dedi sampai geleng-geleng kepala.
“Apa Ayah membenci Bunda?”
Ayah diam.
“Apa Ayah tidak ingin membahagiakan Bunda?”
Mungkin Kania bicaranya keterlaluan sampai akhirnya Ayah berdiri dari duduknya.
**
Malamnya telpon genggam Kania berbunyi.
“Bundamu sakit apa?”
Meski tidak menyebutkan nama tapi Kania tahu siapa yang menelpon. Om yang siang tadi ditemuinya. Meski sudah malam, mendengar suaranya seperti merasakan hangatnya sinar matahari.
“Darah tinggi dan asma. Entah sakit apa lagi,” suara Kania terdengar putus asa.
“Katakan padanya, buku itu berhak menjadi milik Bundamu. Om tidak akan memintanya kembali.”
“Tapi Bunda minta buku itu dikembalikan pada pemiliknya. Lalu pemiliknya bisa memberikan pada gadis lain.”
Hening.
Cukup lama.
Sampai Kania merasa telpon di sebrang sana sudah ditutup. Kania sempat menekan-nekan tombol telponnya sendiri.
“Om tidak berhak dicintai begitu lama. Gadis sebaik Bundamu sudah mendapat yang terbaik. Dan Om sudah merelakanya.”
“Tapi Bunda membutuhkan Om,” ujar Kania.
Telpon itu sudah ditutup. Tapi Kania lega karena sudah mengatakan apa yang selama ini dikatakannya.
**
Bagian Enam

Pagi itu Ayah menunggu Kania di teras. Ayah belum berpakaian rapih seperti biasanya. Kania pun baru ke luar dari dalam kamarnya.
“Kamu tahu kenapa, Kania?”
Kania diam saja.
Ia tidak akan tahu banyak soal Ayah dan Bunda. Ayah dan Bunda tidak seperti Ayah dan Bunda temannya. Teman-temannya sering menceritakan kalau Ayah dan Bundanya suka mengajak bercanda. Bercerita soal masa lalu mereka.
Sejak kecil dulu, Kania tidak merasakan kehangatan itu. Ayah punya dunia sendiri. Bunda juga.
Yang Kania tahu mereka tetap bersama adalah karena Ayah dan Bunda masih berada dalam kamar yang sama.
“Kamu tahu kenapa, Nak?”
Kania menggeleng.
Ulangannya jelek belakangan ini. Wali kelas sampai bertanya ia ada masalah apa. Bahkan guru BP sempat memanggilnya sekali. Kalau ia bicara sesungguhnya, tentu mereka tidak akan mengerti.
“Kania…”
“Bunda dan Ayah tidak saling mencintai, kan?” ujar Kania akhirnya.
Hening.
Ayah menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat sekali. “Tahu apa kamu soal cinta?”
Kania menuduk. “Ayah membuat Bunda tidak bahagia.”
“Kamu merasa seperti itu?”
“Apa Ayah tidak merasa?”
Hening lagi.
“Apa di mata Ayah Bunda tidak pintar? Apa karena Ayah suka dengan Tante Dara? Apa karena…”
“Kania!” Ayah meninggikan volume suaranya. “Kamu tidak tahu apa-apa!”
“Kania sudah besar, Ayah.”
“Bundamu yang memulai. Kamu tidak tahu apa-apa selain membela Bunda kamu. Kalau kamu ingin Bunda kamu dengan lelaki lain, silakan,” Ayah berdiri dari duduknya. Meninggalkan Kania.
Ayah marah. Tapi Ayah harus tahu.
Kania capek.
**
“Kalau kamu sampai kehilangan Bunda kamu…,” Om Dedi merangkul bahu Kania. “Kamu bisa tinggal bersama Om.”
Pagi itu mendung. Ayah langsung berangkat kerja tanpa sarapan. Kania sendiri langsung ke rumah sakit. Telpon dari Om Dedi berbunyi terus. Selama ini Om Dedi dan Bibik yang bergantian menunggu Bunda.
“Kalau Bunda kamu…” Om Dedi menggelengkan kepalanya.
“Jadi Bunda…”
“Tantemu menemukan penyakit lain, Kania. Ternyata sesak napas itu bukan hanya sekedar asma. Tapi kanker paru-paru.”
Ya Tuhan.
Kenapa Bunda selama ini tidak pernah mengeluh kesakitan? Kenapa Bunda…
“Om mencoba untuk berpikir panjang soal Bunda kamu. Bundamu diam sejak dulu, Kania. Tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika Kakekmu meminta Bunda kamu menikah dengan anak kenalannya. Ayahmu. Dan meninggalkan Om Reihan yang menurut Kakekmu tidak punya masa depan…”
“Jadi Om Reihan jawabannya?”
Om Dedi mengedikkan bahunya. “Kalau saja Bundamu mau berbagi penderitaannya.”
“Jadi Om Reihan sumber kebahagiaan Bunda?”
“Om tidak tahu, Kania. Tapi Bundamu selama ini begitu menderita kelihatannya.”
“Bunda tidak pernah bahagia bersama Ayah..”
“Kamu melihatnya begitu?”
“Bunda tidak bahagia..,” Kania merasakan air matanya jatuh membasahi pipinya.
Deras.
**
“Ke mana, Kania?”
Kania tidak tahu cara lain lagi. Ia harus pergi. Ia harus menemui Om Reihan. Ia harus bicara pada Tante Dara. Meskipun Om Reihan akan menolak, ia akan memaksa Om Reihan datang pada Bunda.
“Kania…”
Kania berlari kencang. Om Dedi nanti juga akan tahu jawabannya.
Kania naik bus.
Ke mana lagi kalau bukan ke rumah Om Reihan?
**
“Dulu kami bertemu di perpustakaan pinggir sungai yang pagar bambunya di cat warna-warni…”
Tante Dara tidak ada di rumah. Sedang ada seminar.
“Bundamu gadis yang pintar. Imaginasinya luas.”
Kania mendengarkan.
“Tapi Om bukan untuk Bunda kamu. Orang tuanya sudah mempunyai jodoh lain untuk Bunda kamu dan Om harus menyingkir.”
“Lalu buku doraemon itu?”
Om Reihan mengusap wajahnya. “Kamu suka membacanya?”
“Bunda suka membacanya. Sampai terakhir kali Bunda masuk ke rumah sakit. Tapi Bunda minta aku mengembalikan pada Om.”
Hening.
“Bunda bilang, Om harus memberikannya pada gadis lain. Mungkin istri Om sekarang ini…”
Hening lagi.
“Om…”
“Dulu, Om bilang pada Bunda kamu untuk menyimpannya sebagai tanda cinta kami. Hanya itu. Om bilang, kalau Bunda masih mencintai Om berarti buku itu masih akan tetap di simpannya.”
“Om tidak tahu kalau Bunda masih menyimpannya?”
Om Reihan menggeleng. “Om sudah memiliki istri. Dan Bundamu sudah memiliki suami. Itu hanya kenangan masa lalu. Seharusnya Bundamu tidak perlu memikirkannya lagi.”
Kania menunduk.
Om itu menyesal. Menyesal karena ternyata Bunda masih mencintainya?
“Om…”
“Ya…”
“Kalau Bunda bisa sembuh…”
“Kita ke rumah sakit sekarang,” Om itu menggenggam tangan Kania.
**
Ayah ada di sana.
Di rumah sakit.
“Bunda koma,” ujar Om Dedi merangkul Kania erat sekali.
“Om..,” Kania memandangi pada Om Reihan. “Katakan pada Bunda kalau Om datang..,” pintanya dengan sangat.
Om Reihan mengangguk.
**
Epilog

“Kamu tahu, Kania, Ayah sebenarnya begitu mencintai Bunda kamu,” ujar Ayah pada Kania setelah pemakaman Bunda.
Kanker paru-paru Bunda tidak bisa tersembuhkan.
“Tapi Bundamu begitu mencintai laki-laki itu.”
Om Reihan datang ke kamar Bunda. Bicara pada Bunda.
Terakhir kali Kania lihat Bunda tersenyum sebelum perginya. Kelihatan bahagia sekali.
“Ayah hanya ingin Bundamu cemburu. Ayah hanya ingin Bundamu mencintai Ayah. Maka Ayah mencoba tidak memperdulikan Bunda kamu. Bahkan Ayah mencoba menghadirkan Tante Dara untuk meyakinkan Bunda kamu bahwa Ayah juga bisa melakukan hal yang sama.”
Kania mendengar suara Ayah bergetar.
“Tapi ternyata Ayah salah. Ayah menyesal, Kania…”
Ayah menangis. Tertahan.
Kania juga menangis.
Sepuluh buku doraemon itu sudah Kania kembalikan pada Om Reihan. Minta Om Reihan memberikannya kepada Tante Dara sebagai tanda cinta.
“Om bangga dicintai Bundamu, Nak. Dan Om tidak mungkin akan melupakan hal itu.”
Kalau besar nanti, Kania janji. Ia tidak akan mencintai seseorang seperti Bunda mencintai Om Reihan.