Room to Read, Proses Panjang untuk Membuat Buku Anak

Litara 4

Masih ingat cerita saya tentang Room to Read. Audisi Room to Read dan prosesnya, ternyata tidak semudah seperti yang saya bayangkan.
Prosesnya panjang dan lama.

Pada awalnya saya merasa menulis pict book bisa saya kuasai. Kalau melihat rujukan di buku-buku pict book yang beredar, saya pikir bisalah saya menulis seperti itu. Tapi ternyata saya keliru. Ada banyak hal yang saya kuasai di dunia menulis. Menulis berbagai genre. Tapi ternyata ada banyak hal juga yang tidak saya kuasai, yaitu menulis cerita bergambar. Bukan sekedar bergambar, tapi bergambar dengan standar Internasional.

litara 5

Pict book alias cerita bergambar mengandalkan banyak gambar. Itu artinya, saya sebagai penulis, harus berjuang agar bisa memberikan instruksi kepada ilustrator.
Iya, dalam menulis buku bergambar ini, penulis harus memberikan panduan pada ilustrator, gambar seperti apa yang harus dibuat.
Dan pada buku dari room to read ini, gambar itu harus berdampak tiga dimensi. Artinya ketika anak melihat gambar tersebut, mereka bisa membayangkan seperti melihat cerita hidup di depan mereka.
Jadi, porsi utama memang ada di tangan ilustrator.

Revisi Sampai 10 Kali

Saya biasa menulis cepat. Dengan riset yang mendalam.
Revisi paling pol tidak sampai lima kali. Paling hanya tiga kali revisi dari redaksi. Itu pun karena saya menulis buku dengan sedikit gambar.
Arahan editor paling hanya ingin naskah dibawa ke mana, dengan gaya seperti apa, tentunya dengan tidak meninggalkan karakter saya.

Tapi di room to read berbeda.
Saya dapat penerbit Litara dengan editor super teliti dan pengalaman yang luar biasa.
Ada mbak Eva Nukman dan Sofie Dewayanie sebagai penjaga gawangnya.
Dan di atas mereka ada Alfredo dari room to read, yang punya pengalaman segudang, yang akan membuat naskah kita terasa tidak ada apa-apanya.
Sampai-sampai saya berada pada satu titik bernama putus asa, karena revisi sampai sepuluh kali. Padahal di tempat lain, yang saya tahu, ada yang sampai harus mengalami 20 kali revisi.

Apa kurang naskah saya?
Kok bisa saya tidak bisa menulis?
Kok begini, kok begitu?
Kenapa naskah ini begitu menguras energi sehingga saya tidak bisa fokus ke naskah lain? Telepon, WA dan email membuat saya stress. Bahkan pada saat saya sedang berenang, saya melihat ada beruang duduk di kursi. Itu mungkin menandakan tingkat sress saya sudah tinggi. Tokoh utama saya memang beruang yang ingin belajar naik sepeda.
Tapi seiring perjalanan waktu, setelah jeda sebulan, saya mulai belajar dan memahami pelajaran.

Ini bukan sekedar masalah naskah sederhana. Ini masalah bagaimana, agar justru kalimat sederhana itu membuat anak bahagia. Dan bagaimana agar penulis memberi panduan untuk ilustrator.
“Kok enak banget jadi ilustator? Apa mereka gak bisa baca naskah terus langsung dijadikan gambar, tanpa panduan?”
Itu pertanyaan rata-rata penulis seperti saya.
Tapi kemudian sadar, bahwa otak ilustrator berbeda dengan penulis. Mereka tidak semudah itu menerjemahkan kalimat menjadi gambar.
Jadi penulis harus jeli menulis step by step langkah-langkah untuk ilustrasi.
Pembagian halaman juga harus dilakukan dengan cermat.
Jadi ingat kalau di rumah, suami suka tanya-tanya panduan untuk gambar seperti apa? Padahal naskah yang ada di tangan suami, menurut saya sudah jelas bisa dijadikan panduan untuk gambar.
Dulu saya kesal, tetapi setelah ikut room to read saya baru sadar. He he.

Akhirnya….

Litara 3

Litara

Setelah sepuluh kali revisi, ada workshop untuk ilustrator. Saya lega, Merasa paling tidak sudah selesai tugas saya. Saatnya ilustrator bekerja.
Tapi ternyata tidak seperti itu.
Setelah workshop ilustrator selesai, dan naskah dibuat mokap (contoh buku), naskah itu dibawa ke beberapa SD untuk dibacakan. Reaksi anak-anak itu yang akan menentukan nasib naskah. Apakah harus direvisi kecil, atau direvisi besar?
Jika masih ada yang bertanya isi naskah tersebut dan kurang jelas, itu artinya naskah harus direvisi.

Dan tibalah saat itu.
Dapat surat undangan untuk revisi naskah di Bandung. Dua hari revisi, tapi saya cuma bisa satu hari, karena keesokan harinya saya ada program sedekah Jumat yang tidak bisa ditinggal. Dan mengajar anak-anak di sanggar yang notabene rumah saya.
Malamnya dapat email memberitahukan revisi apa yang harus saya lakukan.
Alhamdulillah saya dapat jatah revisi kecil saja.

Jam empat pagi di hari Kamis, saya meluncur ke Bandung. Bertemu dengan ilustrator yang memegang naskah saya.
Saling diskusi.
Waktu dia tahu saya harus pulang hari itu juga, dia langsung mempercepat kerjanya. Diskusi ke ilustrator dan editor di Litara. Kerja cepat itu jadi judul hari ini.
Ketika hari menjelang sore, naskah saya paling tidak 99 persen disetujui.
Saya dan ilustrator sama-sama bekerja tanpa laptop. Naskah saya digambar, saya memberi masukan, lalu kalimat yang ada saling didiskusikan.

Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk dan merasakan room to read. Saya sangat bersyukur sudah sampai di titik ini. Titik di mana saya berproses untuk terus belajar.