Sayap untuk Fey

Pemenang lomba cerpen anak jalanan

“Aku bisa terbang, tahu,” mata Fey yang bulat itu bercahaya. Kedua tangannya mengepak seperti burung yang akan terbang.
Jay memandangi.
Bayangan bulan jatuh menyentuh pipi Fey yang kurus.
“Kamu tahu aku bisa terbang?”
Pada bayangan bulan tahun kemarin, Jay menemukan Fey. Tersungkur di bak sampah di pinggir perumahan. Bajunya kotor, pipinya kotor, semuanya tidak jelas dan berantakan.
“Aku bisa terbang…”
Jay membuka kertas di tangannya. Bungkusan koran. “Tadi ada yang buang sampah baju-baju ini. Kamu mau? Masih bagus dan cocok untuk kamu.”
Fey memerhatikan ketika baju di dalam koran itu Jay bentangkan. Tiga baju cantik dengan warna yang hampir pudar.
“Cantik..,” bola mata Fey bersinar. “Buat aku?”
Jay mengangguk. Buat kamu semua.”
**
Bayangan bulan itu jatuh, menyentuh pipi Dewani. Di teras dengan halaman rumah dipenuhi rumpun bunga mawar.
Ini tentang hidup yang seperti mawar. Kelihatan indah tapi menyimpan duri.
Dewani menarik napas panjang. Cukup panjang hingga seperti sebuah keluhan yang ingin dikeluarkan agar ditangkap oleh angin dan diterbangkan ke awan.
Rumah mereka cukup besar. Cukup untuk menampung beberapa anak jalanan. Beberapa kamar tidur yang selalu kosong. Beberapa kamar tamu yang juga kosong karena para tamu tidak ingin menginap di rumah yang mati seperti kuburan.
“Kenapa harus mereka?” Ibu menggeleng. Keras-keras. “Kamu pasang papan pengumuman dan tulis kalau rumah ini disewakan atau menerima kost. Ibu terlalu sibuk untuk mengurusi rumah ini. Kamu pun terlalu seram untuk tinggal di sini sendirian. Banyak orang jahat. Bela diri yang kamu miliki tidak akan mempan melawan orang jahat.”
Ibu selalu berpikir tentang orang-orang jahat. Orang-orang jahat di sekeliling mereka. Orang-orang jahat yang tidak punya hati. Mungkin dengan alasan itu Ibu selalu berpindah tempat bila lingkungan mulai ramai. Ibu suka rumah sunyi di lingkungan sunyi.
Cahaya bulan itu menyebar di rumpun mawar.
Bicara dengan Ibu adalah bicara dengan angin. Tidak bisa tertangkap.
Ia sudah besar. Hidupnya ada di tangannya dan segala keputusan bisa dipertanggungjawabkan.
Dewani mengambil telepon genggamnya.
Di malam yang selarut ini, ia ingin teman untuk bicara.
**
Rio menggelengkan kepalanya.
Semangkuk bakso didampingi teh botol.
Dewani tidak akan membuat malamnya semakin nyaman. Tugas kuliah yang bertumpuk, omelan Mami yang memberi ultimatum agar kuliah tepat waktu agar tepat pula untuk pindah mengikuti tugas Papi di lain benua. Segalanya sudah diatur jelas dan tegas oleh Mami.
Rio menyedot the botolnya.
Tidak saat ini untuk Dewani. Ia sedang tidak ingin tenggelam dalam masalah.
**
Fey selalu kedinginan.
Fey selalu begitu setiap malam. Dengan pipi kurus begitu meski makannya banyak tetap saja makanan itu tidak berubah menjadi daging.
Jay sudah menganggap Fey sebagai adik. Mereka berdua di pinggir tempat sampah. Mereka berdua di emperan toko. Mereka berdua mengais sampah yang berisi makanan. Makanan yang dibuang pemiliknya. Makanan sisa orang yang makan di warung pinggir jalan. Masih enak.
“Bajunya cantik…”
Baju yang ditemukan Jay cocok untuk Fey.
Fey bukan nama sebenarnya. Tapi waktu Jay temukan ada tulisan itu di tangan Fey. Mirip seperti tato.
Fey tersenyum.
“Kita ngamen lagi di stasiun?”
Fey mengangguk. Badannya panas. Tapi kalau tidur di emperan toko akan semakin panas kena lempar air dari pemiliknya.
Di stasiun lebih enak.
“Ayo..,” tangan Jay menarik Fey.
Fey mengangguk.
**
Mereka bicara tentang kemiskinan. Mereka bicara tentang peningkatan taraf hidup dalam sebuah teori. Mereka cuma bisa teori tapi tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ransel berwarna pink itu Dewani bereskan.
Berkas-berkas yang sudah ia susun menjadi draft proposal. Permohonan pada ketua RT setempat tanpa sepengetahuan Ibu.
Ibu punya rumah di banyak tempat. Tempat yang Dewani tinggali mungkin sudah terlupa oleh Ibu kalau Dewani tidak mengingatkan.
“Mau kemana?”
Dewani bergegas.
Kuliah bukan menjadi passion-nya kalau Ibu tidak memaksa dengan bicara tentang masa depan.
Ah, ia tidak merasa masa depan terletak pada bangku sekolah. Ia ingin sekolah yang lebih nyata. Dan kenyataan itu ada pada Fey. Gadis dengan pipi tirus dan mata cekung yang matanya memandang penuh kasih padanya. Yang memeluknya hangat bahkan lebih hangat dari pelukan Ibu yang ala kadarnya.
“Dewani…”
Dewani tak menyahut.
Lupakan semua.
Ia menghentikan sebuah ojek lalu berlalu begitu cepatnya ketika helm sudah terpasang di kepala.
**
“Cewekmu?”
Rio melihat itu.
“Cewekmu, kan?”
Rio menggeleng.
Sejak Dewani susah untuk dikendalikan sejak itu pula ia malas meneruskan hubungan dengan gadis itu.
Dunia mereka sudah berbeda. Dewani terlalu serius untuk hidup yang terlalu singkat.
**
Mereka ada di stasiun.
Mereka di emperen stasiun yang dipenuhi pengendara ojek.
Bibir Fey kebiruan. Badannya semakin panas.
“Sebentar ya…, aku mau menelepon Kak Dewani…”
Fey mengangguk.
**
Teleponnya tertinggal di kamarnya.
Telepon itu tidak penting. Hanya berisi SMS konyol dari Rio yang sengaja ia sisakan. Juga ada SMS dari Ibu yang menekankan tentang hal-hal yang menurut Dewani tidak penting.
Kakinya melangkah ke sebuah emperan toko.
“Pak, lihat anak…”
Seorang lelaki tua memandangnya lalu menggeleng dengan pandangan seperti mengusir.
**
Jay pernah melakukan semuanya. Jay pernah mencuri mangga dan dipukuli orang sekampung. Jay pernah mencuri burung kenari dan dikejar orang sekampung juga lalu ia berhasil bersembunyi di dalam parit. Jay juga pernah mencuri kaca spion motor orang hasilnya adalah bogem mentah di kedua matanya hingga sekarang matanya melihat agak kurang jelas.
Jay pernah menjual ganja. Sedikit saja. Uangnya untuk membeli sebungkus nasi yang dimakan berdua dengan Fey.
Jay sekarang berdiri di depan sebuah wartel. Uang di kantornya tinggal dua ribu. Menelepon Kak Dewani pasti tidak cukup.
Jay melihat orang-orang sekeliling. Mereka makan di warung bakso, mereka membeli majalah, membeli es krim. Dompet terbuka. Selembar dua puluh ribu, lima puluh ribu, seratus ribu.
Jay pernah mencuri.
Jay biasa dipukuli.
Jay tidak ingin macam-macam. Ia ingin masuk ke boks telepon umum untuk menelepon Kak Dewani dan bercerita tentang Fey.
Fey, mengingatkan pada Hanum, adik Jay dulu. Fey punya mata seperti Hanum yang sering kena pukul ibu tiri mereka. Fey sabar seperti Hanum tapi sayang Jay tidak bisa melindungi ketika Emak menjualnya pada lelaki lain setelah Bapak pergi dengan perempuan lain lagi.
Hanum masih kecil tapi tidak bisa menolak. Hanum memeluknya dan mengucapkan selamat tinggal.
Sebulan setelah itu Hanum benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Ia dibuang di sekolakan oleh orang yang sampai saat ini tidak bisa ditemukan. Bisik-bisik yang Jay dengar ada perempuan lain yang cemburu.
Jay sakit hati. Jay terluka. Jay tidak ingin ada perempuan lain seperti Hanum. Gadis-gadis kecil seperti Fey.
**
Ya Tuhan…
Dewani menepuk jidatnya sendiri.
Kemana dua anak itu?
Beberapa emperan toko sudah ia cari dan tidak ia temukan dua anak itu.
Keputusannya sudah bulat. Ia akan menampung dua anak itu terlebih dahulu lalu nanti akan menambah dengan fasilitas pengajaran agar ada anak-anak lain yang bisa ia tampung.
Biar saja Ibu mengoceh tak menentu. Ibu selalu mengoceh tentang banyak hal. Tentang perjuangan hidup yang dulu Ibu lalui sebagai seorang anak jalanan tanpa penolong. Ibu selalu berpikir bahwa tidak perlu ada dewa penolong.
Mungkin stasiun.
Dewani memeprcepat langkahnya.
Mungkin di stasiun.
**
Selembar dua puluh ribuan saja.
Jay mendekat. Menghimpit. Menarik dompet seseorang dari kantungnya.
Ia tidak menginginkan yang lain. Ia hanya ingin selembar duapuluh ribuan agar bisa masuk ke boks telepon dan menelepon Kak Dewani agar bisa cepat datang ke stasiun.
Fey panas sekali. Fey sakit. Obat warung tidak bisa membuat panasnya turun.
Selembar duapuluh ribuan.
“Copet…!” seseorang berteriak.
Jay terlambat untuk berlari.
**
Ibu dulu pernah bercerita tentang sepasang sayap. Sayap untuk Fay terbang.
Ibu dulu pernah memeluk Fay hangat.
Tapi Ibu hilang di sebuah stasiun ketika kereta melaju kencang. Fay tertinggal di kerumunan penumpang.
Fay sempat melihat tubuh Ibu di pinggiran rel. Ibu tidur di sana dikerumuni orang-orang.
Fay tidak tahu. Kereta itu tidak bisa berhenti. Tadi Ibu dan Fay sedang bermain tulisan rahasia. Ibu menulis nama Fay di tangan. Lalu kereta api yang penuh sesak itu membuat tubuh Ibu terdorong ke pinggir pintu yang terbuka.
Fay tidak tahu.
Ibu pernah cerita tentang sepasang sayap. Sayap untuk Fay terbang.
Kalau Fay tidur, Fay bisa mengambil sayap itu dalam mimpi.
Fay bisa terbang.
Tubuh Fay semakin memanas.
Ia menggigil.
Gigil bersamaan dengan mata yang tertutup rapat dan pihak polisi yang berjalan menuju kerumunan orang-orang di dalam stasiun yang baru saja menggebuki seorang pencopet.
Sepasang sayap itu membuat Fey tertidur sambil tersenyum.
**
Dewani mengembuskan napasnya kuat-kuat.
Ia sempat melihat sosok Jay.
Ia melihat sosok Fay dikerumuni banyak orang.
Yang ia tahu hanya satu, bahwa ia sudah terlambat.
**