Mendidik Anak Jangan Pakai Standar Tetangga

Aku dan anak-anak

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (QS Luqman ayat 14)

Ketika membangun rumah tangga, dan akhirnya punya anak, harusnya kita punya skala prioritas. Menyadari standar yang kita miliki. Bahkan harusnya standar itu kita tulis besar-besar dan tempel di dinding, yang bisa terlihat oleh kita dan pasangan.
Standar yang kita miliki berbeda. Dengan pasangan pasti juga berbeda, karena latar belakang berbeda. Tapi tahap-demi tahap yang kita lalui, tentunya perbedaan standar itu bisa kita minimalisir, sehingga tidak membuat kita saling menyalahkan dalam mendidik anak.
Yang tersulit adalah ketika kita menggunakan standar orang lain, dan standar itu adalah standar tetangga.

Ketika melihat tetangga membanggakan nilai ulangan anaknya yang seratus, kita langsung menyalahkan anak yang pulang membawa nilai lima. Kita tidak pernah memahami bahwa mereka belum mengerti pelajarannya. Kita juga tidak mau tahu, bahwa nilai lima itu adalah nilai hasil kerja mereka sendiri. Mereka tidak bertanya pada teman yang lain. Parahnya, kita justru merasa malu dan akhirnya keluarlah kalimat dari mulut kita, yang mengatakan bahwa anak kita bodoh dan lain sebagainya.

Standar tetangga membuat kita akhirnya menjauhkan diri kita dari anak-anak kita.
Ada tetangga baik ada tetangga buruk. Jangan meniru yang buruk tentu saja. Tapi jangan terlalu mengagungkan yang baik. Apalagi menerapkannya total untuk rumah tangga kita. Sebab masing-masing kita punya kelebihan dan kekurangan. Makanan yang enak di satu rumah, belum tentu akan sama-sama dibilang enak di rumah yang lain.

Anak kita naik pohon tinggi, kita bilang itu kreatif. Tetangga bilang itu anak.
Anak kita tidak masuk sekolah hari ini karena kita ajak menjelajah museum. Kita bilang itu pendidikan untuknya, karena sekolah tidak memberikannya. Tetangga bilang itu mengajarkan anaknya malas.
Anak lelaki kita, kita ajarkan masuk dapur dan beres-beres rumah, standar kita adalah ketrampilan. Tetangga bilang itu mengajarkan anak jadi banci.

Standar kita dan standar tetangga berbeda. Itulah kenapa kita sebagai orangtua harus mau berjuang untuk belajar mengenali diri kita sendiri dulu. Jika kita masih gamang, belajarlah untuk tidak mudah gamang. Setelah kita mengenali diri kita sendiir, mudah untuk membuat standar sendiri. Sehingga lebih nikmat ketika mendidik anak.
“Sekolah pilih di kota jangan di kabupaten. Nanti gampang ke depannya,” itu kata tetangga.
Kalau saya?
Kabupaten atau kota sama saja. Sepanjang orangtua punya pikiran global, maka tidak akan ada sekat lagi.

Yang pasti, seperti yang saya alami sendiri dengan orangtua saya, ketika orangtua memiliki standar sendiri dalam mendidik, maka ketika anak besar mereka akan menghargai kita dengan baik. Karena apa? Karena mereka dibiarkan menjadi diri sendiri dan selalu dihargai.