Membaca Membantu Menekan Emosi

“Saya penulis dan saya cinta membaca, bahkan bisa terbilang gila membaca.”
“Saya penulis dan geregetan kalau ada orang yang tidak ada sumber ilmunya, main share berita ini dan itu. Karena ketahuan ilmunya minim dan tidak suka membaca.”
“Saya ibu dua anak, yang punya hari wajib untuk anak-anak membaca. Setiap Sabtu sebelum mereka main komputer, maka saya akan meminta mereka membaca buku terlebih dahulu.”
“Saya pernah menawarkan untuk menyumbangkan buku bacaan ke tempat ini dan itu, tapi ditolak, hingga memutuskan untuk memiliki taman bacaan sendiri di rumah.”

Apa yang saya dapat dari membaca?
“Ibu kok tahu semuanya?” tanya anak-anak, yang sering merasa ibunya adalah perpustakaan berjalan, sehingga mereka malas untuk mencari dan tinggal tanya. “Ibu, yang ini jawabannya apa?”
“Ibu ngomomngnya kayak pakar politik aja. Jangan sombong, Ibu.” Itu kata anak lelaki saya, yang sedang asyik kasih laporan tentang berita-berita politik.

“Membaca membuat pintar dan membuat kita tidak mudah dibohongi,” itu penekanan yang selalu saya katakan pada anak-anak.
“Membaca juga membuat kita bersabar.”
Iya, ada poin lain yang memang selalu saya dapat dari membaca.
Proses saya membaca buku dari halaman awal sampai halaman akhir, ternyata

Model Membaca

Ada banyak model membaca.
Saya model pembaca yang suka membaca di bagian awal dua sampai tiga halaman. Setelah itu saya mulai dari belakang beberapa halaman. Setelah itu di bagian tengah. Setelah melihat semua bagian itu berkesinambungan jalan ceritanya, maka saya mulai lagi dari bagian awal sampai selesai buku itu saya baca.

Ternyata kebiasaan membaca seperti itu cukup membantu saya untuk menerapkan sebuah target.
Ketika satu target saya canangkan dan lakukan, maka selangkah dua langkah ketika melakukannya, saya mulai membayangkan berada di titik akhir target saya. Aapakah nanti titik akhir itu sesuai dengan langkah yang saya lakukan.
Lalu saya coba membayangkan berada di tengah perjalanan. Apakah saya kuat dan bisa bertahan.
Ketika semuanya sudah pas dengan kata hati, pembenahan di sana-sini, saya mulai akan melangkah dengan pasti dari awal sampai akhir.

Dan model membaca seperti ini ternyata tidak seirama dengan model menulis saya. Sebab saya tipikal penulis yang tidak bisa membuat tulisan berdasarkan outline.
Semua tulisan yang saya buat, hanya saya pikirkan ide utamanya saja. Setelah itu menulis pembuka, maka saya biarkan jari-jemari saya yang bekerja dan ending seperti apa bisa didapat tanpa saya pikirkan sebelumnya.

Membaca Menekan Emosi

Orang yang suka membaca, belajar menekan emosi.
Sebuah buku yang mereka baca, jika ingin tahu intisarinya harus dibaca semua. Bukan hanya membaca satu dua halaman saja.
Itu artinya para pembaca belajar berproses. Belajar sabar dan belajar memahami bahwa apa yang mereka pikirkan, seringnya berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulisnya.
Dalam kehidupan nyata bahkan maya, tulisan status orang yang suka membaca akan berbeda jauh dengan yang tidak suka membaca.
Akan proses pengendapan untuk mengetahui lebih dalam tentang satu hal.
Akan ada penelusuran, apakah tulisan itu betul atau tidak.
Akan ada proses
Orang yang gemar membaca, tidak akan mudah terpancing emosinya. Karena membaca akan meluaskan wawasan mereka pada banyak pemahaman. Dan pembaca yang baik, pasti akan belajar bagaimana menyaring berbagai sumber ilmu itu, dan mengendapkan apa yang mereka sudah pilih.

Peningkatan Level yang Dibaca

Hidup ini berwarna. Bacaan memberi pengaruh untuk kita. Karena itulah saya membaca banyak tulisan, banyak buku tujuannya agar level saya meningkat.
Membaca buku anak-anak dan menulis cerita anak terlalu banyak, berakibat pada pikiran dan hati. Saya sering merasa terlalu polos terhadap banyak hal. Emosi saya terkikis habis, bahkan untuk hal yang memang seharusnya saya perjuangkan.

Membaca dan menulis banyak fiksi, ternyata membuat saya sering susah memisahkan mana yang nyata dan mana yang fiksi. Semua terasa indah. Sering kaget saya ketika bertemu orang yang kasar, yang membuat saya harus menyadarkan diri sendiri bahwa saya hidup di dunia nyata.

Membaca dan menulis banyak nonfiksi, membantu saya berpikir logik. Padahal seringnya juga hal-hal yang sifatnya masuk akal, jadi lebih manis kalau diberi bumbu imajinasi.

Ada banyak buku ada banyak bacaan.
Bacalah yang kita suka lebih dahulu.
Lalu tingkatkan level membaca kita.
Jangan hanya satu buku yang sama jenisnya saja. Sebab banyak buku akan memberi banyak warna pada hidup kita. Sehingga kita paham ketika ada yang berbeda dengan kita.