Kok Bisa Penulis Bosan Menulis?

roti Ibu

Kenal banyak penulis?
Sosial media membuat saya dan yang lainnya mudah saling mengenal. Saya jadi kenal penulis yang satu dan yang lain. Saya juga kenal penulis yang semangat menulis dan yang bosan menulis.

Penulis bosan menulis?
Kalau anak-anak kecil disuguhi mainan baru, biasanya mereka akan langsung menyambarnya.
Mainan itu dimainkan sampai mereka bosan. Bahkan ketika mainan itu masih membuat mereka penasaran, mereka akan marah jika ada temannya meminjam. Sering kan kita lihat anak-anak kecil bertengkar hanya karena berebut satu mainan?
Mereka dalam proses sedang bergairah menghadapi permainan yang mereka anggap baru.
Tapi cobalah perhatikan, apa yang mereka lakukan setelah mereka bosan? Kadang-kadang mereka membongkarnya. Setelah bosan, mencari permainan baru lagi.

Sama seperti banyak kita dalam menulis.
Awalnya menganggap menulis itu mudah. Awalnya merasa iri melihat orang lain karyanya muncul terus-menerus. Awalnya merasa bisa dan menggampangkan.
Setelah merasa mampu itu, bisa menghasilkan satu dua tulisan, yang dipuji oleh orang lain, maka timbullah rasa puas.
Dan rasa puas itu membuat si penulis yang dipuji merasa tidak perlu belajar lagi. Terus-menerus melakukan hal yang sama. Tulisan yang tidak berkembang. Dan akhirnya timbul rasa bosan. Tidak ingin menulis lagi, karena tidak tahu apa yang harus ditulis.

Agar Tidak Bosan Menulis

Sampai saat ini saya bersyukur. Bersyukur karena saya menjadi penulis diawali dengan suka membaca. Ingin kisah yang saya baca, berubah ceritanya sesuai apa yang saya pikirkan. Ingin sesuatu yang saya pikirkan, dibaca orang lain, dan orang lain itu paham ada sesuatu yang berbeda. Iya berbeda. Karena saya suka melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Kebiasaan membaca itu membentuk saya untuk menulis berdasarkan apa yang saya baca. Kebiasaan saya penasaran dan ingin mencoba, membuat saya ingin menulis sesuatu dari apa yang saya kerjakan. Bukan sekedar dari apa yang saya khayalkan.

Lalu apa yang harus dilakukan orang agar tidak bosan menulis?

1. Cobalah hal baru.
Saya mencoba belajar menggambar kembali. Untuk mendapatkan sensasi baru. Dan itu ternyata bermanfaat untuk tulisan-tulisan saya.
Saya juga belajar memasak hal yang tadinya saya hindari. Berkumpul dengan oven dan adonan. Tapi ternyata ketika kemampuan memasak saya meningkat, kemampuan menambah manfaat dalam tulisan juga meningkat.
Sekarang saya bisa menulis tentang resep masakan, yang tentu saja hasilnya bisa dimanfaatkan dan dipraktikkan bagi pembacanya.

2. Targetmu Apa, sih?
Target dalam dunia menulis selalu saya punya.
Dulu target saya adalah bisa membuat orang percaya, bahwa puisi yang saya tulis bisa menghasilkan.
Lalu makin jauh, target saya ingin bisa sekolah dari uang menulis.
Setelah itu saya ingin punya ini itu dari hasil menulis.
Selanjutnya saya ingin bermanfaat dari menulis.
Selanjutnya saya ingin masuk surga dari menulis, dan pahala menulis saya bisa menjadi pahala ilmu yang bermanfaat untuk saya.
Punyai target. Itu akan membuat kita melihat bahwa menulis itu memiliki hasil nyata bukan abstrak.

3. Mimpimu Apa?
Mimpi mungkin bisa dibilang target, ya.
Tapi begini. Dulu pernah ada yang tanya pada saya. “Mau sampai kapan berhenti menulis?”
Waktu ditanya itu karya saya sudah ratusan jumlah di media cetak dan sudah memenangkan lomba-lomba.
Saya ingat, saya menjawab.
“Sampai bisa menghasilkan seratus buku, baru berhenti menulis.”
Sekarang kalau ditanya lagi, maka saya akan menjawab berbeda. Saya tidak akan berhenti menulis sampai Allah mencabut kemampuan menulis saya.

4. Kamu dan Komunitas
Kalau dalam komunitas, tingkat kemalasan satu anggota akan menular pada anggota lain.
Nah kalau pada akhirnya kita masuk dalam komunitas yang ngakunya komunitas menulis, tapi lebih banyak sharing keluhan atau sesuatu yang tidak bermanfaat, putuskan. Iya putuskan berhenti dari komunitas itu, atau tetap di dalamnya dan jadi dirimu. Ubahlah apa yang harusnya diubah.

5. Kita Punya Jalan Sendiri
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin dianggap pintar.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin jadi orang terkenal.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin punya banyak uang.
Macam-macam alasannya.
Tapi punyailah jalan sendiri, jangan jadi siapa-siapa.
Berjuang saja agar menulis itu menjadi kebutuhan kita, sehingga kita tetap punya prinsip dalam menulis.