Ibu Rumah Tangga Sebagai Awal Karir

DSCF2713

Kalau ditanya apa pekerjaan saya, maka biasanya saya akan menjawab bahwa saya ibu rumah tangga yang juga penulis.
Kalau ditanya di mana kantor saya, maka saya akan bangga menjawab, kantor saya ada di rumah. Iya, rumah. Tempat saya berkreasi seluas-luasnya. Mengurus anak dan suami dengan segenap kemampuan saya. Mengoptimalkan apa yang dahulu tidak saya optimalkan, yaitu wilayah dapur.

Saya ibu rumah tangga seutuhnya. Memang saya adalah penulis. Tapi prioritas utama saya adalah pasangan dan anak-anak, juga segala pekerjaan rumah tangga. Saya berbakti pada suami, dan melayani anak-anak saya di rumah. Jika ada pekerjaan ke luar rumah, itu pun harus seizin suami. Jika ada tugas ke luar kota hingga beberapa hari, itu juga harus saya pastikan anak-anak ada yang mengawasi.

Saya ibu rumah tangga, bisa menghasilkan rupiah dari rumah. Karena itu agak keki ketika ada yang bilang, ibu rumah tangga tidak menghasilkan apa-apa.

Ibu Rumah Tangga yang Berbeda

Saya Ibu rumah tangga. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya resign dari pekerjaan, tetangga kiri kanan bingung. Kenapa resign. Padahal di otak saya berputar banyak pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah. Menulis tentu saja. Dan mengurus anak. Iya mengurus anak dengan segala macam teori yang sudah saya makan, dari buku-buku parenting sejak zaman saya sekolah.
Karena itu ketika semua heran dengan keputusan saya, saya justru tertantang untuk membuktikan. Bahwa saya adalah ibu rumah tangga yang berbeda. Saya ibu rumah tangga yang berjuang menghasilkan generasi penerus yang kualitasnya lebih baik dari saya.

Tentu saja jika ingin kualitas anak meningkat, maka artinya saya harus belajar.
Belajar yang banyak, termasuk meluaskan pikiran. Terus berteman dengan siapa saja. Berjuang juga untuk jadi kepala bukan ekor di lingkungan.
Kepala?
Iya, maklum mindset yang ada di setiap benak orang adalah, menjadi ibu rumah tangga itu artinya selesai. Tidak usah berpikir macam-macam lagi. Mengurus anak, suami, beres. Itu pekerjaannya.
Maka wajar ditemukan, ibu rumah tangga yang merasa sudah selesai itu, ketika anak-anak sekolah, suami berangkat kerja, mereka sibuk berkumpul dan menghabiskan waktu untuk ngerumpi.
Boleh? Boleh saja. Itu hak setiap orang. Tapi waktu yang terbuang itu andai saja diisi dengan hal yang bermanfaat, pasti akan jadi berbeda.

Jika ibu rumah tangga mengurangi waktu ngobrol, maka ia bisa saja melakukan hobinya. Jika satu jam waktu mengobrol dipotong, maka ibu rumah tangga yang belajar menjahit, jika setiap hari belajar, maka bisa menghasilkan jahitan pada suatu saat.
Yang belajar merajut, juga sama.
Yang mau membaca buku, bisa menyelesaikan buku yang dibacanya. Dan ilmunya pun bertambah.

Menjadi ibu rumah tangga untuk saya adalah langkah awal sebuah karir. Pintu pembuka. Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka. Saya bisa membentuk seperti apa anak saya, dan memberi asupan makanan coba-coba dari resep yang saya pelajari.
Kalau masih bekerja di kantor, mungkin saya masih menyerahkan pada makanan instant, atau warung terdekat. Saya dan anak-anak tidak sama berkembang.
Saya yang dulu tidak bisa memasak, sekarang malah bisa memasak apa saja yang saya suka. Dan tentu imbasnya adalah saya paham bagaimana mengatur uang dengan baik. Dulu ketika ngantor, tidak terpikir hal seperti itu.
Saya juga paham bagaimana meningkatkan kemampuan, dengan banyak belajar dari ibu-ibu rumah tangga lain yang punya visi masa. Bahwa ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir.

Jika ibu rumah tangga punya kemampuan menjahit, ia bisa mulai membuat banyak kerajinan tangan, lalu dipasarkan. Itu karir untuknya.
Jika ia bisa mengajar, maka bisa mengajari anak-anak tetangganya. Dan itu juga karir.
Jika bisa memasak, maka bisa mulai menjual makanan buatannya. Banyak ibu-ibu muda yang keteteran dengan waktu mengurus dua anak balita, butuh sayuran matang. Dan itu pasti laris manis.
Jika bisa memasak kue, bisa titip ke warung-warung atau mulai menerima pesanan.
Bukankah itu artinya ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir?

“Bu, cita-cita aku mau jadi ibu rumah tangga.”
Ketika pola pikir kita tentang ibu rumah tangga sudah berubah, percayalah kita tidak akan resah ketika anak gadis kita punya cita-cita menjadi ibu rumah tangga. Justru kita mulai membekali anak gadis kita dengan banyak keahlian. Sehingga kelak ia akan menjadi ibu rumah tangga yang bisa mengubah lingkungan yang buruk menjadi baik.